terorisme dalam pandangan fikih
kaidah fikih

Kewajiban Memerangi Terorisme dalam Pandangan Fikih

Terorisme dan radikalisme di Indonesia tumbuh subur bak jamur di musim penghujan. Keduanya sudah mewujud nyata, bukan bayang-bayang lagi. Namun banyak yang tidak percaya sekalipun buktinya nyata. Terorisme dan radikalisme seperti rayap yang menggerogoti kayu. Awalnya hanya luka kecil, namun lama-kelamaan kayu itu akan rapuh dan hancur jadi debu.

NKRI juga demikian, jika dibiarkan digerogoti oleh oleh “rayap radikalisme dan terorisme”, pada akhirnya nanti akan berderai seperti rapuhnya kayu setelah dimakan rayap. Rayap terorisme dan radikalisme memiliki cara yang sangat kompleks, yang paling berbahaya adalah doktrinasi paham radikal membawa nama agama karena mampu menyihir seseorang menjadi pembunuh.

Terorisme dan radikalisme apabila dipahami lebih dalam sama seperti gerakan separatisme atau pemberontakan terhadap NKRI. Hal ini diperkuat oleh kehadiran beberapa organisasi keagamaan berpaham radikal seperti gerakan penegakan khilafah di Indonesia.

Maka, memerangi mereka sejatinya merupakan kewajiban bagi umat Islam, demikian pula seluruh penduduk Indonesia. Bagi umat Islam, memerangi radikalisme dan terorisme sejatinya bukan hal baru, namun telah lama dibahas oleh para ulama fikih.

Dalam kitab al Bujairimi ‘ala al Khatib dan kitab Qolyubi wa ‘Umairoh dijelaskan. Memang dalam fikih klasik belum ada istilah sepadan untuk menghukumi terorisme. Namun, karakter gerakan kelompok teror dengan dimensi ancaman yang dimiliki sudah mendapatkan perhatian serius kalangan fuqaha’.

Fikih berbicara tentang buhgat atau pemberontakan. Dalam pandangan ini segala gerakan yang mengarah kepada pemberontakan boleh diperangi dengan tiga syarat.

Pertama, gerakan yang berpotensi dan mengarah kepada pemberontakan tersebut memiliki kekuatan yang signifikan berupa massa yang besar. Di samping itu, mereka juga memiliki seorang figur yang sangat mereka patuhi meskipun tidak diangkat melalui kesepakatan bersama.

Kedua, pembangkangan terhadap pemerintahan yang sah dilakukan secara nyata. Baik berupa ideologi yang bertentangan dengan ideologi negara maupun aksi-aksi fisik yang terang-terangan menentang pemerintah.

Ketiga, kelompok tersebut memiliki motivasi tertentu. Seperti motivasi politik, atau hendak memaksakan agama dan jika tidak tunduk maka harus dibunuh dll.

Sudah jelas, melawan dan memerangi kelompok teroris menjadi kewajiban kita semua sebagai bangsa Indonesia. Khusus untuk umat Islam, apabila gerakan radikalisme dan terorisme itu memakai nama agama Islam, maka memerangi mereka dengan sendirinya telah menjalankan dua kewajiban utama; yakni menjaga agama (hifdzu al Dien) dan membela tanah kelahiran.

Memerangi dan melawan radikalisme dan terorisme tidak selalu berarti perang fisik dan bersenjata. Memerangi dengan cara memperingatkan mereka supaya bertaubat, memberikan kepada mereka pemahaman agama yang benar dan langkah-langkah persuasif yang lain. Kalau dengan cara bijaksana (hikmah) mereka tetap membangkang, baru dengan kekuatan senjata.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo dan Bendahara Umum divisi Politik, Hukum dan Advokasi di PC Fatayat NU KKR

Check Also

gempa masa nabi

Gempa Masa Nabi dan Umar bin Khattab, Apakah karena Tidak Menerapkan Sistem Khilafah?

“NKRI diadzab dengan bencana (gempa) karena anti khilafah”, “khilafah adalah solusi segala problem umat dan …

istri

Fikih Politik Perempuan (3): Haruskah Istri Menaati Suami dalam Pilihan Politik?

Harus diakui, perempuan masih menjadi kelompok rentan di negeri ini dalam segala bidang, tak terkecuali …