bidayatul mubtadi
bidayatul mubtadi

Fikih Nusantara (25): Kitab Bidayah al Mubtadi wa ‘Umdatu al Aulad

Pengarang kitab Bidayah al Mubtadi ini masih menjadi misteri sampai saat ini karena penulisnya tidak menyebutkan nama lazimnya kitab-kitab yang lain. Baik diawal maupun diakhir tidak tertulis nama pengarang. Dan, seperti ditulis pada sampul kitab, hal ini memang disengaja karena menjaga keshalehan dan sifat wara’nya.

Kesengajaan tersebut disampaikan sendiri oleh penulisnya. Pada halaman sampul tertulis, “Inilah kitab yang bernama Bidayah al Mubtadi wa ‘Umdatu al Aulad yang bicara ‘aqaid al Iman dan beberapa hukum bagi ibadah terjemah bahasa Melayu oleh setengah daripada mereka yang alim dan tiada disebutkan namanya karena shaleh dan wara’nya”.

Wajar kalau kemudian terjadi kontroversi tentang siapa pengarang yang sebenarnya. Satu hikayat menyatakan penulisnya adalah Syaikh Muhammad Shalih Rawah bin Muhammad yang dikenal dengan Syaikh Shaleh Rawa. Ulama asal Rao, Minangkabau yang wafat pada tahun 1272 H/1856 M. Sumber lain menyebutkan kitab ini adalah salah satu karya Syaikh Muhammad Arsyad al Banjari. Ulama terkenal asal Banjar, Kalimantan Tengah.

Tetapi, terlepas dari perdebatan siapa pengarangnya, yang jelas kitab ini seperti mutiara terpendam yang dari lembaran-lembarannya memancarkan cahaya. Suatu karya ulama nusantara yang telah menunjukkan perannya dalam perkembangan Islam khususnya di kawasan Melayu-Nusantara. Isi karya ini menjadi fondasi yang telah diletakkan dengan kuat sekali oleh penulisnya mewarnai corak beragama masyarakat Melayu, juga warga Nusantara secara luas.

Tertera dalam kata pengantar, karya ini didedikasikan kepada para mukallaf untuk mengetahui hal-hal yang wajib dalam hal akidah dan hukum Islam. Panduan belajar dan kitab saku untuk para pemula yang baru belajar agama Islam.

Kitab setebal 38 halaman versi percetakan Maktabah Musthafa al Babi al Halabi, Kairo, tahun 1374 H/1955 M ini, sekali lagi menunjukkan tekad besar ulama-ulama Nusantara untuk memperkenalkan Islam kepada masyarakat Melayu-Nusantara secara khusus dan masyarakat Nusantara pada umumnya serta menambah kekayaan khazanah intelektual Islam.

Baca Juga:  Tradisi Rokat dan Tolak Bala’ dari Covid 19, Ini Pandangan Fikihnya

Apabila membaca kitab Bidayah al Mubtadi ini kita akan segera tahu luasnya wawasan ilmu pengetahuan keagamaan yang dimiliki oleh penulisnya. Analisanya tajam, argumen serta dalil yang dikemukakan dalam kitab ini sungguh sulit dicari bandingannya. Hal ini menjadi indikasi kesempurnaan ilmu penulisnya.

Dan, berdasarkan informasi dalam kolofon, karya beraksara Arab Pegon berbahasa Melayu ini selesai ditulis pada pagi hari awal bulan Jumadil Akhir tahun 1254 H. Bidayah al Mubtadi adalah salah satu sumbangan ulama nusantara tentang kajian fikih yang patut dibanggakan.

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Sada'i

Avatar of Ahmad Sada'i

Check Also

idhah al bab

Fikih Nusantara (30): Kitab Idhah Al Bab Karya Syaikh Daud bin Abdullah al Fathani

Pattani, Thailand Selatan sekarang, tidak hanya tanahnya yang subur, negeri yang berbatasan dengan Malaysia ini …

kitab qutul habib

Fikih Nusantara (22): Kitab Qut al Habib al Gharib Karya Imam Nawawi Banten

Kitab Syarah ini lahir dari buah pikir seorang ulama Nusantara asal Tanara, Banten yang telah …