Kaidah Fikih Cabang Kelima: Menghargai Tradisi

0
1438
kaidah menghargai tradisi

Kaidah fikih cabang yang mengekor di bawah naungan kaidah induk kelima, yakni al-‘adah muhakkamah (Tradisi/urf dapat dijadikan pijakan hukum) cukup beragam. Di antaranya terdapat kaidah yang searti dengan kaidah induknya. Kaidah yang searti ini akan ditampilkan bersama kaidah cabang yang lain dalam satu bahasan.

Di antara kaidah cabang yang senada dengan kaidah induknya seperti berikut ini:

اِسْتِعْمَالُ النَّاسِ حُجَّةٌ يَجِبُ اْلعَمَلُ بِهَا.

(isti’malu al-nas hujjatun yajib al-‘amal biha)

“Penggunaan masyarakat merupakan hujah yang dapat diamalkan.”

Maksud kaidah ini bahwa tradisi yang sudah digunakan dalam pergaulan dan interaksi sehari-hari masyarakat dapat menjadi alasan (hujah) untuk memutuskan suatu hukum. Ini semakna dengan kaidah induknya, bahwa tradisi masyarakat dapat dijadikan pijakan hukum (al-‘adah muhakkamah).

Secara sederhana maksud dari kalimat ‘penggunaan masyarakat’ tidak lain adalah tradisi/kebiasaan, sehingga kaidah ini searti dengan kaidah induknya. Sebagian pendapat mengatakan bahwa isti’mal (penggunaan) adalah mengalihkan kata dari makna hakikat menuju makna majaz, kemudian makna majaz itulah yang lumrah digunakan dalam pergaulan sehari-hari.

Misal kata daging, secara makna hakikat mencakup semua jenis daging, mulai dari daging ikan sampai hewan ternak. Namun, dalam komunikasi sehari-hari daging hanya dikhusukan untuk hewan tertentu, yaitu kambing dan sapi. Sebenarnya dua pendapat di atas substansinya sama, perbedaannya hanya terletak pada lingkup dan cakupannya. Kalau adat lebih umum, sementara isti’mal lebih khusus.

Kaidah lain yang juga senada adalah sebagai berikut:

اَلحْقَيِْقَةُ تُتْرَكُ بِدَلاَلَةِ اْلعَادَةِ.

(al-haqiqah tutraku bi dalalati al-‘adah)

“Makna hakikat dapat diabaikan dikarenakan ada indikasi adat”

Kaidah ini juga memiliki maksud yang sama dengan kaidah, isti’malu al-nas hujjatun yajib al-‘amal biha. Makna hakikat dari sebuah ungkapan dapat diabaikan dan yang berlaku adalah makna yang sudah mentradisi dalam masyarakat, seperti kata daging yang sudah dijelaskan sebelumnya. Kaidah ini juga menjadi catatan dan membatasi kaidah cabang kedua, yaitu al-ashlu fi al-kalam al-haqiqah, pada dasarnya sebuah ungkapan diarahkan pada makna hakikat.

Aplikasi kaidah

Pak Hendra meminta bantuan temannya untuk menjemput barang di suatu tempat dengan menggunakan mobil milik Pak Hendra. Jika dalam perjalanan terjadi kerusakan terhadap mobil, maka untuk menentukan siapa yang bertanggung jawab terhadap kerusakan, dikembalikan kepada adat/kebiasaan mereka.

Kebolehan memungut buah yang jatuh dari pohonnya dan cepat membusuk disesuaikan dengan tradisi setempat. Jika tradisi di tempat itu membolehkan memungut tanpa seizin pemiliknya, maka tentu diperkenankan secara syar’i.

Hikmah kaidah dalam kehidupan. Pepatah mengatakan di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Artinya, di bumi manapun kita hidup jangan lupa pahami dan hargai tradisi yang berlaku di daerah itu. Tradisi mempunyai kekuatan legitimasi yang mengikat, barang siapa mengabaikan tradisi maka siap-siap akan dikucilkan dan diasingkan oleh masyarakatnya.

Wallahu ‘alam