Kisah Cinta yang Tak Mengenal Rupa dan Kasta dari Sahabat Rasulullah

0
1140
cinta islami

Hari Valentine yang berarti hari kasih sayang memang tidak ada habisnya untuk dibahas. Pengharaman pun selalu menghiasi perdebatan setiap tahun. Namun, sedikit tidak ingin terjebak pada persoalan furu’ yang khilafiyah tersebut sebenarnya menarik untuk menghimpun kisah-kisah cinta dalam Islam.

Cinta kadang tidak mengenal kasta dan rupa. Dengan cinta semuanya menjadi berharga. Cinta adalah semangat yang menjadikan yang berbeda menjadi setara. Dan yang terhina menjadi mulia. Inilah kisah cinta dari sahabat Rasul yang memberikan inspirasi bagi kita semua.

Adalah Julaibib, salah seorang sahabat yang dihatinya tertanam cinta yang mendalam kepada Rasulullah. Sejak kecil ia telah memiliki cintanya kala memandang Rasulullah. Julaibib terlahir sebagai orang yang buruk rupa. Wajahnya jelek, kulitnya hitam legam, berpostur pendek dan bungkuk. Nasabnya tidak diketahui secara persis.  

Tetapi Allah Maha Adil. Di tengah keterasingannya, karena kebanyakan masyarakat Madinah enggan bergaul dengannya, yang Maha Agung mengangkat derajatnya melalui Rasulullah. Kecintaannya kepada Nabi bernilai istimewa.

Sahabat sejati ini kemudian mendapat tawaran dari Rasulullah untuk menikah. Antara percaya dan tidak, ia menanggapi dingin hal ini. Ada rasa tidak percaya diri melingkupinya. Mungkinkah ada yang mau menikah dengan dirinya, seorang yang buruk rupa dan tanpa kasta dengan segala kekurangan yang ada.

Manusia Beda Kasta tapi Satu Cinta

Ternyata Rasulullah serius untuk mencarikan jodoh buatnya. Tersebutlah seorang gadis dengan paras cantik jelita dilamar beliau untuk Julaibib. Kepada ayah gadis tersebut lamaran disampaikan.

Ketika ayah gadis menyampaikan perihal lamaran kepada istrinya, sontak saja terkejut bukan main. Hal ini tidak lain karena calon suami anaknya adalah Julaibib pemuda buruk rupa yang miskin. Kedua orang gadis cantik tersebut bermaksud menghadap Rasulullah untuk menyampaikan penolakannya terhadap pinangan putrinya untuk Julaibib.

Baca Juga:  Keistimewaan Bulan Sya’ban

Percakapan kedua orang tuanya ternyata didengar oleh gadis yang memiliki rupa jelita itu. Setelah mengetahui siapa yang menyampaikan lamaran Julaibib kepadanya bahwa Rasulullah meminang dirinya untuk Julaibib, seketika ia langsung berucap; “Demi Allah, saya tunduk dan patuh kepada perintah Rasulullah, apapun yang diperintah beliau pasti akan membawa kebaikan dan tidak akan membawa kehancuran dan kerugian.”

Gadis itu lalu membaca ayat:  “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (al Ahzab; 36)

Dua insan yang sama-sama cinta kepada Rasulullah menyatu dalam ikatan cinta yang abadi. Bukan hal yang mudah bagi wanita yang cantik rupawan menerima lamaran seorang lelaki miskin yang buruk rupa menjadi pendamping hidupnya. Kalau tidak karena cintanya kepada Rasululullah dengan keyakinan bahwa Nabi Muhammad tidak akan pernah menggiring umatnya memasuki lembah keterpurukan.

Malam Pertama Bersama Bidadari

Berlangsunglah pernikahan dua manusia beda kasta, tapi satu cinta. Malam pertama yang menjadi idaman semua insan yang saling menyinta telah tiba. Bulan madu yang tentu sangat indah akan dirasakan oleh Julaibib bersama istrinya.

Akan tetapi, sebelum merengkuh kenikmatan duniawi tersebut, ada panggilan Jihad dari Rasulullah. Serta merta Julaibib pamit dan minta restu istrinya berjihad di jalan Allah. Istrinya merelakan dan mengantar keberangkatannya. Tanpa rasa gentar Julaibib berangkat ke medan laga.

Setelah perang usai, Rasulullah bertanya kepada sahabatnya tentang keberadaan Julaibib. Setelah para sahabat memeriksa korban perang, dijumpainya Julaibib telah syahid. Takdir Allah berbicara lain, malam pertama di dunia tak sempat dinikmati, namun Allah melunasi malam pertama Julaibib bersama bidadari-bidadari surga yang kenikmatannya tiada tara.

Baca Juga:  Mengenal Perangkap Syaitan Di Era Digital

Khusus untuk persiapan pemakaman Julaibib, Rasulullah sendiri yang menggali lubang makamnya. Beliau dengan tangannya sendiri menyambut jenazah sahabatnya ini ke dalam liang lahat, serta membaringkannya dengan cucuran air mata.

Begitu harunya. Rasulullah kemudian berdoa: “Ya Allah, dia adalah bagian diriku, dan Aku adalah bagian dari dirinya”

Ingatlah takwa di atas segalanya. Allah tidak memandang rupa, bentuk, harta  dan segala keindahan dunia, tetapi Allah menilai cinta dalam wujud ketakwaan. Yang paling mulia disisi Allah adalah yang paling bertakwa.

Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan