nasehat abu bakar
abu bakar

Kebijakan Khalifah Abu Bakar Hadapi Para Penolak Zakat

Pasca Rasulullah Saw., wafat, sebagian umat Islam yang imannya kurang teguh, menjadi murtad kembali. Ada yang mengaku Nabi, ada juga yang menolak keras membayar zakat. Kelompok inilah yang membuat huru-hara sepeninggal Rasulullah Saw. Sebagai khalifah pertama, Abu Bakar memiliki peran besar dalam menumpas gerakan mereka. Bagaimana kebijakan Khalifah Abu Bakar hadapi para penolak zakat?

Zakat Dianggap Upeti

Kelompok yang menolak membayar zakat didorong oleh berbagai motif. Muhammad Husein Haikal dalam buku Biografi Abu Bakar As-Shiddiq menyebutkan bahwa di antara penyebab sebagian umat Islam enggan membayar zakat adalah karena merasa sayang terhadap harta benda yang dimiliki. Sebagian lainnya, menganggap bahwa zakat sama dengan upeti atau pembayaran pajak kepada pemerintahan Islam.

Mereka juga beranggapan bahwa setelah Rasulullah Saw., wafat, tidak ada lagi orang yang memiliki wewenang untuk mewajibkan membayar zakat. Mereka juga menganggap bahwa tidak ada seseorang pun yang berhak menjadi pemimpin setelah Rasulullah Saw. Berbagai latar belakang itulah yang menyebabkan mereka tidak mau tunduk kepada Khalifah Abu Bakar dan kebijakan-kebijakan yang dibuatnya.

Beberapa suku yang menolak membayar zakat di antaranya adalah suku Abes, Dzubyan, Kinanah, Ghatafan dan Fazarah. Mereka kemudian bergabung menggalang kekuatan dan bermarkas di dekat Kota Madinah. Tujuan mereka satu: menekan Khalifah Abu Bakar agar membebaskan mereka dari membayar zakat.

Sikap Tegas Abu Bakar

Mendengar sebagian umat Islam ada yang menolak membayar zakat, Khalifah Abu Bakar segera bertindak cepat. Ia lalu mengumpulkan para sahabat Nabi untuk diajak bermusyawarah. Dalam musyawarah tersebut dibahas bagaimana menghadapi para pembangkang yang menolak membayar zakat.

Pada musyawarah tersebut, ada dua kubu. Kubu pertama meminta atau mengusulkan Khalifah Abu Bakar agar tidak memerangi kaum pembangkang tersebut. Kubu pertama ini beranggapan bahwa kekuatan mereka bisa dijadikan pasukan tambahan umat Islam dalam menghadapi musuh.

Baca Juga:  Di Balik Kealiman Imam Malik bin Anas

Selain itu, kubu ini juga berpendapat bahwa pada kenyataannya kaum pembangkang tersebut masih beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka, mereka tidak layak untuk diperangi. Pendapat pertama ini dimotori oleh Umar bin Khathab dan sahabat lainnya.

Kubu kedua, dimotori oleh Khalifah Abu Bakar. Ia dengan tegas akan memerangi orang-orang yang menolak membayar zakat. Begini kata Abu Bakar:

“Demi Allah, seandainya mereka tetap menolak untuk memberikan zakat meskipun hanya seutas tali, aku akan bertekad memerangi mereka.”

Meskipun awalnya sempat menolak pendapat Abu Bakar, Umar akhirnya menyetujuinya. Ia berkata, “Demi Allah, aku tidak ragu-ragu lagi. Aku melihat bahwa Allah Swt., telah membukakan pintu hati Abu Bakar untuk berperang. Aku merasa yakin bahwa tindakannya itu benar.

Demikianlah musyawarah tersebut diakhiri dengan satu tindakan tegas: memerangi kaum pembangkang yang tidak mau membayar zakat. Walaupun demikian, Abu Bakar tidak serta merta langsung memerangi mereka.

Karim menyebut bahwa Abu Bakar memberikan pilihan kepada para pembangkang. Pertama, jika tunduk dan mau membayar zakat, mereka akan dimaafkan dan tidak akan diperangi. Pilihan pertama ini, menunjukkan sikap kearifan Abu Bakar. Kedua, jika tetap bersikeras menolak zakat, makan akan diperangi. Sementara pilihan kedua ini menunjukkan ketegasan sikap Abu Bakar.

Sebelas Pasukan

Dalam rangka memberikan pelajaran kepada para nabi palsu dan kelompok penolak zakat, Abu Bakar lalu membentuk sebelas pasukan dan menunjuk pemimpin masing-masing pasukan. Pemimpin sebelas pasukan tersebut di antaranya adalah Khalid bin Walid, Ikrimah bin Abu Jahal, Syurahbil bin Hasanah, al-Muhajir bin Abi Umayah, Khuzaifah bin Mihsan, Arfajah bin Hursimah, Suwaid bin Muqarrin, al-Ula bin al-Hadrami, Thuraifah bin Hajiz, Amr bin Ash dan Khalid bin Said.

Baca Juga:  Kontroversi Bangunkan Sahur, Inilah Potret 4 Cara Bangunkan Sahur Umat Islam Tempo Dulu

Kesebelas pemimpin tersebut, memimpin sebelas pasukan yang mendapatkan mandat dari Khalifah Abu Bakar menumpas para pembangkang. Kepada kesebelas pemimpin pasukan tersebut, Abu Bakar melarang mereka memerangi orang-orang yang mau tunduk dan kembali kepada Islam. Sejarah kemudian mencatat, kesebelas pasukan tersebut sukses menumpas para pembangkang yang murtad dan tidak mau membayar zakat.

Ketegasan Khalifah Abu Bakar tersebut kemudian berbuah manis. Pasca kemenangan pasukan utusan Khalifah Abu Bakar, kaum muslimin yang awalnya membangkang, berduyun-duyun kembali mau membayar zakat. Husein Haikal menyebut, awalnya Bani Tamim yang diawali tokohnya Shafwan dan Zibriqan. Kemudian disusul tokoh Bani Tha’I Adi ibn Hatim at-Thai.

Demikianlah kebijakan Abu Bakar dalam menghadapi para penolak zakat. Semoga bermanfaat.

Bagikan Artikel ini:

About Nur Rokhim

Avatar of Nur Rokhim
Mahasiswa Pasca Sarjana Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Kalijaga. Aktif di Majalah Bangkit PWNU DIY

Check Also

musa dan firaun

Kisah Nabi Musa dan Firaun: Adab Mengkritik Seorang Penguasa yang Sangat Dzalim

Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya …

makkah

Ketika Masjidil Haram Ditutup karena Wabah Melanda

Presiden Jokowi telah menetapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat mulai tanggal 3-20 Juli mendatang. …