sayyidina ali
sayyidina ali

Keteladanan Ali bin Abi Thalib dalam Memaknai Harta

Salah satu yang menjadi misteri dalam hidup manusia adalah harta (rizki). Manusia tidak akan tahu berapa harta yang akan dimiliki, karena apapun yang dijalani manusia tak memastikan jumlah harta yang akan diraihnya. Manusia hanya sebatas usaha, sementara hasilnya mutlak di sisi Allah SWT. Makanya, memaknai harta sangat penting untuk menjadi refleksi sehingga manusia tak terjebak dalam kondisisi yang memilukan dirinya sendiri.

Alkisah, tidak seperti biasanya, hari itu Ali bin Abi Thalib pulang lebih sore menjelang Ashar. Fatimah binti Rasulullah menyambut kedatangan suaminya yang sehari suntuk mencari rezeki dengan sukacita. Siapa tahu Ali membawa uang lebih banyak karena kebutuhan di rumah makin besar.

Sesudah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah. “Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sepeser pun.” Fatimah menyahut sambil tersenyum, “Memang yang mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah Ta’ala.”

“Terima kasih,” jawab Ali. Matanya memberat lantaran istrinya begitu tawakal. Padahal, persediaan dapur sudah ludes sama sekali. Fatimah tidak menunjukkan sikap kecewa atau sedih. Ali lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan shalat berjamaah.

Sepulang dari shalat, di jalan ia dihentikan oleh seorang tua. “Maaf anak muda, betulkah engkau Ali anaknya Abu Thalib?” Áli menjawab heran. “Ya betul. Ada apa, Tuan?’” Orang tua itu merogoh kantungnya seraya menjawab, “Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar ongkosnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya.”

Dengan gembira Ali mengambil haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar. Tentu saja Fatimah sangat gembira memperoleh rezeki yang tidak disangka-sangka ketika Ali menceritakan kejadian itu. Dan, ia menyuruh membelanjakannya semua agar tidak pusing-pusing lagi merisaukan keperluan sehari-hari. Ali pun bergegas berangkat ke pasar. Sebelum masuk ke dalam pasar, ia melihat seorang fakir menadahkan tangan, “Siapakah yang mau mengutangkan hartanya untuk Allah, bersedekahlah kepada saya, seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan.”

Tanpa pikir panjang lebar, Ali memberikan seluruh uangnya kepada orang itu. Pada waktu ia pulang dan Fatimah keheranan melihat suaminya tidak membawa apa-apa, Ali menerangkan peristiwa yang baru saja dialaminya. Fatimah, masih dalam senyum, berkata, “Keputusan Kanda adalah yang juga akan saya lakukan seandainya saya yang mengalaminya. Lebih baik kita mengutangkan harta kepada Allah daripada bersifat bakhil yang dimurkai-Nya, dan menutup pintu surga buat kita.”

Refleksi di Masa Pandemi 

Kisah Sayyidina Ali bin Abi Thalib merupakan teladan sangat penting bagi kita semua dalam memaknai hakikat harta itu sendiri. Kondisi di tengah pandemi virus covid-19 yang tak pasti akhirnya ini meniscayakan kita semua untuk menilai harta yang kita butuhkan tiap saat.

Manusia diciptakan dengan nafsu dan hati nurani, di saat yang sama manusia mendapatkan karunia akal yang luar biasa. Akal manusia ini menjadi ukuran sangat menentukan, sehingga nafsu dan hati nurani bisa membentuk diri manusia menjadi sosok sempurna (al-insan al-kamil). Tentu saja, sempurna di sini adalah kondisi di mana manusia mampu menyeimbangkan diri di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kondisi pandemi ini, manusia dihadapkan dalam kesulitan dan kesempitan soal harta. Tapi jangan pesimis dulu. Simaklah kisah Sayyidina Ali di atas, bagaimana ia memaknai harta dengan begitu mudahnya. Harta bukanlah perkara yang menyulitkan hidup manusia, tapi justru memudahkannya dalam kehidupan sehari-hari.

KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) sering menegaskan bahwa untuk menjadi bahagia, manusia cukuplah dengan kenikmatan sujud yang bisa dijalaninya. Sujud itulah kenikmatan luar biasa yang dirasakan manusia. Kalau soal harta, semestinya manusia harus kembali kepada makna bahagia itu sendiri. Kalau sehari bisa makan kali itu sudah sangat bahagia, kenapa manusia justru mikir sehari makan 100 kali? Buktinya dalam sehari manusia seringkali ingin meraih harta sebanyak-banyaknya, padahal yang dimakan sehari hanya tiga kali.

Dengan pemaknaan bahagia yang demikian, manusia bisa mengikuti jejak Sayyidina Ali dalam menjalani hidup bahagia. Kalau ada harta, apalagi lebih, seyogyanya manusia membagikan hartanya kepada sesama yang sedang mengalami kesulitan di tengah pandemi.  Kebahagiaan dengan berbagi yang dijalani Sayyidina Ali inilah yang mesti terus dikabarkan dan disebarluaskan kepada semua anak manusia, sehingga kesulitan di tengah masa pandemi ini bisa menguatkan rasa persaudaraan dan persatuan sesama anak bangsa.

Hidup yang dijalani Sayyidina Ali itulah kebahagiaan sejati. Dengan begitu sederhanya memaknai harta, justru di situlah Sayyidina Ali membuka kejernihan batin manusia. Hidup seimbang dan terus menebarkan kebahagiaan kepada siapa saja. Laku hidup Sayyidina Ali ini tidak mudah, tapi laku inilah yang begitu indah kalau dijalankan bersama di tengah kesulitan yang terjadi dimana-mana.

Bukankah manusia lahir tanpa membawa harta benda? Kenapa manusia makin sempit pandangannya ketika diribetkan tentang harta?

Sayyidina Ali bin Abi Thalib menjadi sekelumit kisah kesejatian yang tak pernah padam cahayanya dalam menerangi kehidupan sepanjang masa. Wallahu A’lam.

Bagikan Artikel ini:

About Muhammadun

Avatar of Muhammadun