idul fitri
idul fitri

Kisah Cucu Rasulullah yang Tidak Memiliki Baju Baru Untuk Lebaran

Pakaian baru memang identik dengan lebaran. Tidak sempurna rasanya apabila pada saat hari raya Idul Fitri tanpa busana baru. Tidak hanya anak-anak, orang tua pun demikian.

Walaupun hari raya Idul Fitri sejatinya bukan soal pakaian baru. Namun sebagai momentum kemenangan setelah sebulan berpuasa. Hari lebaran bukan ajang menyiapkan makanan mewah dan busana serba mewah, melainkan untuk mempraktekkan nilai-nilai Ramadhan. Menahan diri dari amarah, mengekang hawa nafsu, berbagi dan menjadi pribadi yang bertakwa.

Akan tetapi, karena busana baru sudah menjadi tradisi, alangkah baiknya hanya sekedarnya saja tanpa berlebihan. Dan, satu hal yang penting diingat adalah tidak lupa berbagi kepada kaum dhuafa supaya anak-anak mereka juga memiliki baju baru untuk lebaran.

Karenanya, penting kita renungkan kisah “Tat kala Fatimah tidak mampu membelikan Hasan dan Husein baju baru di hari lebaran”.

Fatimah putri Rasulullah pernah dilanda kesedihan ketika tidak mampu memberi hadiah baju baru kepada dua putranya Hasan dan Husein, sementara lebaran tinggal menghitung hari. Hasan dan Husein terlihat begitu sedih.

Keluarga Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Fatimah tergolong keluarga tidak mampu. Padahal mereka adalah keluarga Rasulullah. Hasan dan Husein begitu merana ketika melihat anak-anak di Madinah yang sebaya dengan mereka telah memiliki baju baru untuk lebaran.

Keduanya kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada ibunya. Mereka bertanya kenapa tidak dibelikan baju baru untuk menyambut hari raya Idul Fitri, sementara seluruh anak-anak di Madinah telah siap dengan baju barunya?

Fatimah menghibur dua cucu Rasulullah tersebut dengan mengatakan bahwa baju untuk mereka masih di tukang jahit, belum selesai dijahit. Alasan inilah yang disampaikan oleh Fatimah setiap kali kedua putranya tersebut bertanya tentang baju baru mereka. Padahal, Fatimah memang belum membelikan mereka baju baru karena tidak punya uang.

Baca Juga:  Ketika Rasulullah Membelah Bulan, Mampukah Mukjizat Dirasionalkan?

Hingga, sampailah pada malam lebaran. Sementara Hasan dan Husein belum menerima baju baru dari ibunya. Keduanya kembali bertanya kepada ibundanya prihal baju baru mereka. Saat itulah, Fatimah menangis karena memang tidak punya duit untuk membelikan kedua putranya baju baru.

Di tengah suasana sedih keluarga Rasulullah tersebut, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah. Dari dalam Fatimah bertanya siapa yang datang bertamu. Orang itu menjawab dirinya adalah tukang jahit yang membawa pakaian baru hadiah untuk Hasan dan Husein.

Tamu tersebut kemudian memberikan bungkusan kepada Fatimah, lalu pamit pulang. Setelah dibuka, bungkusan tersebut isinya ternyata adalah gamis, celana, mantel, sorban, dan sepatu hitam. Semuanya bagus-bagus dan jumlahnya masing-masing sepasang.

Hasan dan Husein yang saat itu sedang tidur kemudian dibangunkan oleh ibundanya. Kemudian pakaian tersebut diberikan kepada keduanya. Betapa gembiranya dua cucu kesayangan Rasulullah tersebut karena mereka bisa berlebaran dengan pakaian baru.

Rasulullah datang menemui mereka dan langsung menggendong dua cucunya. Beliau begitu sayang kepada keduanya. Kemudian beliau bertanya kepada Fatimah, “Apakah kamu melihat tukang jahit yang memberi hadiah pakaian untuk Hasan dan Husein”? Kata Fatimah, “Ia, aku melihatnya”.

Rasulullah kemudian melanjutkan perkataannya. “Wahai Fatimah, sebenarnya dia itu bukan tukang jahit, melainkan malaikat Ridwan penjaga surga”. Alangkah terkejutnya Fatimah mendengar penjelasan ayahandanya. Secepat itu pula Fatimah memuji dan bersyukur kepada Allah.

Di malam itu, keluarga Nabi itu pun sangat bahagia karena Hasan dan Husein telah memiliki baju baru untuk hari esok, hari raya Idul Fitri.

Ada banyak ‘ibrah dari kisah ini. Bahwa membahagiakan anak-anak dengan baju baru merupakan ibadah bagi orang tua karena telah membahagiakan anak-anaknya. Hikmah yang lain, bagi yang mampu hendaklah berusaha berbagi kepada sanak kadang dan fakir miskin disekitarnya supaya tidak ada anak-anak dari kaum dhuafa yang sedih merana karena tidak memiliki baju baru.

Baca Juga:  Kisah Inspiratif Ketika Khilad bin Walid Menaklukkan Irak

 

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

larangan islam dalam politik

Fikih Politik (8): 3 Larangan Islam dalam Politik

Politik bukan sesuatu yang terlarang dalam agama Islam. Islam bukan hanya agama an sich yang …

keragaman

Dalil Toleransi Beragama dalam Al Qur’an : Kemajemukan adalah Kehendak Ilahi

Hari ini masyarakat terkadang begitu alergi dengan perbedaan. Politisasi identitas semakin menguat dan mudah menggolongkan …