ludah sendiri
ludah sendiri

Kaidah Fikih: Menjilat Air Ludah Sendiri

Sebuah pepatah mengatakan air ludah yang sudah keluar tak mungkin dijilat kembali. Pepatah ini mengandung makna bahwa apa yang telah keluar dari mulut seseorang berupa ucapan tidak mungkin ditarik kembali dan dilakukan ralat. Tentu hukum ini berlaku terhadap ungkapan yang mengandung hak dan kewajiban yang terkait dengan dirinya dan orang lain. Apapun yang telah menjadi keputusan yang melibatkan kehadirannya, bahkan muncul dari inisiatif pribanya tidak mungkin untuk dilakukan revisi yang boleh jadi akan menguntungkan dirinya sendiri.

Tidak hanya soal hak dan kewajiban, sebuah komitmen yang telah terucap dari mulut seseorang jika dengan mudah berubah-ubah di kemudian hari, orang tersebut akan kehilangan kepercayaan (trust) dan dicap sebagai orang yang tidak punya pendirian alias plin-plan. Hukum yang timbul dari bunyi pepatah ini dapat diperluas cakupan maknanya. Tidak hanya yang berbentuk ungkapan, tetapi berlaku juga terhadap tindakan dan perilaku yang menunjukkan ketetapan dan pengakuan, sebagaimana bunyi kaidah fiqh berikut ini:

مَنْ سَعَى فِيْ نَقْضِ مَا تَمَّ مِنْ جِهَتِهِ فَسَعْيُهُ مَرْدُوْدٌ عَلَيْهِ.

(man sa’a fi naqdli ma tamma min jihatihi fasa’yuhu mardudun ‘alaihi)

Artinya: “Barang siapa berupaya membatalkan sesutau yang telah diselesaikannya, maka usahanya tertolak.”

Maksud kaidah ini bahwa seseorang yang telah menetapkan suatu perkara atas kemauan sendiri dan dilakukan secara sadar, kemudian ia berupaya dan bermaksud untuk membatalkannya, maka usaha pembatalan tersebut tidak bisa diterima dan secara otomatis tertolak. Sebab apa yang ia upayakan bertentangan dengan apa yang telah ia tetapkan sendiri dengan penuh kesadaran. Sedangkan tuntutan dan pengaduan yang saling bertentangan, di hadapan hukum tidak akan digubris.  (Muhammad Mushthafa al-Zuhaili, Al-Qawaid al-Fiqhiyyah wa Tathbiqatuha fi al-Mazahib al-Arba’ah (Beirut: Dar al-Fikr, Cet. III, 2009), 512).

Baca Juga:  Kaidah Cabang Pertama: Subtansi Harus Didahulukan

Aplikasi kaidah: Pak Iqbal yang pernah mengaku mempunyai tanggungan hutang kepada Pak Wildan mengklaim bahwa pengakuan tersebut keliru dan akan menarik pernyataannya, maka upaya ini tidak akan digubris dan dihukumi tidak sah. (Ahmad bin Syekh Muhammad al-Zarqa’, Syarh al-Qawaid al-Fiqhiyyah, (Damaskus: Dar al-Qalam, Cet. II, tt.), 475).

Salah seorang ahli waris dengan sigap mengkoordinir pembagian harta waris. Setelah pembagian selesai dan rampung, masing-masing ahli waris sudah memperoleh bagian yang menjadi haknya. Lalu koordinator tadi tiba-tiba mengklaim bahwa harta warisan yang telah rampung dibagikan ada sebagian harta adalah miliknya, bukan harta milik mendiang. Maka pengakuan ini tidak bisa diterima, karena berlawanan dengan apa yang telah ia lakukan sendiri. (Ibrahim Muhammad Mahmud al-Hariri, Al-Madkhal ila al-Qawaid al-Fiqhiyyah al-Kulliyah, hal. 164).

Hikmah kaidah dalam kehidupan: pikirkan secara matang sebelum melangkah, sekali melangkah jangan pantang mundur, agar tak terjangkit sifat plintat-plintut. Komitmen dan kepercayaan itu saling berkait kelindan, orang yang sulit berkomitmen akan susah mendapat kepercayaan.[]

Wallahu a’lam Bisshawab.

Bagikan Artikel ini:

About Zainol Huda

Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.

Check Also

fatwa

Memahami Fatwa (10): Syarat-Syarat Mujtahid

Artikel ini melanjutkan pembahasan sebelumnya tentang syarat-syarat mujtahid. Uraian sebelumnya telah mengulas syarat mujtahid yang …

fatwa

Memahami Fatwa (9): Syarat-syarat Mujtahid

Dalam beberapa artikel sebelumnya telah diulas tentang kriteria seorang mufti. Para ilmuwan Islam berpandangan bahwa …