Kisah Dzulqarnain dalam Al-Qur’an : Raja Agung yang Bijaksana

0
967
dzulqarnain

Dzulqarnain merupakan salah seorang raja yang adil dan bijaksana. Tokoh ini menjadi sangat istimewa karena Allah sampai menceritakan kisahnya melalui beberapa ayat dalam al-Quran. Lalu siapakah Dzulqarnain?

Beberapa ulama seperti Ibnu Katsir mengatakan bawah Dzulqarnain adalah Raja yang hidup di masa Nabi Ibrahim. Bahkan disebut bahwa Dzulqarnain pernah melakukan tawaf besama dengan Nabi Ibrahim.

Tentang jati diri Dzulqarnain ada beberapa versi apakah dia Nabi, malaikat atau sekedar raja. Mayoritas ulama mengatakan bahwa Dzulqarnain adalah hanya Raja bijaksana yang memiliki kekuasaan besar.

Ada beberapa raja di bumi yang memiliki kekuasaan besar. Pertama, Dzulqarnain. Kedua,  Raja sekaligus Nabi yang beriman kepada Allah, yakni Nabi Sulaiman bin Daud. Ketiga dan keempat adalah raja yang lalim dan ingkar kepada kekuasaan Allah, yakni Bukhtansar dan Namrud bin Kan’an.

Kenapa Al-Qur’an harus menceritakan tentang Dzulqarnain? Cerita berawal dari surat al-Kahfi 83-84, ketika Rasulullah diuji oleh kaum Quraisy mengenai cerita tentang raja Dzulqarnain yang kerajaannya membentang dari timur ke barat. Allah berfirman:

“Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain. Katakanlah, “Aku akan bacakan kepada kalian cerita tentangnya.” Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu.” (QS Al Kahfi: 83-84)

Dalam surat di atas menjelaskan bahwa Allah memberikan kekuasaan kepada raja Dzulqarnain. Karena itulah, beliau berhasil menguasai belahan timur dan barat bumi ini. Semua negeri tunduk kepadanya dan semua raja di bumi takluk di bawah kekuasaannya.

Ketika sang raja mulai berjalan ke bagian barat bumi, maka Allah memberikan kuasa kepadanya untuk menaklukkan kaum di sana. Kemudian Raja Dzulqarnain bergerak kembali menuju bagian timur bumi. Kembali lagi raja Dzulqarnain melewati kaum yang ingkar kepada Allah dan Allahpun memberi kekuasaan kepadanya untuk mampu menaklukkan kaum tersebut.

Di bagian timur bumi terdapat suatu kaum yang tidak memiliki rumah untuk beristirahat atau melindungi diri mereka dari cuaca panas ataupun dingin. Mereka hidup di dalam gua dan lubang-lubang yang mereka gali sendiri. Ketika siang mereka beristirahat dan melindungi diri dari sinar matahari, dan ketika malam tiba, mereka mulai keluar untuk mencari makanan untuk kehidupan mereka. Allah berfirman dalam surat al-Kahfi ayat 90 :

“Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu.”

Raja Dzulqarnain kembali melanjutkan perjalanannya, dan sampailah ia di sebuah negeri yang terletak di antara dua bukit. Di negeri itu ternyata terdapat kaum yang terkenal karena kekejamannya, yakni kaum Yakjuj dan Makjuj.

Kaum Yakjuj dan Makjuj memiliki bahasa yang tidak dimengerti oleh kaum lain selain mereka. Namun, karena kekuasaan Allah, maka raja Dzulqarnain mampu memahami bahasa mereka. Adapun kaum yang berada di lembah antara dua bukit tersebut telah mengikuti raja Dzulqarnain memiliki harapan agar sang raja mau membuatkan benteng yang memisahkan mereka agar tidak lagi di tindas oleh kaum tersebut.

Raja Dzulqarnain mengajak seluruh kaum yang tunduk kepadanya untuk bekerjasama membuat benteng yang kuat di antara kedua bukit tersebut. Raja Dzulqarnain menyuruh kaum tersebut menyiapkan potongan-potongan besi. Lalu ia memasang potongan-potongan besi sampai setinggi bukit.

Tahap berikutnya, mereka diberikan tugas untuk memanaskan tembaga untuk kemudian dituangkan ke rangkaian besi yang sudah setinggi bukit itu. Sehingga semua rangkaian potongan besi itu mampu menjadi sebuah pagar besi raksasa yang sangat kuat. Dan tak ada satupun kaum Yakjuj dan Makjuj yang mampu memanjat dan melubanginya. Allah SWT berfirman:

“Berilah aku potongan-potongan besi”. Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: “Tiuplah (api itu)”. Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu”. Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya.” (QS Al Kahfi: 96-97)

Begitu mulia dan bijaksana hati sang raja Dzulqarnain. Karena itulah alasan Allah memberikan keistimewaan untuknya dan dituliskannya sebagian kisahnya dalam surat al-Kahfi. Raja Dzulqarnain merupakan sosok pemimpin yang mampu menjadi suri tauladan bagi semua kaum yang ada di dunia ini.