Kisah Pelecehan Kepada Nabi dan Lihatlah Sikap Beliau

0
2549
pelecehan kepada nabi

Pelecehan kepada Nabi bukanlah hal baru. Tetapi Nabi mengajarkan kepada umatnya bagaimana ketika beliau dihina dan dilecehkan.


Bila membaca sejarah para Nabi, pelecehan terhadap mereka bukanlah sesuatu yang asing dan aneh. Kaum pembangkang terhadap risalah kenabian kerap melakukan tindakan yang menjurus pada penghinaan, kekerasan fisik, bahkan sampai pada taraf pelenyapan nyawa para utusan Allah.

Contoh paling kejam dialami oleh khalilullah, Nabi Ibrahim, yang dibakar hidup-hidup. Namun berkat pertolongan Allah, beliau selamat tanpa cacat sedikitpun. Nabi Nuh diteriaki gila gara-gara membuat perahu, padahal kala itu musim kemarau. Nabi Yusuf dilempar ke sumur. Nabi Musa diburu akan dibunuh.

Begitu pula pelecehan kepada Nabi Muhammad tak kalah hebatnya. Nabi selalu mengalami pelecehan dan hinaan dari masyarakat kafir Quraisy. Itulah tradisi jahiliyah. Tradisi yang sulit menerima kebenaran walaupun bukti-bukti telah terpampang jelas di depan mata mereka.

Pelecehan kepada Nabi Muhammad bahkan bisa berlangsung sampai saat ini. Watak kaum jahiliyah modern beberapa kali melakukan pelecehan dengan berbagai macam cara. Beberapa hari yang lalu pelecehan kepada Rasulullah dilakukan dengan cara menyebar selebaran yang bertuliskan hinaan kepada TNI-Polri, juga kepada Rasulullah.

Dalam al Qur’an, gambaran penghinaan dan penyiksaan terhadap Nabi Muhammad terekam dalam firman Allah: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak, dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar, yang dilehernya ada tali sabut. (QS, Al Lahab: 1-5).

Sebagaimana maklum, Abu Lahab tak lain paman Nabi sendiri. Namun ia berada di barisan terdepan, bahkan memimpin upaya intimidasi, pelecehan bahkan usaha pembunuhan terhadap Nabi Muhammad. Saking bengisnya Abu Lahab dan kroninya, Allah sampai mengabadikannya dalam al Qur’an sebagai pelajaran bagi manusia seluruhnya.

Peristiwa Penghinaan dan Sikap Nabi Muhammad

Dikisahkan oleh Sa’id Ramadhan al Buthy dalam dalam kitabnya Fiqh al Sirah al Nabawiyah, Ibnu Umar meriwayatkan, suatu saat Rasulullah bersujud, di sekelilingnya ada orang-orang kafir Quraisy, secara tiba-tiba ‘Uqbah bin Abi Mu’ith yang baru datang melempari punggung beliau dengan kotoran unta. Sayyidah Fatimah yang menyaksikan kejadian tersebut langsung mendekati ayahandanya dan menyingkirkan kotoran unta dari punggung beliau.

Pelecehan berikutnya terhadap baginda Nabi diceritakan oleh Imam al Thabari dalam Tarikhnya. Seorang kafir Quraisy menaburkan debu ke kepala Rasulullah ketika lewat di dekat Makkah. Ketika sampai di rumah, salah seorang putri beliau menangis melihat keadaan Nabi yang kepalanya berpelepotan debu. Beliau berkata, “wahai putriku, jangan menangis, sesungguhnya Allah selalu menjaga Ayahmu”.

Pelecehan dan penghinaan kepada Rasulullah belum berhenti, di hari yang lain, sekelompok orang Yahudi datang kepada Nabi dan mengucapkan salam penghinaan. Yakni, al samu ‘alaika (celakalah kamu). Aisyah yang saat itu bersama Nabi spontan menjawab, “‘alaikum al samu wa al laknatu” (celaka dan terlaknatlah kalian). Namun Rasulullah menegurnya, “Jangan begitu Aisyah, sesungguhnya Allah menyukai kelemah lemburan dalam segala urusan”. Aisyah masih protes, “Ya Rasulullah, apakah engkau tidak mendengar perkataan mereka”? Ya, aku mendengarnya dan telah menjawabnya wa ‘alaikum.

Bentuk pelecehan yang terjadi saat ini tak lain merupakan pengulangan dari budaya jahiliyah. Artinya, orang yang melakukannya adalah sisa-sisa atau mungkin keturunan para pembangkang pada masa Nabi dulu. Mungkin tidak akan pernah ada habisnya.

Rasulullah sebagai hamba terkasih Allah, memberikan teladan yang sangat baik kepada umat Islam menyikapi pelecehan dan penghinaan tersebut. Sabar dan malah mendoakan kebaikan kepada pelakunya.

Nabi tidak emosional dan menunjukkan akhlak mulia. Namun, bila menyangkut kehormatan agama dan bela negara beliau tegas dan tidak akan mengalah. Tetapi untuk dirinya yang dilecehkan bahwa diperlakukan tidak manusiawi seperti di atas, Nabi selalu tabah dan sabar.

Berkat ketabahan, kesabaran dan akhlak mulia dalam membalas hinaan itulah, mereka yang tadinya memusuhi menjadi terenyuh. Mereka yang dulunya kasar menjadi lemah. Mereka yang selalu menghina menjadi bagian dari Islam.