Kaidah Cabang Pertama: Subtansi Harus Didahulukan

0
541

Kaidah induk yang berjumlah lima (qawaid al-asasiyah al-kubra) telah diulas tuntas dalam artikel-artikel sebelumnya. Sebagai kaidah induk, sebagaimana dipaparkan di awal, menaungi kaidah lain yang menjadi cabang.

Tulisan ini dan berikutnya akan mengulas kaidah-kaidah yang menjadi cabang dari kaidah induk tersebut. Dimulai dari cabang kaidah induk pertama yang berbunyi, al-umur bi maqashidiha (segala sesuatu tergantung pada tujuannya). Kaidah ini memiliki kaidah cabang yang berbunyi:

اَلْعِبْرَةُ فِي اْلعُقُوْدِ لِلْمَقَاصِدِ وَاْلمَعَانِيْ لاَ لِلأْلفَاظِ وَاْلمَبَانِيْ.

(al-ibrah fil ‘uqud lil-maqashid wal ma’ani la lil-alfadz wal mabani)

“Yang menjadi acuan dalam transaksi adalah tujuan dan substansinya, bukan ungkapan dan formatnya”

Kaidah ini menghendaki setiap transaksi yang terjadi dalam keseharian masyarakat yang diperhatikan dan menjadi acuan adalah tujuan dan substansi dari transaksi, bukan apa yang mereka ucapkan dalam ijab-qabul. Artinya, meskipun ungkapan yang mereka gunakan tidak sesuai dengan pengertian istilah yang digunakan dalam terminologi fikih, tetapi jika sudah maklum di antara mereka bahwa ungkapan itu dimaksudkan untuk menunjuk transaksi tertentu, maka transaksi yang terjadi itu sah sesuai maksud dan tujuan yang mereka pahami dalam keseharian. Misalnya ungkapan memberi dan mengambil yang digunakan dalam transaksi jual-beli (bai’), “aku ambil barangmu” dengan maksud “aku beli barangmu”. Contoh lain yang sangat familiar adalah ungkapan pinjam (i’arah) untuk maksud berhutang (qardl), “aku mau pinjam uangmu” dengan bermaksud “aku mau berhutang kepadamu”.

Untuk mendeteksi dan menilai tujuan/maksud (maqashid) dari suatu ungkapan dapat dipahami dengan dua cara: 

Pertama, ungkapan itu disertai indikasi-indikasi kebahasaan yang mengarah kepada tujuan dan substansi yang dikehendaki. Misalnya dalam transaksi jual-beli yang menggunakan kata mengambil disertai dengan menyebutkan besaran nominal tertentu, ”aku ambil baju yang ini 120 ribu ya”. Ungkapan 120 ribu menjadi indikator bahwa akad tadi dimaksudkan untuk transaksi jual-beli, meskipun tidak menggunakan kata ‘beli’ (isytaraitu), tetapi dengan kata ‘ambil’ (akhadztu).

Kedua, ungkapan yang memiliki maksud tersendiri dalam tradisi masyarakat. Ungkapan yang dikenal di kalangan masyarakt untuk maksud tertentu yang berbeda dengan makna kebahasaan (arti leterlek). Misalnya ungkapan daging hanya menunjuk pada makna daging sapi dan domba, bukan daging ikan. Ketika seseorang bersumpah tidak akan makan daging, maka dia dianggap tidak melanggar sumpahnya ketika makan daging ikan.

Hikmah kaidah dalam kehidupan sosial. Format dan tampilan tak sepenuhnya mewakili tujuan dan misi yang sebenarnya. Terkadang tampilan luar dihadirkan hanya untuk mengelabuhi target yang ingin dicapai. Tentu tidak boleh terburu-buru memutuskan dan menilai berdasarkan apa yang tampak. Lebih bijaksana jika dipelajari lebih mendalam untuk mengetahui tujuan dan motif yang sebenarnya.[]

Wallahu ‘alam