Kisah Wahsyi: Menebus Pembunuhan Hamzah dengan Kematian Nabi Palsu

0
694

Kisah hidup seseorang tidaklah stagnan. Kehidupan selalu memaksa seseorang dalam pilihan dan takdir yang terus berubah. Begitu pula keimanan yang bisa naik dan turun bahkan hilang sama sekali.

Wahsyi adalah sosok fenomenal dalam Islam. Dari orang yang sangat dibenci umat Islam menjadi bagian dari pahlawan Islam. Selain dikenal sebagai pembunuh Hamzah, paman Rasulullah, Wahsyi juga dikenal sebagai pembunuh Musailamah Al-Kadzab, sang nabi palsu.

Keinginan Wahsyi ketika ia masuk Islam adalah untuk melebur perbuatannya yang telah lalu atas terbunuhnya paman Rasulullah ditangannya. Wahsyi bin Harb bersumpah dalam hatinya, ia akan membunuh manusia sesat yang juga menyesatkan ajaran Allah.

Setelah wafatnya Rasulullah terdapat sosok nabi palsu yang saat itu menantang kepemimpinan Abu Bakar ash-Shidiq. Ialah Musailamah al-Kadzab. Saat itu khalifah Abu Bakar melihat adanya bahaya besar yang mengancam Islam jika fitnah Musailamah tak segera dipadamkan.

Petempuran Yamamah terjadi pada Desember 632 Masehi di jazirah Arab pada wilayah Yamamah. Khalifah Abu Bakar melawan Musailamah al-Kadzab. Perang Yamamah dilakukan untuk memerangi kesesatan yang dimunculkan oleh Musailamah.

Dalam pertempuran itu, Wahsyi bin Harb menggunakan kesempatan ini untuk menebus dosanya di masa lalu dengan bergabung dalam barisan perang kaum muslimin. Sambil menenteng tombak yang dulu ia gunakan untuk membunuh Hamzah ia seolah ingin mensucikan kembali dosa yang masih melekat di senjata kesayangannya.

Saat itu Khalifah Abu Bakar menugaskan Khalid bin Walid untuk menumpas Musailamah. Khalid beserta pasukan Muslim, maju ke arah Yamamah untuk menumpas sang nabi palsu. Kali ini perlawanan pasukan Musailamah terhadap pasukan muslim berjalan dengan seimbang. Khalid mulai berusaha menarik perhatian Musailamah agar ia mau masuk dalam pertempuran.

Khalid bin Walid mulai maju ke garis depan dan menantang duel para pemimpin pemberontak termasuk Musailamah. Satu per satu pemimpin pemberontak berhasil dikalahkan Khalid bin Walid (sang pedang Allah). Namun sayang Musailamah al-Kazzab berhasil melarikan diri dari tangan Khalid bersama bersama pasukannya.

Namun tingginya semangat dari pasukan Muslim untuk menumpas kemurtadan dan kesesatan, membuat pasukan muslim tetap maju untuk menghalangi Musailamah dan pasukannya yang hendak kabur sampai ke benteng pertahanan mereka. Pasukan muslim berhasil menjebol pertahanan pasukan Musailamah. Tidak ada jalan lain bagi Musailamah dan pasukannya kecuali terus bertahan dengan terus melawan.

Dalam peperangan tersebut, Wahsyi melihat Musailamah berperang dengan pedang terhunus di tangannya. Wahsyipun segera mencari posisi yang tepat untuk melemparkan tombaknya ke arah Musailamah. Setelah dirasa tepat ia pun langsung melemparkan tombaknya dan tepat mengenai tubuh Musailamah.

Ketika bani Hanifah mengetahui tewasnya Musailamah, mereka pun mulai tercerai berai, sehingga mudah bagi kaum muslimin mengalahkan mereka.

Bagi Wahsyi bin Harb membunuh Musailamah sang nabi plasu dapat melunturkan dosanya di masa lalu yakni membunuh paman Rasulullah (Hamzah). Wahsyi telah membunuh orang terbaik setelah Muhammad dan ia juga membunuh orang terburuk dari musuh Allah.