bulan syaban 2
bulan syaban 2

Keistimewaan Bulan Sya’ban

Bulan Sya’ban merupakan salah satu bulan yang mempunyai keistimewaan dalam Islam. Bulan ini mengandung keberkahan dan beragam kebaikan serta terbukanya pintu taubat. Barang siapa yang melatih jiwanya di bulan ini dengan mengisi kebaikan-kebaikan dan ibadah maka berarti ia telah mempersiapkan diri menghadapi bulan Ramadlan dengan kebiasaan yang baik.

Dinamakan bulan Sya’ban dikarenakan berjubelnya keberkahan dan kebaikan di bulan ini. Ada yang mengatakan nama ini dipetik dari kata syi’b, artinyajalan menuju puncak gunung, yang berarti jalan  menuju kebaikan.

Beragam peristiwa dalam rekaman sejarah juga terjadi pada bulan yang berkah ini. Di bulan ini, tercatat peristiwa dari perintah Allah tentang perpindahan kiblat dari Baital Maqdis berubah ke arah Masjidil Haram, Ka’bah. Selain itu, bulan ini juga menjadi bulan pelaporan amal perbuatan manusia selama satu tahun, penentuan umur manusia, keutamaan berpuasa, dan masih banyak lagi peristiwa lain yang terjadi di bulan ini.

Di bulan ini terdapat malam yang agung dan penuh berkah, yaitu malam pertengahan bulan Sya’ban yang dikenal dengan istilah malam nishfu sya’ban. Imam Syafi’i berkata: sesungguhnya memanjatkan do’a akan terkabul pada lima malam, yakni malam Jum’at, malam Idul Fitri, malam Idul Adha, malam pertama bulan Rajab, dan malam pertengahan bulan Sya’ban (nishfu sya’ban).

Senada dengan itu, Atha’ bin Yasar berkata, tidak ada malam yang lebih utama—selain malam Lailatul Qadar—dari pada malam pertengahan bulan Sya’ban. Pada malam itu, Allah Swt turun ke langit bumi dengan membawa ampunan bagi seluruh hambaNya, kecuali orang yang menyekutukan-Nya atau orang yang saling membenci atau orang yang memutus tali silaturrahmi.

Dianjurkan untuk menghidupkan malam nishfu sya’ban dan mengisinya dengan membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan berdo’a dalam rangka mengharap siraman rahmat dari Allah. Rasulullah mewanti-wanti agar memperhatikan dan mengindahkan malam nishfu sya’ban dan mempersiapkan amal-amal shaleh di dalamnya sebagaimana hadis riwayat Ali bin Abi Thalib:

Baca Juga:  Kiat Menghilangkan Rasa Malas para Ulama

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا يَوْمَهَا. فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

“Jika sudah masuk malam nishfu Sya’ban, maka hidupkanlah malam-malamnya, berpuasalah pada harinya, sesungguhnya pada malam itu Allah turun ke langit dunia, lalu berfirman: adakah orang yang mau minta ampunan, Aku akan mengampuninya, adakah orang yang mau minta rejeki, Aku akan memberinya, adakah orang yang minta kesembuhan, Aku akan menyembuhkannya, adakah yang mau ini, adakah yang mau itu, (peristiwa ini terjadi) sejak matahari tenggelam hingga terbit fajar”.

Termasuk sunnah yang dianjurkan yaitu berpuasa di bulan ini. Namun, para ulama’ berpendapat bahwa berpuasa secara khusus pada hari pertengahan bulan Sya’ban merupakan perbuatan yang dilarang, kecuali bertepatan dengan kebiasaan puasa sebelumnya, seperti puasa Senin-Kamis atau puasa tanggal 13, 14, dan 15 dalam setiap bulan, atau karena melaksanakan puasa qadla’ dan puasa nadzar. Karena itulah, dianjurkan pada bulan ini memperbanyak amalan baik dengan berpuasa.

Hal ini sebagaimana meneladani Rasulullah yang memperbanyak puasa di bulan ini berdasarkan hadis Aisyah berikut ini:

وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ فِى شَهْرٍ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa selama satu bulan kecuali pada bulan Ramadlan, dan aku tidak pernah melihat beliau banyak berpuasa di bulan-bulan lain dibandingkan bulan Sya’ban”.

Rasulullah pernah ditanyakan tentang memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Beliau menjawab untuk menghormati datangnya bulan Ramadlan. Dengan demikian, posisi puasa di bulan Sya’ban layaknya shalat sunnah rawatib yang menyertai shalat wajib, di samping juga untuk melatih dan membiasakan puasa menghadapi bulan Ramadlan.[]

Bagikan Artikel ini:

About Zainol Huda

Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.

Check Also

fatwa

Memahami Fatwa (10): Syarat-Syarat Mujtahid

Artikel ini melanjutkan pembahasan sebelumnya tentang syarat-syarat mujtahid. Uraian sebelumnya telah mengulas syarat mujtahid yang …

fatwa

Memahami Fatwa (9): Syarat-syarat Mujtahid

Dalam beberapa artikel sebelumnya telah diulas tentang kriteria seorang mufti. Para ilmuwan Islam berpandangan bahwa …