akidah asyariyah
akidah asyariyah

Kenapa Ada Tuduhan Sesat pada Madzhab Asy’ariyah?

Istilah aqidah tentunya bukan lagi hal asing dalam ajaran Islam. Setiap orang yang mengaku sebagai Muslim, harus memiliki aqidah yang benar terlebih dahulu. Untuk itu, penting bagi umat Muslim memahami seperti apa aqidah yang benar. Dalam organisasi keislaman Nahdhatul Ulama’ (NU) memutuskan akidah Asy’ariyyahlah sebagai pilihan jalan dalam memegang teguh akidah yang benar. Mengapa harus mengikuti Asy’ariyyah, siapakah sebenarnya Asy’ariyyah ???

Banyak orang yang tidak mengerti apa sebenarnya Madzhab Asy’ariyyah, siapa mereka dan bagimana metode pemikiran mereka dalam akidah, hingga Madzhab Asy’ariyyah oleh kelompok kelompok tertentu dicap madzhab sesat serta keluar dari agama. Lebih ekstrim lagi, ada sebagian kalangan yang tanpa ragu-ragu menilai pengikut madzhab Asy’ariyyah adalah kufur.

Ternyata, ketidakpahaman soal sosok Madzhab Asy’ariyyah menjadikan biang-pangkal kehancuran dan perpecahan di tubuh Ahlussunnah wa al-Jama’ah. Bahkan ada yang mendudukkan pengikut Asy’ariyyah disejajarkan dengan golongan yang sesat. Kami sungguh tidak tahu argumen mereka, bagaimana mungkin ahli iman dan termasuk golongan Ahlussunnah disejajarkan dengan kelompok sesat ? Na’udzubillah.

Dalam kitab al-Ghuluw, makalah Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki hal. 23 dalam dialog nasional ke-2 di Makkah Mukarramah, disebutkan bahwa tindakan anarkis dari sebuah kelompok yang selalu menyeru berjihad ternyata melakukan pembakaran kitab-kitab dan mausu’ah ilmiyyah (ensiklopedi) termasuk di antaranya adalah kitab Fath al-Bari syarah Shahih al-Bukhari karya al-Hafizh Ibnu Hajar hanya gara-gara beliau dituduh bermadzhab Asy’ari serta mengikuti jejak Asy’ariyyah dalam mentafsiri hadits-hadits sifat yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari.

Siapakah Asy’ariyyah sesungguhnya? Awalnya, Asy’ariyyah dinisbahkan secara personal kepada Abu Musa al-Asy’ari. Namun sejatinya, Asy’ariyyah adalah sebuah komunitas dari ulama-ulama legendaris Islam yang terdiri dari ahli hadits, ahli fiqh dan ahli tafsir.

Baca Juga:  Mengenang Jihad Santri untuk Kemerdekaan RI

Izzuddin bin Abdissalam mengatakan bahwa sesungguhnya akidah madzhab Asy’ari telah disepakati oleh seluruh ulama Syafi’iyyah, Malikiyyah, Hanafiyyah dan para petinggi ulama Hanbilah. Di antaranya adalah guru besar madzhab Malikiyyah yang hidup sezaman dengan Imam Asy’ari, yaitu Syaikh Abu Amr bin Hajib dan guru besar madzhab Hanafi, Jamaluddin al-Hushairi. Imam al-Khayali mengatakan dalam Hasyiyah Syarah al-Aqaid bahwa madzhab Asy’ariyyah adalah Ahlussunnah wa al-Jama’ah. Secara tidak langsung ingin mengatakan bahwa akidah Asy’ariyah adalah akidah yang benar. Ittihaf al-Sadah juz 2/7.

Bahkan Ibnu Taimiyyah dalam al-Fatawi 4/16 mengatakan tentang madzhab Asy’ariyyah:

“Adapun para ulama yang melaknat Imam-Imam Asy’ariyyah, maka sesungguhnya siapa yang melaknat mereka, maka harus di ta’zir (di beri hukuman) dan laknat tersebut kembali kepada pelaknatnya. Siapa yang melaknat seseorang yang tidak berhak di laknat, maka laknat akan mengenai dirinya sendiri. Ulama adalah penolong ilmu-ilmu agama dan Asy’ariyyah adalah penolong dasar-dasar agama (ushul ad-din)”

Fatwa Ibnu Taimiyyah tersebut disebutkan dan di tulis Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki dalam makalah dialognya, namun mendapat sanggahan dari Dr. Yusuf al-Ghanifaish (tercatat dalam makalah hal. 57), dikatakan bahwa, “Yang disebutkan oleh Dr. Muhammad al-Maliki, sebenarnya bukan perkataan Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah, akan tetapi perkataan Abu Muhammad al-Juwaini sebagaimana di sebutkan oleh Syaikh Ibnu Taimiyyah di dua halaman sebelumnya” Kemudian Sayyid Muhammad mengucapkan terima kasih dan memberikan tanggapan bahwa Syaikh Ibnu Taimiyyah sependapat dengan fatwa Abu Muhammad al-Juwaini . al-Ghuluw, 60.

Dari itu semua, jika pengikut madzhab Asy’ariyyah di anggap sebagai orang sesat, maka berapa ribu ulama Asy’ariyyah dan berapa juta muslimin yang menjadi korban penyesatan dan pengkufuran ? Lalu kenapa, mereka selalu mengutip pendapat Ibnu Hajar al-Asqalani, Ibnu Katsir, al-Qurthubi, ar-Razi, Ibnu Hibban dan lain-lain, yang padahal mereka semua dianggp sesat ?

Baca Juga:  Merayakan Hari Natal (Bagian 2)

Catatan : Adapun cerita yang menyebutkan bahwa Imam Haramain merujuk kembali pendapatnya tentang ilmu kalam sebagaimana ditulis oleh Khalid Abdurrahman Ekk dan ulama-ulama lain (madzhab Wahhabi) dalam catatan kitabnya, Dalail at-Tauhid karya Jamaluddin al-Qasimi, adalah palsu dan bohong sebagaimana di jelaskan oleh Ibnu as-Subki dalam Thabaqat asy-Syafi’iyyah biografi Imam Haramain. Begitu juga dengan Imam al-Ghazali.

Bagikan Artikel ini:

About Abdul Walid

Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo

Check Also

doa iftitah

Menyanggah Ustadz Adi Hidayat yang Berulah tentang Doa Iftitah

“iini wajjahtu itu, kalau Anda teliti kitab haditsnya, itu bukan doa iftitah, tapi doa setelah …

akhlak

Ciri Gagal Beragama : Mementingkan Iman dan Syariat, Mengabaikan Akhlak

Di negeri yang seratus persen menjalankan agama secara kontinu, namun ironis, Tindakan korupsi makin menjadi …