khailifah abul abbas
khailifah abul abbas

Kisah Khalifah Abul Abbas, Si “Tukang Jagal”

Tidak semua yang bergelar Khalifah itu adil dan bijaksana. Tidak. Jangan membayangkan setiap pemimpin yang bergelar Khalifah mewarisi prototipe ideal khulafaur rasyidin. Tidak hanya sekali masa kekhalifahan yang diselimuti mendung kelam “tragedi kemanusiaan”. Satu diantaranya terjadi pada masa Khalifah Abul Abbas, khalifah pertama Dinasti Abbasiyah.

Dikisahkan oleh Al Thabari, setelah diangkat menjadi khalifah pertama Dinasti Abbasiyah, Abul Abbas berpidato di depan penduduk Kufah.

“Duhai kalian penduduk Kufah tempat berlabuhnya cinta kami, kalian adalah tempat bersandar kasih sayang kami. Kami yakin kalian tidak melakukan penentangan, serta tidak terbujuk rayuan pembangkang sampai Allah mendatangkan kekuasaan kami. Kalian nanti adalah orang yang paling berbahagia dengan kekuasaan kami. Kalian orang yang paling mulia dalam pandangan kami. Karena itu, gaji kalian ditambah 100 dirham. Maka, bersiaplah kalian, karena saya adalah penumpah darah yang halal dan akan membalaskan dendam kesumat untuk membinasakan siapapun juga”.

Berapi-api pidato itu disampaikan oleh Abul Abbas untuk melunakkan hati dan meraih simpati penduduk Kufah setelah 80 tahun berada di bawah kekuasaan Dinasti Umayyah. Sejak saat itu, Khalifah pertama Dinasti Abbasiyah tersebut dijuluki al Saffah, si penjagal. Secara lantang Abul Abbas mengatakan akan membunuh siapa saja yang mencoba menentang kekuasaannya, khususnya sisa-sisa keluarga Dinasti Umayyah.

Dalam pidatonya Abul Abbas juga mendalihkan bahwa dirinya mengambil alih kekuasaan dari Dinasti Umayyah untuk keadilan dan membebaskan masyarakat dari kedzaliman dan kesewenang-wenangan Dinasti Umayyah. Untuk memperkuat posisinya ia membuat alasan teologis dengan dalil al Qur’an (QS. Al Ahzab: 33 dan Al Syura: 23).

Pembantaian Keluarga Dinasti Umayyah

Inilah salah satu sebab kenapa Abul Abbas berjuluk Al Saffah atau Sang penumpah darah. Suatu ketika, ia mengundang sisa-sisa keluarga Bani Umayyah untuk suatu acara jamuan makan. Tanpa menaruh curiga, Sulaiman bin Hisyam bin Abdul Malik beserta kurang lebih 90 orang keluarga Dinasti Umayyah yang lain datang menghadiri undangan jamuan makan Abul Abbas, Khalifah pertama Dinasti Abbasiyah.

Baca Juga:  Siapa Dzatu Al Nithaqain yang Berperan Suksesnya Hijrahnya Nabi?

Ibnu al Atsir dalam Al Kamil fi al Tarikh menceritakan apa yang terjadi dalam acara jamuan makan tersebut.

Pada saat jamuan makan berlangsung, tiba-tiba Abul Abbas menarik Sulaiman bin Hisyam bin Abdul Malik dari meja makan, kemudian dengan tangannya sendiri ia membunuhnya. Nasib serupa dialami oleh 90 orang keluarga Dinasti Umayyah yang lain. Semuanya dihabisi secara kejam. Serakan mayat yang masih menggelepar menjemput sakaratul maut ditutup dengan hamparan permadani. Kemudian Sbul Abbas dan keluarganya melanjutkan makan dan duduk di atas permadani tersebut.

Pembantaian sisa-sisa keluarga Dinasti Umayyah tidak hanya sampai disitu saja. Daud bin Ali, Gubernur Madinah yang diangkat oleh Khalifah Abul Abbas melakukan kekejian serupa. Ia menyisir Mekah dan Madinah mencari sisa-sisa keluarga Dinasti Umayyah, kemudian dibunuh.

Peristiwa ini membuktikan tidak selamanya sistem pemerintahan bernama Khalifah bersih dari noda kekejian, kekejaman dan ketidakadilan. Peristiwa sejarah pada awal kekuasaan Dinasti Abbasiyah membuktikan hal tersebut.

Tentu bukan institusi Khilafah yang harus disalahkan, tapi pemegang kekuasaan yang paling menentukan baik atau buruknya. Sistem khilafah menjadi institusi politik yang baik di tangan orang yang adil seperti Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan menjadi alat kekejaman di tangan Abul Abbas.

Demikian juga sistem pemerintahan yang lain, seperti demokrasi, teokrasi dll. Semua institusi politik itu memiliki dua kutub positif dan kutub negatif. Kutub yang lebih kuat akan sangat mewarnai sebuah institusi politik tersebut.

Kesimpulannya, tidak selamanya Khilafah itu mempraktikkan nilai-nilai luhur agama. Demikian pula, tidak selama selain khilafah itu tidak baik. Semua institusi politik hasil kreativitas ijtihad bisa baik bisa jelek. Dan, disetiap negara tentunya memiliki pilihan masing-masing untuk menentukan sistem pemerintahan yang dianggap paling baik. Di negara yang multikultural seperti di Indonesia, demokrasi yang dibalut dengan Pancasila menjadi yang terbaik sampai saat ini karena terbukti mampu mewadahi semua perbedaan. Mampu menciptakan kedamaian, keharmonisan dan persatuan.

Baca Juga:  Ternyata Nabi Suami yang Sangat Romantis

Kalau begitu, kenapa harus ribut ingin menggantikan sistem demokrasi denga khilafah? Kalau dipaksakan, jangan-jangan akan terjadi kekejaman seperti yang dilakukan oleh Khalifah Abul Abbas seperti kisah di atas.

 

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

ACT menyalurkan zakat

ACT Bukan Bagian dari Organisasi Pengelola Zakat

Jakarta – Aksi Cepat Tanggap (ACT) ternyata bukan bagian dari organisasi pengelola zakat. Penegasan disampaikkan …

Asrorun Niam

Kasus ACT, MUI: Perlu Kehati-hatian Ganda Kelola Zakat

Jakarta –  Mengelola dana zakat diperlukan kehati-hatian ganda oleh lembaga amil zakat (LAZ). Ini penting …