Komodifikasi Ganja dalam Pandangan Fikih

0
1700
ganja

Beberapa waktu lalu, Anggota Komisi VI DPR Fraksi PKS Rafli, mengatakan demi kebutuhan farmasi dan medis, ganja tidak haram. Tak hanya itu, Rafli juga mengusulkan agar ganja menjadi komoditas ekspor. Walaupun akhirnya ucapan itu ditarik kembali, sontak, wacana Rafli membuat geger dunia akademik baik medis maupun pemikiran keislaman. Lalu bagimana sebenarnya hukum ganja dalam hukum Islam (baca: fikih)?

Sejak jaman dulu ganja sudah digunakan. Di India sendiri sering disebut dengan bhang, charas, atau Ghana. Di negara Mesir disebut dengan hasish, sedangkan di negara Afrika menyebutnya kef dan di negara maju menyebutnya marijuana. Biasanya yang menjadi pecandu ganja adalah mereka yang emosinya tidak stabil.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ganja digambarkan sejenis tanaman yang mudah tumbuh. Ganja merupakan tumbuhan berumah dua (pohon yg satu berbunga jantan, yg satu berbunga betina). Pada bunga betina terdapat tudung bulu-bulu runcing mengeluarkan damar yg kemudian dikeringkan. Damar dan daun mengandung zat narkotik aktif, terutama tetrahidrokanabinol (THC) yg dapat memabukkan, sering dijadikan ramuan tembakau untuk rokok; Cannabis sativa.

Teramat sulit melacak nash sharih (teks yang gamblang) dalam al-Qur’an yang menjelaskan status hukum ganja. Dalam al-Qur’an hanya khamr yang jelas keterangannya. Namun begitu, ganja lantas tidak menjadi kasus hukum yang liar.

Dalam metodologi fikih, tatkala, sebuah kasus hukum tidak ditemukan keterangannya dalam al-Qur’an maupun dalam al-hadits, maka, bisa dilakukan langkah analogi atau qiyas. Menurut mayoritas Ulama’ (Imam Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali) qiyas merupakan salah satu pijakan hukum Islam. Menurut mereka Qiyas sebenarnya hal yang tersirat dari yang tersurat dari al-Qur’an dan al-hadits (Ilmu Ushul al-Fiqh, Abd Wahab Khalaf, 54).

Unsur-unsur yang harus terpenuhi ketika hendak melakukan qiyas adalah; Pertama, Ashal, Maqis ‘Alaih, yakni kasus hukum yang terdapat keterangan hukumnya dalam al-qur’an maupun dalam al-Hadits. Dalam hal ini adalah Khamer.

Kedua, Fara’, Maqis, yakni, kasus hukum yang tidak ada keterangan hukumnya dalam al-Qur’an dan al-hadits. Dalam hal ini adalah ganja.

Ketiga, Hukum Ashal, yakni hukum tentang ashal yang diperoleh dari al-qur’an dan al-hadits. Dalam hal ini, hukum haram.

Keempat, Illah (alasan hukum ashal), yakni sifat-sifat yang menjadi alasan ditetapkannya hukum pada ashal. Dalam hal ini adalah merusak eksistensi akal (memabukkan).

Menjadikan Ganja sebagai Komoditas

Tentang keharaman khamer al-Qur’an tersurat dalam al-Maidah :90

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya: Wahai orang orang yang beriman, sesungguhnya khamer dan judi, berkurban untuk berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan syetan, maka jauhilah perbuatan perbuatan itu agar kalian beruntung.al-Maidah:90

Jalaluddin al-Mahalli dan jalaluddin al-Suyuthi menafsirkan khamer dengan sesuatu yang menutupi akal manusia hingga dia mabuk (Tafsir al-jalalain, 2/258). Dalam Kamus LIsan al-‘Arab, Al-Zujaj juga menafsirkan dengan tafsiran yang sama. Menurutnya, khamer adalah sesuatu yang menutupi akal manusia hingga tidak berfungsi normal. Senada dengan tafsir Ibn Anbari, bahwa khamer itu meresap kedalam saraf otak hingga membuat relaksasi berlebihan dan tidak normal. Majma’ al-Bayan, 2/315.

Mengacu tiga penafsiran ini apakah pertanyaanya, apakah ganja memiliki sifat dan karakteristik seperti? Jika ganja memiliki sifat yang sama dengan khamer maka bisa diterapkan kaidah qiyas. Artinya, dengan ditemukannya sifat-sifat khamer ini maka ganja dapat dianalogikan dengan khamer dan hukumnya sama dengan hukumnya khamer yaitu Haram.

Untuk menguatkan hasil analogi ini. Marilah kita cerna hadits Nabi. Nabi Muhammad bersabda:

عن ابن عمر ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” كل مسكر خمر ، وكل مسكر حرام

Artinya: Dari Ibn Umar berkata: Rasulullah bersabda : setiap sesuatu yang memabukkan itu adalah khamer dan setiap sesuatu yang memabukkan hukumnya adalah haram. (HR:Muslim: NO 3826)

Bila sesuatu yang bisa memabukkan itu disebut khamer dan haram hukumnya, maka kesimpulannya, apapun bentuk dan namanya, entah barang cair atau bukan seperti daun ganja atau marijuana, yang memiliki potensi untuk memabukkan bila dikonsumsi termasuk juga dibuat obat pasien. maka hukumnya haram.

Pertanyaanya selanjutnya tentu masih menggelitik apakah ganja boleh dijadikan komoditi jual beli? Ketika sebuah benda diharamkan untuk dikonsumsi, maka menurut Imam Mawardi, barang itu juga haram dimanfaatkan untuk apa saja, seperti dibuat komoditas ekspor dan lain lain (Al-Hawi, 15/142)

Argumentasi tersebut juga sejalan dengan nalar hukum Imam Nawawi. Beliau mengatakan salah satu syarat sahnya barang yang bisa dijadikan komoditas ekspor adalah barang itu harus suci. Konsekuensinya, tidak sah menjual barang najis seperti khamer dan anjing. Karena kedua barang ini dzatnya najis (Minhaj al-Thalibin, 94).

Sampai di sini sudah cukup jelas hukum ganja baik untuk dikonsumsi atau dikomodifikasi. Wallahu a’lam