Khutbah Jum’at, Lebih Baik Panjang atau Pendek?

0
1018
khutbah jumat

Wasiat khutbah yang sangat penting dan sering diulang-ulang adalah peningkatan ketakwaan. Namun, menjadi sangat sia-sia jika khutbah justru membosakan karena durasi yang terlalu panjang. Bagaimana seharusnya? Khutbah harus panjang atau pendek?


Khutbah Jum’at kadang bagi sebagian orang terasa membosakan. Di samping karena isinya yang tidak sesuai, pembawaan sang khotib yang membosakan dan terlebih durasinya yang terlalu lama. Khutbah panjang tidak mampu menambah ilmu dan keimanan, tetapi hanya menjadi hal yang sia-sia. Banyak khutbah yang ditinggal tidur oleh jamaah.

Memang menjadi persoalan tersendiri karena shalat Jumat di Indonesia dilaksanakan di sela-sela istirahat jam kerja. Mayoritas masyarakat tetap melakukan aktivitas kerja sebagaimana biasa. Mereka memanfaatkan waktu jam istirahat untuk shalat dan untuk makan sekaligus.

Khutbah yang teramat panjang menyisakan plus-minus tersendiri. Satu sisi khutbah Jum’at yang panjang memberikan kesempatan untuk duduk I’tikaf yang lebih lama di Masjid sambil mendengar dengan khusyuk khutbah yang dibaca oleh khatib. Namun, di sisi lain menyita waktu istirahat umat Islam yang hari itu masih bekerja untuk mencari nafkah keluarga yang tentu saja juga bentuk ibadah kepada Allah.

Maka untuk mencari solusi yang tepat, terlebih dahulu harus memahami variasi hukum tentang khutbah jum’at tersebut. Nabi bersabda, “Paling baiknya sesuatu adalah pertengahannya”. Bahasa gaulnya sedang-sedang saja. Dalam konteks khutbah jum’at, tidak terlalu panjang juga tidak terlalu singkat. Hal ini seperti penjelasan hadis, “Shalatnya Nabi sedang dan khutbahnya sedang.” (HR. Muslim dan Abu Daud).

Menyikapi hadis ini, Syekh Abu Tahyyib Syamsul Haq al-Azhim dalam kitab ‘Aun al-Ma’bud, mengatakan bahwa shalat dan khutbah Nabi Muhammad durasinya sedang, tidak terlalu panjang dan tidak pula teramat singkat. Hal ini menurutnya, agar manusia tidak bosan. Hadist ini pula menganjurkan meringkas khutbah, dan tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Baca Juga:  Ternyata Ada Manusia yang Lebih Kejam dari Fir’aun Bahkan Iblis, Siapa Dia?

Mengapa tidak dianjurkan memanjangkan khutbah? Padahal jamaah akan banyak mendengarkan siraman rohani? Sebab memanjangkan khutbah justru memberatkan kepada jamaah, terlebih jika mereka sedang tidak bersemangat atau masih harus menyelesaikan pekerjaan setelah Jumatan. 

Syekh Badruddin al-‘Aini di dalam kitabnya Syarh Abi Daud menjelaskan hal yang sama. Dalam pandangannya hadis di atas menunjukkan kesunahan meringankan khutbah dan shalat, sebab memanjangkan keduanya dapat memberatkan manusia, terlebih ketika mereka malas. Kesimpulan ini tidak bertentangan dengan hadis Nabi yang lain di mana Rasulullah menganjurkan untuk membaca khutbah dengan durasi waktu yang pendek. Sebab, yang dimaksud pendek dalam hadis tersebut perbandingannya adalah shalat jum’at.

Senada dengan Syekh Badruddin, Syekh Zakariyya al-Anshari dalam Asna al-Mathalib mengatakan bahwa hadis yang menganjurkan supaya khutbah jum’at dan shalat jum’at dilakukan dengan durasi waktu yang sedang tidak bertentangan dengan dengan hadis Imam Muslim lainnya yang menyatakan “panjangnya shalat laki-laki dan pendeknya khutbahnya merupakan tanda kepandaiannya, maka panjangkanlah shalat, pendekanlah khutbah.” Karena yang dimaksud dengan memendekan khutbah adalah memendekan dari shalat dan yang dimaksud memanjangkan shalat adalah memanjangkan dari khutbah.” Artinya, hadis inipun menganjurkan untuk membaca khutbah dan shalat jum’at dengan durasi yang sedang, tidak terlalu panjang dan tidak pula sangat singkat.

Mengenai standar “sedang” dalam khutbah tidak ada ukuran pasti. Hal ini disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Pada situasi dan kondisi tertentu khutbah boleh disampaikan dengan durasi waktu yang panjang, seperti saat menyampaikan banyak materi karena penting untuk diketahui jamaah. Misalnya materi tentang puasa. Dan pada saat yang lain, khutbah dibaca dengan materi yang singkat. Pada prinsipnya, khutbah disampaikan sesuai kebutuhan, tidak terlalu berlebihan yang dapat mengakibatkan kejenuhan, tidak pula terlalu singkat sehingga tidak dapat dipahami substansinya.

Baca Juga:  Hijrah Dan Nasionalisme

Syekh Ahmad bin Hamzah al-Ramli mengutip penjelasan Syekh al-Adzra’i dalam kitabnya Hasyiyah ‘Ala Asna al-Mathalib sebagai berikut “Al-Imam al-Adzra’i berkata, standar sedangnya khutbah berbeda-beda sesuai dengan kondisi dan waktu. Terkadang suatu kondisi menuntut menyampaikan khutbah dengan panjang lebar seperti himbauan berjihad saat musuh menyerang, larangan mengkonsumsi khamr, perbuatan nista, zina dan kezaliman di saat banyak orang melakukannya. Syekh al-Mawardi mengatakan hendaknya khatib tidak memanjangkan khutbah yang membosankan, dan tidak terlalu pendek yang dapat menyebabkan khutbah kehilangan substansinya.”

Setelah memperhatikan penjelasan di atas, maka hendaklah seorang khatib menghimpun khutbahnya dalam durasi yang tidak terlalu panjang. Sehingga khutbahnya singkat, padat dan mengena. Sedang dan tidak menghilangkan substansinya.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan pendeknya khutbah merupakan tanda ke dalaman fiqihnya.” (HR. Muslim)

Tinggalkan Balasan