Menguak Kemuliaan Bulan Rajab

0
1367
bulan rajab

Kemuliaan bulan Rajab tidak sepopuler Bulan Ramadhan. Namun begitu, Rajab dan bulan setelahnya, Sya’ban tetap menjadi gapura masuk utama Ramadan. Laksana sebuah bangunan rumah, pintu merupakan salah satu interior utama yang mampu menggambarkan segala penjuru ruang di dalamnya. Pintunya bagus, tentu suasana ruang di dalamnyapun indah.

Tak heran bila Rasulullah senantiasa memohon doa berkah saat memasuki Bulan Rajab. Sabdanya:

عن أنس ، قال : كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل رجب ، قال : ” اللهم بارك لنا في رجب ، وشعبان ، وبلغنا رمضان

Dari Anas berkata: Rasulullah bila memasuki bulan rajab, beliau berdoa: Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, sampaikan kami (kuatkan komitmen kami) pada bulan Ramadhan.  HR: al-Baihaqi: No 3644.

Hadits ini hendak memberikan isyarah, bahwa sukses dan gagalnya ibadah puasa di Bulan Ramadhan, ditentukan oleh bagaimana kita mempersiapkan diri, agar tidak kehilangan komitmen di bulan Ramadhan.

Syaikh Umar Ibn ‘Alwi Ibn Abi Bakar al-Kaf mengutip dawuh sebagian Ulama’ terkemuka, mengatakan, bahwa Rajab itu ibarat bulan tanam, sementara Sya’ban merupakan bulan siram, dan Ramadan adalah bulan panen. Tuhfah al-Ahbab, 237

Keterangan ini menyuguhkan sebuah sinopsis bahwa tidak akan ada kegiatan panen-memanen bila tidak ada tanaman dan tanaman tidak akan siap untuk dipanen bila tidak dilakukan siraman yang cukup dan memadai.

Maka dapat disimpulkan, cukuplah kemuliaan bulan Ramadhan untuk mengatakan Rajab memiliki kemuliaan.

Allah berfirman :

إنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدَّيْنُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram (mulia). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (QS. At-Taubah : 36)

Mayoritas ahli Tafsir  seperti Ibnu ‘arabi, al-Jashshash, Ibnu ‘Ajibah, al-Qurthubi, Al-Suyuthi, Ibnu Abbas al-Razi, Ibnu Katsir, al-Thabari, al-Nasafi, al-Baghawi, al-Qusyairi, al-Tasturi, al-Alusi, al-Zamahsyari, al-Qusyairi, al-Sinqithi, Thanthawi dan lain lain mengatakan bahwa Rajab salah satu dari empat bulan yang dimuliakan itu. Ahkam al-Qur’an, 4/280. 7/275, Bahr al-Madid, 3/101, al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, 8/132, al-Dar al-Mantsur, 6/354.

Nama-nama untuk Bulan Rajab

Imam Syarbini menuturkan bahwa, dalam tradisi Arab Kuno, nama bulan dalam hitungan kalender, mereka cocokkan dengan sirkulasi cuaca yang tengah terjadi. ‘Ramadhan’ misalnya, yang berarti sengatan terik matahari. Karena setiap tiba bulan ini selalu bertepatan dengan musim gugur, panas. Mughni al-Muhtaj, 5/160. Hawasyi al-Syarwani, Imam Syarwani, 3/371

Ibnu hajar al-‘Asqalani mengutip perkataan Ibn Dihyah mengatakan bahwa Rajab memiliki 16 nama. Pertama, Rajab (mulia), disebut Rajab karena tradisi Jahiliyyah memuliakan bulan ini. Kedua, Asham (tuli), karena di bulan Rajab tidak pernah didengar gemerincingnya senjata tajam. Ketiga, Ashab, disebut Ashab karena di bulan ini, dalam keyakinan Jahiliyyah, rahmat tertumpah ruah.

Keempat, Rajam, disebut bulan rajam karena syetan di pasung dan disiksa dengan dilempari batu di bulan ini. Kelima, Syahrul Haram. Keenam, Haram, karena kemuliaan bulan ini purbakala. Ketujuh, Muqim, karena kemuliaan bulan ini abadi. Kedelapan, Ma’la, karena bulan ini diposisikan lebih Tinggi dibanding bulan lainnya dalam tradisi Jahiliyyah.

Kesembilan, Fard, karena hanya bulan ini yang disebut terpisah dari pada bulan Dzul qa’dah, Dzul Hijjah dan Muharram. Kesepuluh, Mansal Al Assinah (Tanpa besi) berarti tak ada perang. Tak ada panah dan tombak besi. Kesebelas, Manshal al-Al. Keduabelas, Manza’ al-Assinnah. Ketiga belas, ‘Atirah, karena mereka orang orang Jahiliyyah menyembelih kurban di bulan ini.

Keempat belas, Al-Mubari (Bulan pembersihan) orang yang berperang bisa dihentikan. Tak ada penindasan dan kemunafikan di bulan ini. Kelima belas, Mu’asy’asy. Bulan yang melipatgandakan kebaikan. Keenam belas, Syahrullah. Tabyin al-‘Ajab Bi Ma Warada Fi Syahr Rajab, 21-22.

Amalan Mengisi Bulan Rajab

Tak dapat dipungkiri bahwa bulan Rajab adalah bulan mulia dan dimuliakan dan harus diisi dengan perbuatan perbuatan mulia. Antara lain, bisa dipahami dari QS al-taubah: 36. Kemuliaan bulan rajab ini tentu harus dimanfaatkan dengan berbagai amalan:

Pertama, tinggalkan perbuatan aniaya kepada diri sendiri termasuk keluarga dengan membiarkan diri dan keluarga  semakin dalam terjerumus ke dalam kemaksiatan.

Kedua, musnahkanlah ketergantungan kepada selain Allah (kesyirikan). Karena sesungguhnya tempat bergantung diri hanyalah kepada Allah semata.

Ketiga, isi bulan Rajab ini dengan ketaqwaan, seperti Berpuasa ala Rasulullah.

Sabda Rasulullah:

حدثنا عثمان بن حكيم الأنصاري ، قال : سألت سعيد بن جبير ، عن صوم رجب ونحن يومئذ في رجب فقال : سمعت ابن عباس رضي الله عنهما ، يقول : ” كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصوم حتى نقول : لا يفطر ، ويفطر حتى نقول : لا يصوم “

Utsman Ibn Hakim al-Anshari bercerita kepada kami seraya berkata: aku bertanya kepada Said Ibn Jubair tentang Puasa Rajab dan saat itu kami memang berada dalam bulan Rajab. Kemudian ia berkata: saya mendengan Ibnu Abbas berkata: Rasulullah melakukan Puasa (di Bulan Rajab) hingga kami tak pernah mendapatkan Rasul berbuka dan seakan Rasul tidak berpuasa.HR Muslim: 2034

Artinya hadits ini mengkisahkan betapa Rasul menyembunyikan puasa Rajabnya, khawatir umat menyangka puasa Rajab itu wajib. dan menampakkan semangat untuk melakukan taqarrub kepada Allah dengan berpuasa hingga didapatkan Rasulullah talk pernah berbuka puasa.