Kisah Sahabat

Kisah Abu Thalhah: Sahabat Nabi yang Rela Menahan Lapar Demi Memuliakan Tamunya

Mengulik kisah sahabat Nabi mempunyai banyak manfaat. Salah satunya untuk meningkatkan kualitas iman dan tntu saja juga dapat menambah semangat kita untuk terus giat dalam beramal kebaikan.

Selain itu, dari kisah-kisah para sahabat Nabi, kita juga bisa mengambil sebuah hikmah dan inspirasi sebagai bekal yang baik untuk menapaki kehidupan di dunia ini agar hidup kita penuh dengan arti, mencapai suatu kebajikan di dalam hidup sesuai dengan tuntutan Allah.

Ada satu kisah yang sangat luar biasa. Adalah kisah Abu Thalhah, salah satu sahabat Nabi. Kisahnya sungguh syarat dengan nilai pendidikan batin dan sosial tinggi yang harus kita teladani.

Pada suatu hari, Nabi Muhammad Saw ketika berada di Masjid Nabi, beliau kedatangan seorang tamu (musafir). Pada waktu itu, kejadiannya tepat pada saat senja hari, menjelang waktu Magrib. Lalu tamu itu ikut menuaikan shalat Magrib dan Isya’ secara berjamaah.

Rasulullah sangat mafhum kondisi tamu itu. Tak lama pasca shalat jamaah Isya’, Rasulullah pun bertanya kepada para sahabat yang baru saja ikut shalat Isya’ berjamaah. Bahwa siapa diantara sahabat beliau yang sudi membawa musafir itu ke rumahnya.

Abu Thalhah pun dengan sigap menjawab pertanyaan Rasulullah, bahwa ia yang akan membawa tamu tersebut ke rumahnya (Abu Thalhah). Setiba di rumah, Abu Thalhah disambut oleh istrinya. Kemudian Abu Thalhah segera mengajak istrinya untuk segera menyiapkan hidangan untuk tamu itu.

Abu Thalhah terkejut karena mendapatkan informasi dari sitrinya bahwa persediaan makanan pada saat itu tinggal satu porsi saja—hanya cukup untu Abu Thalhah. Abu Thalhah beserta ustrinya tidak lantas berkecil hati. Mereka tetap berusaha memuliakan tamunya, meskipun dalam kesanggupan yang terbatas.

Baca Juga:  Jejak Khilafah dan Islamisasi Walisongo di Nusantara (Bagian 1)

Abdullah Karim Amrullah atau akrab disapa Buya Hamka dalam tafsirnya (Tafsir al-Azhar, 2015: 6) menjelaskan berkaitan dengan kisah di atas. Bahwa pada saat Abu Thalhah mengetahui bahwa persediaan makan yang berada di rumahnya terbatas, ia lantas teringat wahyu Allah yang baru saja ia dengar dari Nabi Muhammad, yakni surat Ali Imran ayat 92. Karena Abu Thalhah hendak mengamalkan ayat tersebut, maka Abu Thalhah segera mengatur strategi supaya tamunya tetap bisa menikmati hidangan.

Singkat cerita, Abu Thalhan beserta istrinya segera mengambil langkah mulia dan penuh pengorbanan. Setelah berbicara banyak dengan sang Istri, Abu Thalhah kemudian segera ke ruang utama untuk kembali bersama dengan tamunya. Thalhah pun lantas memanggil istrinya dan meminta untuk menyiapkan makan malam bersama.

Makanan sudah disajikan dengan baik oleh isti Abu Thalhah. Pada saat makan malam akan dimulai, tiba-tiba pelita (lampu) di rumah Abu Thalhah padam. Pemadaman ini ternyata bukan karena kehabisan bahan bakar, melainkan termasuk strategi yang telah diatur sedemikian rupa oleh Abu Thalhah dan istrinya.

Abu Thalhah segera menyodorkan makanan yang tinggal satu porsi itu untuk tamunya. Sementara dalam keadaan gelap, Abu Thalhah pura-pura memegang piring dan melakukan beberapa gerakan yang seolah ia telah ikut makan malam seperti tamunya, kedengaran mulutnya mengunyah-ngunyah. Padahal, piring yang diambil Abu Thalhah kosong, alias tidak diisi secuil pun makanan itu karena seluruh hidangan diberikan kepada tamunya. Tamunya pun sangat menikmati hidangan yang disajikan oleh Abu Thalhah dan sitrinya.

Segera setelah makan malam usai, Abu Thalhah lantas mengantarkan tamunya itu untuk beristirahat sebagaimana kamar yang telah disediakan. Hingga malam berlalu, sang tamu tidak mengetahui aksi mulia Abu Thalhah. Bahkan hingga pagi tiba, Abu Thalhah tidak makan.

Baca Juga:  Silaturahmi Tidak Kenal Batas dan Identitas: Pelajaran dari Asma binti Abu Bakar

Waktu shubuh tiba, Abu Thalhah membangunkan tamunya dan bersama-sama pergi menuju masjid untuk menunaikan shalat subuh berjamaah. Dari kejadian itu, Allah mewahyukan sebuah ayat yang terdapat dalam Surah al-Hasyr ayat 9.

وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلْإِيمَٰنَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِى صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ أُوتُوا۟ وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.”

Setelah sampai di masjid, Abu Thalhah bertemulah dia dengan Rasulullah Saw. Tentu saja kejadian tadi malam tidak diceritakan kepada Rasulullah. Bahkan Abu Thalhah tetap menunjukkan sikap dan gerak yang biasa, tidak seperti orang yang menahan lapar.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Avatar
Penulis Buku Konsep Khilafah dalam Alquran Perspektif Ahmadiyah dan Hizb Tahrir