syukur dalam al-quran
alquran

Konsep Bersyukur dalam Al-Quran

Khazanah tafsir Islam dan kitab sucinya selalu menarik perhatian semua kalangan. Di Indonesia, hal ini bisa dilihat dari berbagai catatan yang ada. Secara general, topik dan bahasan problematika tafsir memengaruhi perilaku dan praktik kehidupan keberagamaan manusia modern, tidak terkecuali dalam membahas syukur. Syukur seringkali diibaratkan layaknya kondisi iman manusia. Kadang naik, lalu turun dan begitu seterusnya terjadi. Hal ini berbeda dengan rasa syukurnya malaikat dan setan. Setan tidak pernah naik turun untuk tidak mau bersyukur. Sedangkan malaikat selalu konsisten dalam menjalankan syukur dan perintah Allah.

Pembacaan sekaligus penafsiran kitab suci al-Qur’an tentu saja memerlukan metode, pendekatan dan metodologi tertentu sesuai dengan tujuan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Dimafhumi bahwa problematika pemahaman syukur bukan sesuatu yang baru dibahas. Namun, ibarat seumur manusia, bahasan syukur telah ada mulai dari adanya manusia hingga hari ini dan nanti. Informasi ini bisa didapat dari berbagai sumber, khususnya dalam al-Qur’an yang secara nyata menjelaskan dan membuktikan kepada semua manusia tentang syukur dari satu masa ke masa yang lain. Intinya adalah syukur adalah kunci kebahagiaan dan kesuksesan bila setiap manusia mampu mengamalkannya secara maksimal.

Pengertian Syukur dalam al-Quran

Secara bahasa, syukur juga berasal dari kata “syakara” yang berarti pujian atas kebaikan dan penuhnyasesuatu. Syukur juga berarti menampakkan sesuatu kepermukaan. Dalam hal ini menampakkan nikmat Allah. Sedangkan menurut istilah syara’, syukur adalah pengakuan terhadap nikmat yang dikaruniakan Allah yang disertai dengan kedudukan kepada-Nya dan mempergunakan nikmat tersebut sesuai dengan tuntunan dan kehendak Allah. Dalam hal ini, hakikat syukur adalah “menampakkan nikmat,” dan hakikat kekufuran adalah menyembunyikannya. Menampakkan nikmat antara lain berarti menggunakannya pada tempat dan sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemberinya, juga menyebut-nyebut nikmat dan pemberinya dengan lidah. Menurut M. Quraish Shihab, penjelasan dari pengertian syukur secara kebahasaan tersebut tentu saja tidak sepenuhnya sama dengan pengertiannya menurut asal kata itu (etimologi) maupun menurut penggunaan al-Qur’an atau istilah keagamaan.

Quraish Shihab mencatat bahwa dalam al-Quran, kata “syukur” dengan berbagai bentuknya ditemukan sebanyak enam puluh empat kali. Lebih lanjut, M. Quraish Shihab mengutip pandangan Ahmad Ibnu Faris dalam bukunya Maqayis Al-Lughah menyebutkan empat arti dasar dari kata tersebut yaitu: Pertama, pujian karena adanya kebaikan yang diperoleh. Kedua, kepenuhan dan kelebatan. Ketiga, sesuatu yang tumbuh di tangkai pohon (parasit). Keempat, pernikahan, atau alat kelamin.

Baca Juga:  Mengenal Mufasir dari Masa ke Masa (II)

Dalam konteks ini, Quraish Shihab menafsirkan bahwa kedua makna terakhir tersebut dapat dikembalikan dasar pengertiannya kepada kedua makna terdahulu. Makna ketiga, ungkapnya, sejalan dengan makna pertama yang mengambarkan kepuasan dengan yang sedikit sekalipun, sedang makna keempat dengan makna kedua, karena denganpernikahan (alat kelamin) dapat melahirkan banyak anak. Makna-makna dasar tersebut, diungkap Quraish Shihab, dapat juga diartikan sebagai penyebab dan dampaknya sehingga kata “syukur” mengisyaratkan, “Siapa yang merasa puas dengan yang sedikit maka ia akan memeroleh banyak, lebat dan subur.”

Konsep Syukur dalam al-Quran

Memahami syukur masa kini, diperlukan untuk mengaplikasikan konsep syukur yang lebih mudah dan bermakna sesuai tantangan zaman. Dalam konteks ini, tafsir kontekstual sebagai metode dalam memecah masalah kekinian (problem solver). Praktisnya, ketika tidak ditemukan sumber rujukan hukum yang jelas dalam al-Qur’an dan hadis, penafsiran menjadi jalan utama menuju kemaslahatan dan kemanfaatan.

Dalam bahasan syukur ini, kata syukur di dalam berbagai bentuknya ditemukan di dalam berbagai ayat dan surat di dalam al Qur’an. Beberapa diantaranya pertama, adalah kata “syukuran” yang disebutkan sebanyak dua kali, yakni pada QS. Al-Furqan: 62 dan QS. Al-Insan: 9. Ayat syukur ini seringkali ditafsirkan bahwa kata syukuran tersebut digunakan ketika Allah Swt menggambarkan bahwa Allah yang telah menciptakan malam dan siang silih berganti. Keadaan silih berganti itu menjadi pelajaran bagi orangorang yang ingin mengambil pelajaran dan ingin bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah. Di dalam menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir berpendapat bahwa Allah Yang Mahasuci menjadikan malam dan siang silih berganti dan kejar-mengejar, yang kesemuanya itu adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang hendaknya direnungkan dan diperhatikan oleh orang-orang yang ingat kepada-Nya atau yang hendak bersyukur kepada-Nya.

Kedua, kata “syukuran” yang terdapat dalam QS. Al-Insan: 9 digunakan oleh Allah ketika menggambarkan pernyataan orang-orang yang berbuat kebajikan serta telah memberi makan kepada orang-orang fakir dan miskin yang tiada lain yang mereka harapkan kecuali keridaan Allah Swt dan mereka tidak akan pernah mengharapkan dari mereka yang diberi itu balasan serta ucapan terimakasih atas pemberian itu. M. Quraish Shihab menguraikan bahwa Ali bin Abi Talib dan istrinya, Fatimah putri Rasulullah Saw memberikan makanan yang mereka rencanakan menjadi makanan berbuka puasa kepada tiga orang yang membutuhkan dan Ketika itu mereka membaca ayat di atas. Karena itu, dari sini dipahami bahwa manusia yang meneladani Allah di dalam sifat-sifat-Nya dan mencapai peringkat terpuji adalah yang memberi tanpa menanti syukur alias tidak mengharap balasan dari yang diberi atau ucapan terimakasih.

Baca Juga:  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 26-27: Faedah Perumpamaan dalam Al-Quran

Selain itu, ada kata “syakara” yang berlawanan dengan kata “kafara”. Hal ini diungkap di dalam al-Qur’an surah Ibrahim: 7. Dalam konteks ini, “syakara” sebagai asal mula kata syukur diartikan sebagai upaya “menampakkan nikmat”. Sementara“kafara” yang juga disebut kufur adalah “menyembunyikan nikmat”. Ditafsirkan bahwa menampakkan nikmat antara lain berarti menggunakannya pada tempatnya dan sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemberinya. Di samping itu, berarti juga menyebut-nyebut nikmat serta pemberinya dengan lidah (S. Adh-Dhuha: 11) dan S. Al-Baqarah: 152.

Intinya, para mufasir menjelaskan bahwa ayat yang disebut terakhir ini mengandung perintah untuk mengingat Allah tanpa melupakan, patuh kepada-Nya tanpa menodai dengan kedurhakaan. Syukur yang demikian lahir dari keikhlasan kepada-Nya. Di dalam kaitan ini, M. Quraish Shihab menegaskan bahwa syukur mencakup tiga sisi. Pertama, syukur dengan hati, yakni kepuasaan batin atas anugerah. Kedua, syukur dengan lidah, yakni dengan mengakui anugerah dan memuji pemberinya. Ketiga, syukur dengan perbuatan, yakni dengan memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya.

Manfaat dan Kedahsyatan Syukur

Apa manfaat syukur dalam hidup kita? Ternyata, syukur itu memiliki kedahsyatan, kekuatan dan keutamaan yang luar biasa di mata manusia sekaligus di hadapan Allah yang Maha Kuasa. Banyak data dan fakta menarik yang mengungkapkan, menyebutkan dan menjelaskan tentang bukti nyata efek positif bila kita mau bersyukur kepada Allah. Karena kedahsyatannya yang luar biasa, syukur itu membuat setaniblis tidak senang. Bahkan, setan-iblis berjanji akan selalu menggoda setiap manusia yang mau bersyukur kepada Allah, melalui berbagai cara dan arah mata angin.

Seperti diungkap dalam al-Qur’an, setan-iblis selalu berusaha menggoda setiap manusia untuk tidak boleh bersyukur kepada Allah dari sisi kanan-kiri, depan dan belakang. Pertanyaannya kenapa setan-iblis menggoda dari semua arah itu? Jawabannya tidak lain karena setan-iblis adalah musuh Allah. Dalam al-Qur’an, Allah telah menghukum dan memastikan setan-iblis di akhirat nanti akan dimasukkan ke dalam neraka. Oleh karena itu, setan-iblis ingin mengajak manusia yang bisa digodanya untuk bersama-sama memusuhi Allah agar kelak sama-sama menemaninya masuk ke dalam neraka jahanam. Iblis berkata: “Karena Engkau (Allah Swt) telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. AlA’raf: 16–17).

Baca Juga:  Tafsir QS. al-Fathir Ayat 32: Tiga Golongan Manusia dalam Mengamalkan Alquran

Apa kira-kira makna semua arah tersebut? Dipilihnya arah menggoda manusia dari sisi muka depan diartikan bahwa manusia akan digoda oleh setan-iblis agar tidak mau memikirkan nasib akhiratnya sehingga manusia lupa diri untuk selalu berbuat baik, beriman, berislam dan berihsan sebagai bekal di kehidupan berikutnya. Sisi belakang dimaknai sebagai upaya untuk menggoda setiap manusia agar selalu memikirkan kehidupan dunianya saja. Sementara godaan dari sisi kanan dipahami sebagai upaya menggoda manusia agar tidak mengakui kebenaran dalam ajaran Islam, al-Qur’an dan kebenaran kerasulan para nabi. Lalu, godaan dari sisi kiri dapat dimengerti sebagai upaya setan-iblis untuk mendukung manusia yang mau berbuat keburukan, kemaksiatan, kemungkaran dan hal-hal yang dilarang oleh Allah. Hal yang menarik, setan-iblis tidak mau dan mungkin tidak mampu menggoda manusia yang bersyukur kepada Allah dari sisi atas dan bawah. Alasannya sebab sisi atas diartikan bahwa manusia biasanya selalu ingat Allah dengan penuh ketulusan dan kemantaban.

Demikian juga, sisi bawah dipahami bahwa manusia yang mau melihat ke bawah biasanya ingat asalnya dan akan kembalinya, yaitu tanah. Di sini, artinya manusia ingat kematian dan tentu saja ingat Allah yang Maha Pencipta. Saat seseorang betul-betul ingat Allah, saat itulah setan-iblis sudah tidak bisa menggodanya. Maka, tidak heran bila orang bersyukur selalu berusaha untuk sujud sebagai tanda syukur. Ada juga tanda orang syukur selain dengan sujud, juga dengan cara melihat ke atas dengan memanjatkan doa-doa kepada Allah.

Dalam konteks inilah, diinformasikan bahwa Nabi Muhammad Saw selalu memikirkan bagaimana nasib umatnya nanti yang diharapkan semua bisa masuk surga Allah dengan cara mau terus menerus syukur di saat susah maupun senang. Nabi Muhammad Saw juga memberikan warisan doa khusus sebagai anjuran untuk kita semua supaya kita selalu diberkati Allah untuk menjadi orang yang suka bersyukur.

Bagikan Artikel ini:

About Ainun Helty

Avatar of Ainun Helty
Alumni Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Syarif hidayatullah.

Check Also

taaruf

Ayat-Ayat Toleransi (3): Surah Al-Hujurat Ayat 13, Taaruf Memutus Intoleransi

Sikap toleran dalam kehidupan beragama akan terwujud dengan adanya kebebasan dalam masyarakat untuk memeluk agama …

ayat-ayat toleransi

Ayat-ayat toleransi (2): Surat Al-Baqarah Ayat 256, Pendidikan Toleransi dalam Islam

Para antropolog mengatakan bahwa masalah intoleransi di Indonesia bisa diredam dengan beberapa pendekatan. Pertama, dengan …