Kisah Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Nabi Muhammad Saw (Bagian I)

0
2011
perempuan hebat

Sisi kehidupan Rasulullah Saw selalu saja menarik diketahui termasuk sisi kehidupan rumah tangga dengan istri-istrinya. Selain karena dalam kehidupan Nabi itu terdapat pelajaran yang menarik dan mengesankan, tetapi juga memberikan pencerahan secara tidak langsung mengenai kehidupan sehari-hari Rasulullah saw sebagai teladan panduan bagi seluruh umat muslim.

Kita, umat Islam, juga mengenal bagaimana Rasulullah berdakwah terhadap kaum perempuan sehingga dengan mudah menarik banyak pengikut. Oleh karena itu, tidak mengeharankan jika dikatakan bahwa salah satu faktor utama pendukung kesuksesan dakwahnya karena dukungan para wanita-wanita di sekitarnya. 

Dalam catatan sejarah adalah 11 wanita yang pernah menjadi istri Rasulullah Saw. Masing-masing istri itu telah memberikan makna tersendiri dan peran penting bagi kehidupan dan kelanjutan dakwah rasulullah saw, yaitu sebagai berikut

Khadijah Binti Khuwailid

Khadija binti khuwaelid adalah wanita pertama yang dinikahi Rasulullah Saw ketika ia masih berumur 25 tahun. Sementara Khadijah kala itu adalah janda yang sudah berumur 40 tahun. Dari Khadijah lahir putra-putri Rasulullah kecuali Ibrahim yang lahir dari Maria Al Qibtiyah.

Hubungan Rasulullah Saw dengan Khadijah bermula ketika Khadijah menawarkan kepada Rasulullah Saw untuk melakukan perjalanan dagang ke tanah Syam. Khadijah dikenal sebagai seorang pengusaha wanita sukses di Mekkah kala itu dan sering menyewa anak-anak muda atau mereka yang ahli berdagang untuk membawa barang-barang dagangannya ke negeri-negeri sektar mekkah.

Namun, ketika ia mendengar bahwa ada seorang pemuda yang sangat jujur di kota Mekkah ia mengutus seseorang untuk meminta kesediannya membawa barang-barang dagangannya ke Syam. Paman Rasulullah Saw Abi Thalib juga mendukung penawaran itu karena dirinya sudah tidak lagi memiliki harta apapun sehingga meminta juga kepada keponakannya agar mulai berusaha karena sudah mulai besar.

Nabi pun menerima tawaran itu dan menyatakan kesediaannya untuk membawa dagangan Khadijah ke Syam. Khadijah ingin membuktikan apakah benar rumor masyarakat bahwa Muhammad adalah orang jujur. Karena itu ia meminta Maisarah pembantunya untuk mendampingi Muhammad ke Syam dan memperhatikan gerak-gerik serta pola berdagangnya.

Dalam perjalanan ke Syam, Maisarah menyaksikan banyak sekali kelebihan yang ditemui pada diri Muhammad, termasuk sepanjang perjalanannya selalu dilindungi oleh awan sehingga tidak merasakan teriknya matahari selama perjalanan. Ada juga bisikan seorang pendeta kepada Maisarah bahwa tidak ada satupun orang yang mampir berlindung di bawah pohon itu kecuali ia adalah Nabi. Karena itu Muhamamd itu adalah mabi yang ditunggu-tunggu dalam kitab kami.

Saat di Syam juga Maisarah mendengar banyak penuturan dari masyarakat dan kolega-kolega bisnis Muhammad yang mengatakan bahwa dalam diri orang itu terdapat tanda- tanda kenabian.

Setelah pulang dari Syam dengan membawa hasil perdagangan yang menggembirakan, Khadijah sangat takjub mendengar kisah-kisah yang disampaikan oleh Maisarah. Pada akhirnya, dengan kekaguman pada sifat Muhammad Khadijah menyampaikan keinginannya untuk menikah dengan Rasulullah.

Rasulullah pun menerima tawaran itu dan melangsungkan pernihakan langsung oleh Ayah Khadijah bin Khuwailed. Meskipun ada pendapat lain yang mengatakan bahwa yang menikahkan Rasulullah Saw dengan Khadijah adalah pamannya Omar bin Asad, karena Khuwailed telah meninggal kala itu.

Khadijah memberikan 6 putra putri kepada Rasulullah yaitu Al Qassim, Abdullah, Zaenab, Umkaltsum, Ruqayyah dan Ibrahim. Khadijah adalah orang paling istimewa dalam Islam. Ia adalah wanita pertama yang mendengar wahyu dari Rasulullah Saw dan termasuk wanita yang dijamin masuk syurga. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw bahwa wanita syurga yang paling mulia adalah Khadijah bin Khuwaeld, Fatimah Binti Muhammad, Maryam binti Imran (Ibu nabi Issa As) dan dan Asia binti Mazahim istri Firaun.

Khadijah meninggal pada umur 65 tahun di saat Nabi telah diangkat sebagai Rasul. Nabi kala itu sudah berumur 50 tahun, artinya pernikahan Rasullah bersama Khadijah telah melalui usia 25 tahun. Masa masa itulah merupakan masa yang penuh perjuangan dalam berdakwah. Dan Khadijah salah satu wanita penting yang berada di belakang suksesnya Nabi.

Berkat dukungan harta dari Khadijah dakwah itu bisa berjalan. Tentu tidak hanya harta. Khadijah adalah orang setia mendampingi suka dan duka dakwah Nabi. Dial ah istri istimewa yang mengusap keringat saat Nabi merasa letih dan menyelimuti Nabi saat merasa gundah.  

Sakingnya istimewa Khadijah, tidak mengherankan jika Aisyah bin Abi Bakar pernah cemburu kepada Nabi karena suatu saat nabi termenung dan menangis mengingat Khadijah. Khadijah dalam diri Nabi adalah wanita yang telah memberikan banyak makna dalam kehidupannya.

Saudah binti Zam’ah

Ia adalah salah satu ummul mukminin bernama lengkap Saudah bin Zam’ah bin Qais bin Abdussyam bin Abdul Wad bin Naser bin Malik. Ibunya adalah Azzamuz bin Qaes bin Zaed bin Bani Najjar. Lima tahun Rasulullah Saw diangkat menjadi Nabi Saudah binti Zam’ah dan suaminya Sakran bin Umar dan anak-anaknya telah beriman kepadanya, meskipun ayah dan ibunya masih musyrik.

Sebagaimana pengikut-pengikut awal Nabi di Mekkah mengalami tekanan dari orang-orang Quraish dan penyiksaan oleh keluarga sendiri, Saudah juga mengalami hal serupa. Oleh karenanya, ia termasuk orang-orang yang hijrah ke Habsyi atas perintah Nabi kala itu.

Setelah sekian tahun berada di Habsyi, Ethiopia saat ini, ia kembali ke Mekkah setelah melalui perjalanan panjang dari menggunakan perahu dan pada akhirnya hingga tiba di Jeddah dan selanjutnya berjalan kaki menuju Mekkah menemui Rasulullah yang dia cintai dan rindukan. Saudah dan Sakran keduanya adalah keluarga yang kurang mampu dan hidup sederhana dengan anak-anaknya setelah meninggalkan keluarganya yang masih musyrik.

Kematian Khadijah bin Khuwaledi sudah barang tentu menjadi masa sulit yang dialami oleh Rasulullah karena kematian istrinya yang tercinta hampir bersamaan dengan kematian pamannya Ali bin Abi Tholib. Ada kesedihan yang mendalam yang dialami oleh Rasulullah khususnya dalam keluarganya sendiri. Anak-anak Khadijah yang baru tumbuh membutuhkan perhatian ekstra di samping tugas-tugas dakwah yang harus dilakukan oleh Rasulullah Saw.

Ketika itulah Khaula perempuan yang juga melamarkan Khadijah ke Rasulullah kembali menawarkan kepada Nabi jika ingin menikah lagi. Khaulah datang ke Rasulullah lalu menyampaikan wahai Rasulullah apakah engkau ingin menikah janda atau gadis?  Rasulullah Saw lalu bertanya kepada Khaulah siapakah gerangan yang gadis perawan itu dan yang gadis tua itu? Khaulah menjawab yang gadis perawan adalah putri sahabatmu Abu Bakar Assiddiq yaitu Aisyah, sementara yang ibu tua itu adalah Saudah bin Zam’ah.

Lalu Rasulullah mengatakan kepada Khaulah pergilah kepada keduanya untuk memberitahukan hal itu. Khaula pun pergi menemui kedua orang itu dan memberitahukannya tentang keinginan Rasulullah menikahinya.  Aisyah kala itu masih sangat muda, namun menerima dengan suka hati begitupula Saudah menyambut baik lamaran itu dan penuh kegembiraan.

Kehadiran sosok ibu rumah tangga yang baru Saudah dalam rumah tangga Rasulullah yang sudah berumur 55 tahun ternyata telah memberi warna baru bagi kebahagian anak anak Rasulullah yang ditinggal mati oleh ibunya. Saudah pun menjadi ibu yang setia  melayani keluarga Rasulullah dengan sungguh-sungguh dan penuh keikhalasan. Ia menjadi teman Rasulullah bercanda dan bersuka-ria bersama anak-anaknya.

Umar bin Khattab sahabat Rasulullah mengatakn bahwa Saudah telah mengembalikan suasana kehidupan rumah tangga rasullah Saw menjadi ceriah dan ramai setelah Khadijah meninggal. Setiap harinya ia melayani dan mengurus anak-anak Rasulullah. Ia menyediakan makan dan minum sehingga membuat kehidupan keluarga itu damai dan bahagia penuh dengan tawa dan canda tidak seperti yang dianggap oleh orang selama ini bahwa rumah Rasulullah hanya penuh dengan zikir dan doa.

Namun, menjadi istri Nabi bagi Saudah adalah sebuah pengabdian. Bahkan ia memberikan jatah tidurnya dengan nabi kepada Aisya binti Abi Bakar dan memilih waktu-waktunya untuk menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan Rasulullahd dan keluarganya.  

Ada yang menarik dari kisah Saudah bahwa ternyata pernikahannya dengan Rasulullah saw sudah ada tanda-tanda sebelumnya, yaitu ketika ia dan suminya kembali dari perjalanannya dari Habsyi. Ia bermimpi melihat Rasulullah Saw berjalan bersamanya hingga berdempetan kakinya dengan kaki Rasulullah Saw. Lalu Saoda menceritakan mimpi itu kepada suaminya Sakran bin Umar. Lalu  suaminya mengatakan wahai istriku jika mimpi kamu itu benar maka aku sudah tidak lama lagi akan meninggal dan Nabi akan menikahimu.

Mendengar jawaban itu Saudapun tertawa dan melupakan mimpi itu dan menganggap tafsir suaminya itu hanya biasa saja yang tidak perlu ditanggapi. Bagaimana pun ia seorang yang sudah tua dan tidak bisa menikah apalagi dengan seorang Nabi. Ia merasa tidak memiliki apa-apa baik kekayaan maupun kecantikan bila dibandingkan dengan istrinya Khadijah yang memiliki segala-galanya. Ternyata mimpi itu benar ketika Khaulah menyampaikan pesan Rasulullah kepadanya.