nabi sulaiman
nabi sulaiman

Kisah Nabi Sulaiman yang Tidak Mudah Percaya Berita

Media modern dengan ragamnya saat ini mampu membeber semua peristiwa yang terjadi dunia. Dalam hitungan detik semua informasi dan berita di belahan planet bumi bisa diakses dan dibaca oleh siapapun dan dimanapun. Walaupun tentu ada plus minusnya.

Nilai positifnya seluruh penduduk bumi mengetahui apa yang sedang terjadi di dunia, sehingga bisa memanfaatkan informasi tersebut. Tetapi, bisa tertipu andaikan informasi dan berita tersebut merupakan rekayasa. Inilah sisi negatifnya.

Sebab itu, al Qur’an telah mengajarkan kepada umat Islam bagaimana seharusnya bersikap disaat menerima informasi dan berita yang belum diketahui benar salahnya, fakta dan hoaxnya.

Sebagai muslim, kisah Nabi Sulaiman yang disebut di dalam al Qur’an bukan hal yang tabu. Sebab Nabi Sulaiman adalah salah satu dari para Nabi yang wajib diimani. Kisahnya sering disebut dalam al Qur’an.

Salah satunya, suatu ketika Nabi Sulaiman melakukan perjalanan bersama seluruh bala tentaranya. Di tengah perjalanan, saat beristirahat, Nabi Sulaiman mengecek seluruh pasukannya. Seluruhnya lengkap kecuali burung hud hud yang tak tampak.

Setelah kembali, ditanya oleh Nabi Sulaiman prihal keterlambatannya. Hud-hud bercerita, keterlambatannya sebab ia menemukan kerajaan besar dan ia menelitinya. Dipimpin oleh seorang wanita dengan singgasana yang besar dan mewah, namun sayang, sang ratu beserta rakyatnya tidak menyembah Allah.

Kendati burung hud-hud tidak pernah berbohong, Nabi Sulaiman tidak buru-buru percaya terhadap informasi yang disampaikannya. Dalam hal seperti ini, sebagai Nabi dan raja besar beliau selalu berhati-hati, harus memastikan dulu fakta yang sebenarnya tentang berita dan informasi yang sampai pada dirinya. Ia berkata, “Saya akan verifikasi dulu”.

“Dia (Sulaiman) berkata, ‘akan kami lihat apakah kamu benar atau kamu termasuk yang berdusta” (al Naml:27)

Baca Juga:  Abdurrahman bin Auf: Sahabat Dermawan yang Menolak Menjadi Khalifah

Ini membuktikan dan menegaskan, sekalipun datang dari orang-orang yang terpercaya, informasi ataupun berita harus di cek dan ricek lebih dulu. Apalagi kalau berita itu disampaikan oleh orang munafik atau orang fasik.

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (al Hujurat: 6).

Semakin menegaskan pentingnya verifikasi terhadap berita dan informasi. Informasi yang salah kemudia diyakini benar menjadi pemantik timbulnya sangkaan dan berpotensi menimbulkan sikap yang menyakiti terhadap orang lain. Baik menyakiti dengan perkataan maupun dengan kekerasan. Akan timbul ucapan seperti ghibah, buruk sangka dan penyakit lisan yang lain, juga potensi terjadinya kekerasan.

Rasulullah bersabda, “Orang Islam adalah bila orang Islam yang lain selamat dari perilaku buruk lisan dan tangannya. Sedangkan orang yang berhijrah adalah mereka yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah” (HR. Bukhari).

Kisah Nabi Sulaiman di atas, bila menjadi praktik hidup umat Islam saat ini, tentu akan membawa pada kedamaian. Tidak mudah menyalahkan, hati-hati dalam bertutur kata, tidak buru-buru memvonis seseorang atau lembaga, atau bahkan negara dengan vonis salah dan dzalim.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

merdeka

Refleksi Hari Kemerdekaan; Kewajiban Melawan Islamisme yang Merusak Bangsa

Telah 77 tahun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sejak diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Selama …

money politic

Fikih Politik (6): Hukum Money Politic

Suksesi politik kadang kelewat batas. Yang penting menang. Sekalipun menggunakan cara-cara tidak bermartabat. Demi mendapat …