Kaidah Perjanjian
Kaidah Perjanjian

Kaidah Fikih: Wajib Menjaga Komitmen

Dalam suatu ikatan transaksi kedua belah pihak yang terlibat dalam kontrak akad tak jarang mengajukan syarat dan kriteria tertentu yang mengiringi sebuah transaksi. Syarat-syarat tersebut tentu bertujuan untuk kemaslahatan bersama, agar di antara mereka dapat membangun komitmen dan trust.

Berbagai macam syarat dan kriteria senyampang tidak membentur aturan syariat, yakni menghalalkan yang haram atau mengharamakan yang halal bukanlah persoalan. Lalu bagaimana jika salah satu pihak melakukan pelanggaran dengan menyalahi komitmen yang telah dibangun dan disepakati bersama?

Kaidah ini hadir memberikan pondasi argumen hukum terhadap kasus di atas. Kaidah tersebut berbunyi:

يَلْزَمُ مُرَاعَاةُ الشَّرْطِ بِقَدْرِ اْلاِمْكَانِ.

 (Yalzamu mura’ah al-syarth bi qadr al-imkan)

Artinya: “Wajib menjaga dan mempertahankan syarat (yang disepakati) semaksimal mungkin.”

Maksud kaidah ini bahwa syarat dan kriteria yang sudah sepakati bersama harus dijaga dan dipertahankan sebagai sebuah komitmen bersama. Kewajiban menjaga dan mempertahankan komitmen ini didasarkan pada Hadis Nabi berikut ini:

الْمُسْلِمُونَ عِنْدَ شُرُوطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ شَرْطًا أَحَلَّ حَرَامًا.

Artinya: “Semua umat muslim bergantung terhadap syarat (yang disepakati) mereka, kecuali syarat yang mengharamkan barang halal, atau menghalalkan barang haram.” (Sunan Al-Baihaqi, No. 14820., Sunan Al-Dar Quthni, No. 2931).

Syarat dalam pembahasan ini berbeda dengan syarat dalam pembahsan ta’liq syarat pada kaidah sebelumnya. Syarat di sini merupakan catatan-catatan atau kriteria dari sesuatu yang sudah ada. Sementara ta’liq syarat menggantungkan sesuatu yang belum ada dan masih akan terjadi di masa mendatang.

Dalam kontreks ini syarat atau kriteria dapat dikategorikan ke dalam tiga macam. Pertama, kriteria yang diperbolehkan, yakni kriteria atau syarat yang sejalan dengan tujuan akad. Misalnya, syarat tentang kebolehan memilih barang, syarat seputar jual beli non-cas, syarat adanya jaminan, dan lain-lain. Seperti contoh tulisan-tulisan yang tertera di swalayan atau market, “untuk bahan kaos tidak boleh dicoba”, “memecahkan berarti membeli”, “penukaran boleh dilakukan dalam waktu 2 x 24 jam dengan menunjukkan nota”, dan sebagainya. 

Baca Juga:  Kenapa Dinamakan ‘Asyura, Ini Jawabannya

Kedua, syarat yang batal, yakni syarat yang dapat membatalkan transaksi. Termasuk dalam kriteria syarat macam ini adalah semua syarat yang bertentangan dengan tujuan akad. Misalnya, jual beli yang mensyaratkan mabi’ tidak boleh dimanfaatkan oleh pembeli. Hal ini jelas-jelas bertentangan dengan tujuan akad jual beli. Menjual smartphone dengan syarat tidak boleh digunakan untuk aplikasi WhatsAp dan Facebook.

Ketiga, syarat yang rusak (fasid), yakni kriteria yang tidak sampai membatalkan akad, tetapi dapat mencederai keberlangsungan akad. Syarat semacam ini diabaikan dan transaksi tetap sah. Misalnya, penjual sebidang tanah mensyaratkan kepada pembelinya agar tanah tidak dijual lagi kepada orang lain, maka syarat ini diabaikan. Seorang suami mau menikahi perempuan asalkan tidak ada mahar, syarat ini diabaikan dan si suami tetap wajib membayar mahar standar yang berlaku di daerahnya. Syarat fasid ini masih menjadi ajang perbedaan pendapat di kalangan ahli fikih (fuqaha’). Apakah membatalkan akad ataukah tidak. Lebih jelasnya merujuk langsung kasus perkasus dalam kajian fikih.

Aplikasi kaidah: Seorang bengkelelektronik menjual spareparts atau onderdil elektronik tertentu dan mensyaratkan kepada pembeli untuk onderdil tertentu harus ia yang memasang, tidak boleh bengkel lain, maka syarat semacam ini sah dan diperbolehkan. Oleh karena itu, bagi pembeli yang telah membeli onderdil di tempat tersebut harus benar-benar menjaga komitmen ini.

Hikmah kaidah dalam kehidupan: Sekecil apapun sebuah janji haruslah ditepati. Dalam kehidupan sosial orang yang sering ingkar janji dan tidak tepat waktu akan kehilangan trust. Orang yang kehilangan trust sulit dijadikan patner dalam kerjasamahal apapun. Ini tentu akan merugikan ruang gerak orang tersebut dalam berpatner dan menjalin kerjasama. Agama menganjurkan untuk selalu menepati janji, bahkan orang yang sering ingkar janji menjadi salah satu indikator munafik. []

Baca Juga:  Shalat di rumah, Perempuan Jadi Imam Tarawih, Bolehkah?

Wallahu a’lam Bisshawab.

Referensi primer:

Ibrahim Muhammad Mahmud al-Hariri, Ak-Madkhal ila al-Qawaid al-Fiqhiyyah al-Kulliyah, Dar ‘Imar, 1998.

Ahmad bin Syekh Muhammad al-Zarqa’, Syarh al-Qawaid al-Fiqhiyyah, Damasykus: Dar al-Qalam, 1989.

Muhammad Mushthafa al-Zuhaili, Al-Qawaid al-Fiqhiyyah wa Tathbiqatuha fi al-Mazahib al-Arba’, Beirut: Dar al-Fikr, 2009.

Bagikan Artikel

About Zainol Huda

Zainol Huda
Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.