Ketika Nabi Mengajarkan Sahabat agar Tidak Menjadi “Sumbu Pendek”

0
1970
sumbu pendek

Sumbu pendek adalah istilah kepada orang yang mudah marah dan emosi tidak stabil. Melihat perbedaan sangat sensitif dan mudah terserang amarah. Lihat bagaimana Nabi mengajarkan kepada sahabat untuk menahan emosi.


Sedikit-dikit asal berbeda dikatakan sesat, kafir, laknat, dan umpatan yang lain. Sebenarnya ini umpatan emosi dan mengikuti hawa nafsu yang dibungkus dalam bahasa-bahasa agama. Kenapa tidak? Cara menyampaikan kebenaran itu mempunyai metode bukan asal amarah. Itulah pentingnya mengetahui metode dakwah dalam Qur’an dan Sunnah Nabi.

Nabi merupakan contoh yang sangat mulia dalam memberikan ajaran dan dakwah Islam. Sungguh santun dan lembut perangainya. Ditolak dakwahnya seperti persitiwa Thaif, Nabi justru mendoakan agar mereka mendapatkan hidayah dan petunjuk.

Karena Nabi sangat menyadari bahwa hak veto hidayah adalah Allah, sementara Nabi hanya memberikan peringatan dengan hikmah. Karenanya, Nabi Muhammad sangat menyadari bahwa mengajak orang lain membutuhkan pendekatan hati, bukan sekedar emosi, apalagi caci-maki.

Beragama dengan “sumbu pendek” kerap dipraktekkan oleh segelintir orang. Sedikit saja melihat perbedaan sudah sensitif dan mudah marah. Sedikit melihat yang menurutnya munkar dan maksiat sudah kebakaran jenggot. Sedikit berbeda pandangan mudah meledak.

Nabi dalam berdakwah mengajarkan untuk selalu bersabar dan tidak mudah meledak. Inilah yang beberapa kali Nabi contohkan kepada sahabatnya dalam beberapa kisah. Kisah ini patut direnungkan bagaimana Nabi mengajarkan untuk bersikap tenang dan lembut.

Diriwayatkan dari Abu Umamah r.a., “Seorang pemuda datang kepada Nabi yang meminta izin untuk berzina. Mendengar pengakuan pemuda tersebut, para sahabat yang di samping Nabi marah dan berteriak: Diam Kau!

Tetapi apa yang dilakukan Nabi? Nabi justru meminta sahabat agar pemuda tersebut mendekat. Pemuda itu mendekat kepada Rasulullah dan duduk di samping Nabi. Perhatikan! Nabi tidak memberikan ceramah keagamaan, tetapi hikmah dari ajaran agama.

Baca Juga:  Membaca Qur’an, Tetapi Dilaknat Qur’an, Koq Bisa?

Nabi menggambarkan jika zina itu menimpa saudara perempuannya dan ibunya. Kemudian Rasulullah meletakkan tangannya di pundak pemuda itu dan berkata, Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah hatinya dan jagalah kemaluannya. ‘Setelah peristiwa itu, sang pemuda yang suka jelalatan itu pun sudah bertaubat.” (HR. Ahmad).  

Kisah lain di mana Nabi memberikan suatu pelajaran tingkat tinggi bagi para sahabat yang kadang mengidap sumbu pendek. Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, “(Suatu hari) ada seorang suku Badui kencing di dalam masjid, para sahabat pun spontan naik pitam akan menghentikannya (mengusirnya), lalu Rasulullah saw. pun bersabda kepada mereka, “Biarkanlah ia dan siramkanlah di atas air kencingnya satu timba air atau seember air, karena sungguh kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus memberikan kesulitan.” (HR: Bukhari).

Tentu masih banyak kisah-kisah lain di mana selalu menyelesaikan dengan pendekatan yang sopan dan lemah lembut dan tidak mudah terbakar amarah. Nabi justru memberikan pelajaran bagi para sahabat untuk tidak mudah meledak-ledak.

Rasul sangat memahami para Sahabat yang sangat semangat menegakkan kebenaran. Namun, kadang mereka lupa cara menyampaikan kebenaran dengan baik. Rasul memberikan pelajaran dan metode langsung kepada para sahabat.

Beruntunglah para Sahabat yang langsung mendapat bimbingan Rasul ketika mendadak penuh amarah. Rasul selalu mengingatkan mereka untuk tidak mudah termakan emosi dan amarah. Rasul mengajari yang lain tetapi juga memberikan pelajaran penting kepada sahabatnya.

Lalu, bagaimana umat saat ini? Tidak ada lagi yang memperingatkan ketika umat sudah mengidap “sumbu pendek” yang mudah marah-marah dan meledak-ledak. Kepada ulama? kadang ulama pun dicaci-maki ketika dianggap berbeda pandangan.

Sungguh umat ini merindukan sosok Nabi yang bisa menahan emosi umat dan meredam sumbu pendek umat seperti Rasul mengajari dan membimbing para sahabat. Beruntunglah kita masih mendapatkan satu warisan kata indah dari Nabi : “Bukanlah orang yang kuat itu yang pandai bergulat, akan tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan jiwanya ketika marah” (HR. Bukhari dan Muslim).

Baca Juga:  Darurat Namimah dan Ghibah di Media Sosial

Hadist itu menjadi pengingat bagi umat saat ini dan bayangkan seolah-olah Rasulullah hadir di depan kita. Rasul menahan emosi dan menyuruh kita untuk selalu tenang menghadapi kondisi dan situasi.

Ya Rasul, Kami Rindu bimbinganmu dan kehadiranmu. Allahumma sholli ala Muhammad.

Tinggalkan Balasan