Segala sesuatu dapat dipastikan selalu mengandung dua sisi, yaitu sisi negatif dan positif, sisi mafsadat dan maslahat, sisi mudarat dan manfaat. Dua kemungkinan ini mempunyai konsekuensi tersendiri.

Terkadang dua kemungkinan tersebut dapat berjalan seiring dan sehaluan. Dalam arti, ketika maslahat digapai sekaligus mafsadat menjadi terhindar. Namun, dalam kondisi tertentu dua hal tersebut kadang saling sikut, tarik menarik  dan kontradiktif.

Ketika hendak menggapai maslahat di satu sisi malah menimbulkan mafsadat di sisi yang lain. Kaidah fikih cabang ketiga berikut ini mencoba memberikan solusi atas kondisi kontradiktif tersebut:

دَرْءُ اْلمَفَاسِدِ أَوْلى مِنْ جَلْبِ اْلمَصَالِحِ.

 (dar al-mafasid aula min jalb al-mashalih)

“Mencegah mafsadat harus diutamakan daripada mendatangkan maslahat”

Ketika mafsadat dan maslahat saling berebut tempat, maka tindakan menghindari mafsadat harus diunggulkan, meskipun mengakibatkan terabainya suatu kemaslahatan. Sebab syariat Islam mempunyai perhatian lebih terhadap hal-hal yang dilarang (al-manhiyyat) dibandingkan perhatian yang diberikan terhadap hal-hal yang diperintahkan (al-ma’murat).

Tindakan menghindari merupakan bentuk konkrit dari sebuah larangan. Pemahaman ini berdasarkan hadis Nabi berikut:

مَانَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ وَمَاأَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوْا مِنْهُ مَااسْتَطَعْتُمْ.(رواه مسلم)

Artinya: “Apa-apa yang aku larang kepada kalian maka jauhilah, dan apa-apa yang aku perintahkan kepada kalian maka lakukanlah sesuai kemampuan kalian” (HR. Muslim).

Hadis ini memberikan pehaman bahwa segala sesuatu yang dilarang oleh agama tidak bisa dihindari setengah-setengah, harus total. Tetapi jika hal itu merupakan perintah maka lakukan semampunya.

Aplikasi kaidah: dilarang memperjual-belikan atau melakukan transaksi narkotika, walaupun mendatangkan manfaat laba yang melimpah dan bisnis yang menjanjikan, namun dampak yang ditimbulkan dari praktik ini sangatlah besar dan meluas, bahkan mengancam jiwa.

Menghilangkan sebagian anggota tubuh (baca: mengamputasi) diperkenankan untuk mencegah menjalarnya penyakit kencing manis yang mematikan. Maslahat yang didapat dari keberadaan tangan/kaki dikalahkan dengan mafsadat yang ditimbulkannya.

Sebuah rencana pembangunan proyek tentu mendatangkan manfaat finansial terhadap masyarakat setempat dan menyedot bayak tenaga kerja. Akan tetapi, perlu diperhatikan hasil amdal (analisis dampak lingkungan) dari berdirinya proyek tersebut. Jika hasil amdal menyebutkan akan mengakibatkan kerusakan dan pencemaran lingkungan yang mengancam eksistensi makhluk hidup dan keselamatan jiwa manusia di sekitarnya, maka rencana tersebut harus digagalkan.

Sejatinya memprioritaskan untuk mencegah dampak buruk bukan mencegah kemashlahatan, tetapi menangguhkannya. Mencegah dampak buruk pada esensinya adalah suatu kemaslahatan yang dirasakan pada akhirnya.

Hikmah kaidah dalam kehidupan. Setiap mau melangkah dan bertindak berpikirlah akibat negatif yang ditimbulkan, jangan hanya memikirkan positifnya saja, lupa sisi negatifnya, sehingga kurang tepat dan kurang jitu atau bahkan fatal dalam melangkah. []

Wallahu ‘alam