Cinta Beda Agama
Cinta Beda Agama

Kisah Cinta Beda Agama Zainab Putri Nabi dan Abul ‘Ash

Zainab adalah putri sulung Rasulullah dengan Khadijah. Di kemudian hari ia digelari Zainab al Kubra. Zainab memiliki wajah yang cantik jelita, lembut dan taat. Tak heran kalau banyak pemuda Quraisy yang akan melamarnya. Salah satunya adalah Abul ‘Ash. Pemuda terpandang di Makkah keturunan saudagar kaya raya. Halah binti Khuwailid bibi Zainab yang juga saudara Siti Khadijah istri Nabi, meminang Zainab untuk putranya, Abil Ash bin Rabi.

Selain diasuh oleh ibunya, Abul ‘Ash juga diasuh oleh Khadijah layaknya putranya sendiri. Ia diberi kebebasan keluar masuk rumah Rasulullah seperti rumah sendiri. Karena itu, sejak kecil ia bergaul dengan Zainab putri Rasulullah seperti saudara kandung sendiri.

Sebab kedekatan inilah, pinangan Abil Ash diterima Zainab dengan suka cita, juga Rasulullah dan Khadijah. Pesta Pernikahan digelar. Seluruh penjuru Makkah berbahagia atas bersatunya pasangan yang sangat serasi ini. Selesai acara pesta pernikahan, Khadijah memberi hadiah kalung yang biasa dipakainya kepada Zainab sebagai hadiah perkawinan. Sejak itu Zainab tinggal di rumah suaminya.

Perkawinan yang berlangsung sebelum turun wahyu kepada Rasulullah berjalan harmonis dan romantis. Akan tetapi, saat Nabi diangkat rasul terakhir, romantisme itu teruji. Setelah turun wahyu pertama, Zainab tanpa ragu memeluk agama Islam yang dibumikan lewat orang tuanya, Nabi Muhammad. Namun tidak demikian dengan Abil Ash, ia masih bersikukuh dengan agama nenek moyangnya. Cinta keduanya diuji oleh kekuatan yang lebih kuat dari cinta. Beda agama memaksa memisahkan antara keduanya.

Puncaknya terjadi pada saat kepulangan Abil Ash pasca menjadi tawanan perang Badr  kala turun QS Al-Mumtahanah 60:10 dan Al-Baqarah 2:221 yang melarang wanita muslimah hidup bersama sebagai suami istri dengan pria kafir. Cinta keduanya lalu dipisahkan oleh faktor beda agama karena Abil Ash tidak bersedia memeluk agama Islam.

Saat pasukan kafir Quraisy dan Muslim bertemu di lembah Badr, Abil Ash suami Zainab menantu Rasulullah merupakan salah satu orang yang berada dalam barisan kafir Quraisy. Ia memerangi dan melawan  pasukan yang dipimpin oleh mertuanya sendiri. Hingga akhirnya sejarah mencatat, pasukan Muslim yang sedikit jumlahnya itu berhasil memenangi peperangan dibukit badar.

Banyak dari kafir Quraisy yang kehilangan nyawa, sementara sisanya menjadi tawanan. Abil Ash saat itu masuk dalam salah satu daftar tawanan. Ia digiring menuju kota Madinah. Keluarga para tawanan dari kota  Makkah pun berbondong-bondong mengirimkan tebusan pada Rasulullah, salah satunya datang dari Zainab putri Rasulullah. Ia mengirimkan sebuah kalung hadiah perkawinan pemberian sang Ibu untuk menebus suaminya.

Baca Juga:  Mengenang Hijrah: Strategi Ilahi untuk Menyelematkan Umat

Melihat kalung itu Rasulullah mengingat putrinya Zainab dan hati Rasulullah gerimis. Seketika wajah Khadijah hadir di depan matanya. Rasulullah tidak sampai hati. Beliau berkata, “Jika kalian tidak keberatan melepaskan tawanan (Abil Ash) dan mengembalikan harta miliknya, maka lakukanlah.” Mereka menjawab, “Baiklah, wahai Rasulullah.”

Abil Ash pun dibebaskan. Sejak saat itulah ia berjanji pada sang mertua untuk membebaskan Zainab dan mengembalikan kepada beliau ke Madinah. Abil Ash pun pulang ke Makkah bersama kalung yang tadi dikirimkan sang istri. Namun ia tahu betapa cinta dan kesetiaan Zainab tidak pernah berkurang untuknya, meski agama menjadi tembok pemisahnya.

Begitu sampai di rumah, Abil Ash mengucapkan terimakasih pada sang istri. Dan  ia pun berkata, “Kembalilah kepada ayahmu, wahai Zainab.” Ucapnya sambil berusaha berbesar hati. Pada hari yang telah ditetapkan, Zaid bin Haritsah bersama seorang lelaki Anshar diutus Rasulullah untuk menjemput Zainab di pinggiran dusun di luar kota Makkah.

Abil Ash tidak kuasa menahan buliran air matanya meskipun mencoba menahannya tangisnya lepas saat melepaskan kepergian sang istri. Bagaimana mungkin dia mampu melepaskan orang yang dicintainya, sedangkan dia mengetahui bahwa, itu merupakan perpisahan terakhir selama kekuasaan agama ini berdiri di antara kedua hati dan masing-masing berpegang pada agamanya. Yang membuatnya lebih sedih lagi, ia tidak bisa mengantarkan sendiri  Zainab keluar kota Makkah karena keadaan pasca perang saat itu.

Abil Ash pun mengutus saudaranya, Kinanah bin Rabi, untuk mengantarkan Zainab. Ia berpesan, “Hai, Saudaraku, tentulah engkau mengetahui kedudukan Zainab dalam jiwaku. Aku tidak menginginkan seorang wanita Quraisy yang menemaninya keluar kota Makkah, dan engkau tentu tahu bahwa aku tidak sanggup membiarkannya berjalan sendirian. Maka temanilah dia menuju tepi dusun, di mana telah menungggu dua utusan Muhammad. Perlakukanlah dia dengan lemah lembut dalam perjalanan dan perhatikanlah dia sebagaimana engkau memperhatikan wanita-wanita terpelihara. Lindungilah dia dengan panahmu hingga anak panah yang penghabisan.”

Rupanya perjalanan Kinanah membawa Zainab tidaklah begitu berjalan mulus, karena kafir Quraisy selalu menghalangi. Ketika Zainab berada di punggung unta, Hubar bin Aswad Al-Asadi menusuk perut unta dengan lembing, hingga Zainab terlempar jatuh dan mengeluarkan darah. Zainab yang saat itu sedang hamil Janinnya telah gugur di atas gurun pasir. Tapi ketabahan dan kemantapan hatinya yang dilandasi iman serta Islam, membuat keberaniannya semakin membara, hingga tetap mantap hijrah ke Madinah. Setelah melewati beberapa hambatan, Kinanah berhasil membawa Zainab pada waktu malam, lalu menyerahkannya kepada Zaid bin Haritsah dan temannya. Keduanya pergi mengantarkan Zainab kepada Rasulullah.

Baca Juga:  Kisah Raibnya Sumur Zam Zam

Berpisahlah Zainab dengan suami tercinta dan kedua buah hatinya. Cinta Abil Ash dan Zainab benar-benar diuji. Tidak ada lagi jalan untuk bertemu. Abil Ash tetap tinggal di Makkah. Ia selalu murung dan menyendiri karena sang belahan jiwa tidak lagi ada di sisinya. Zainab pun tinggal di Madinah bersama sang ayah. Ia jadi sering sakit-sakitan karena cinta dan kerinduan yang sangat dalam. Kalau saja bukan karena iman dan takwa yang menguatkan tekadnya, tentu ia akan tetap bersama Abil Ash hingga ajal yang memisahkan.

Namun, apa yang tidak mungkin Allah bisa melakukan jika Dia berkehendak, apalagi hanya menyatukan dua insan yang terpisah. Hari berlalu minggu berganti bulan, bulanpun berganti tahun. Suatu hari Abil Ash keluar bersama kafilah dagangnya menuju Syam. Saat perjalanan pulang dia berjumpa pasukan Rasulullah yang berhasil merampas hartanya, syukur mereka tidak membunuhnya. Kini Abil Ash tidak punya apa-apa lagi. Bukan hartanya saja yang ludes, melainkan juga harta yang dititipkan orang-orang padanya. Bagaimana ia bisa sanggup kembali ke Makkah?

Di tengah keputus asaan itu, Abil Ash teringat Zainab, wanita yang begitu mencintai dan setia padanya. Maka diputuskan pada suatu malam Abil Ash memasuki Madinah dengan sembunyi-sembunyi. Ia berhasil bertemu Zainab dan segera mengemukakan maksud kedatangannya, bahwa ia ingin meminta bantuan Zainab untuk melindunginya, dan jika bisa, ia juga berharap hartanya bisa dikembalikan. Cinta di hati Zainab masih tersimpan rapi untuk Abil Ash, sebab itu pula ia bersedia melindungi lelaki tersebut. Ketika masyarakat Madinah mengetahui keberadaan Abil Ash di Masjid, mereka segera berkerumun dan berniat untuk menangkapnya. Tapi kemudian Zainab berseru, “Hai, orang-orang, aku telah melindungi Abil Ash bin Rabi. Dia dalam lindungan dan jaminanku.”

Rasulullah yang sedang salat menyelesaikan salatnya, beliau segera menemui orang banyak dan bersabda: “Wahai, orang-orang, apakah kalian tidak mendengar apa yang aku dengar? Sesungguhnya serendah-rendah seorang Muslim, mereka tetap dapat memberi perlindungan.” Kemudian beliau masuk menemui putrinya. Zainab berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya jika Abil Ash ini dianggap keluarga dekat, ia masih putra paman. Jika dianggap jauh, ia bapak dari anakku, dan aku telah melindunginya.”

Rasulullah kemudian berpesan,”Wahai, putriku, muliakanlah tempatnya dan jangan sampai dia menyentuhmu, karena engkau tidak halal baginya selama dia masih musyrik.” Meski begitu, Nabi tetap terkesan melihat kesetiaan putrinya kepada suami yang ditinggalkan. Singkat cerita berdasarkan permohonan secara halus oleh Rasulullah, harta Abil Ash bisa dikembalikan. Beberapa orang di antara para perampas berkata, “Hai, Abil Ash, maukah engkau masuk Islam dan mengambil harta benda ini, karena semua ini milik orang-orang musyrik?”

Baca Juga:  Paganisme Arab dan Cara Rasulullah Mengembalikan Khittah Teologis Arab

Tanpa ragu Abul ‘Ash menjawab  “Sungguh buruk awal Islamku, jika aku mengkhianati amanat yang dipercayakan padaku.” Namun saat itu benih-benih iman sudah tumbuh subur di hati Abil Ash. Mereka pun tetap mengembalikan harta itu kepada Abil Ash demi kemuliaan Rasulullah dan sebagai penghormatan kepada Zainab. Abil Ash  pun kembali ke Mekkah dengan membawa hartanya dan harta orang-orang  yang telah diamanahkan padanya.

Setelah mengembalikan harta kepada pemiliknya masing-masing, Abil Ash berdiri dan berkata, “Wahai, kaum Quraisy, apakah masih ada harta seseorang di antara kalian padaku?” Mereka menjawab, “Tidak. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Kami telah mendapati kamu seorang yang jujur dan mulia.”

Abul ‘Ash berkata, “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Demi Allah, tiada yang menghalangi aku masuk Islam di hadapan Muhammad, kecuali karena aku khawatir mereka menyangka aku ingin makan harta kalian. Setelah Allah menyampaikannya kepada kalian dan aku selesai membagikannya, maka aku masuk Islam.”

Takdir Allah dan skenarionya memang lebih Indah untuk Zainab dan Abul ‘Ash. Sebuah keluarga yang pernah berpisah selama 6 tahun itu akhirnya kembali bersatu dalam satu atap rumah tangga bersama anak-anak mereka. Mereka kini tinggal dalam satu atap, satu iman dan satu perjuangan dalam Islam. Sayang, suasana bahagia itu tidak berlangsung lama. Zainab meninggal mendahului suaminya, setahun setelah kembali berkumpul dalam satu atap rumah tangga dengan suaminya. Zainab meninggal dunia pada tahun 8 Hijriah dan Rasulullah sangat sedih atas kepergian puterinya Zainab. Rasulullah sendiri turun ke dalam kuburan di saat pemakaman.

Zainab meninggal dunia setelah meninggalkan kenangan terbaik. Dia telah menjadi contoh terbaik, uswah dalam hal kesetiaan seorang isteri, keikhlasan cinta dan kebenaran iman. Tidaklah mengherankan apabila suaminya berkata dalam suatu perjalanan ke Syam, “Puteri Al-Amiin, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan dan setiap suami akan memuji sesuai dengan yang diketahuinya.” Rasulullah bersabda mengenai Zainab, “Sesungguhnya ia adalah sebaik-baiknya anakku dalam menerima musibah.”

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Khotibul Umam

Avatar
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri