meninggalkan shalat jumat

Konsultasi Syari’ah: Tinggalkan Shalat Jum’at Tiga Kali Berarti Kafir?

Assalamu’alaikum Wr Wb

Saya mau tanya karena sempat beredar kabar di tengah wabah corona bahwa meninggalkan shalat jumat tiga kali berturut-turut itu dihukumi kafir. Apakah hukum ini benar? Mohon pencerahannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Nadia, Bekasi


Walaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.

Terima kasih atas pertanyaan saudari Nadia. Semoga Allah selalu memberikan rahmat dan perlindungan bagi kita bersama dari berbagai ujian dan musibah.

Pertanyaan ini tentu perlu diklarifikasi. Apabila tidak melakukan shalat Jumat dengan alasan dan udzur syar’i misalnya saat adanya wabah atau hal yang bisa mengancam jiwa manusia itu tidak masalah. Justru dianjurkan untuk tidak shalat jumat dalam kondisi tersebut, sekalipun berturut-turut hingga rintangan dan udzur itu hilang.

Pertanyaan di atas saya ingin jawab dalam konteks ketika meninggalkan tanpa alasan. Sebelumnya kita mulai dengan pembahasan hukum shalat jumat.

Shalat Jum’at itu hukumnya wajib ‘ain (kewajiban pribadi). Ini adalah kesepakatan fatwa dari seluruh Ulama’. Dengan kata lain, tidak ada satupun fatwa yang menyatakan bahwa shalat jum’at itu sunnah.

Kewajiban shalat jum’at ini Berdasarkan firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya : Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS: Al-Jumu’ah: 9).

Sebagai konsekuensi logis dari kewajiban menunaikan shalat ini lalu apa? Apakah bisa dicap kafir ketika ditinggalkan atau hanya berdosa? Atau adakah hukuman lainnya? Mengingat baru-baru ini ada kabar, bahwa orang yang meninggalkan shalat jum’at dicap kafir. Benarkah?!

Baca Juga:  Kaidah Fikih Cabang Kedua: Makna Sebuah Ungkapan

Sabda Nabi:

من ترك ثلاث جمع تهاونا من غير عذر طبع الله على قلبه

Artinya : Barang siapa meninggalkan shalat Jum’at tiga kali (berturut turut) tanpa alasan dengan mengabaikan atau meremehkan kewajibannya, maka Allah menutup dan mencap hatinya hingga tak dapat menerima hidayah lagi (HR:Ahmad:15227).

Artinya, hatinya tetap memiliki hidayah yang pernah ia dapatkan sebelum meninggalkan shalat Jum’at. Namun hidayah itu tidak akan pernah mengalami perkembangan hingga amal perbuatannya menjadi stagnan. Amal baiknya tidak akan pernah bertambah-tambah, karena pintu hidayah telah ditutup oleh Allah.

Itulah konsekuensi meninggalkan shalat jumat tiga kali berturut-turut yang tidak sampai pada level kafir. Sangat keterlaluan bila ada yang memvonisnya kafir.

Menurut Imam Mawardi, orang yang sengaja meninggalkan shalat jum’at tanpa alasan, maka ia dianjurkan memberikan shadaqah sebesar satu dinar (RP. 15.000) atau setengah dinar (Rp. 7.500) (alhaei al-Kabir, 2/1035).

Sesuai dengan sabda Nabi :

من ترك الجمعة من غير عذر فليتصدق بدينار ، فإن لم يجد فنصف دينار

Artinya : Barang siapa yang meninggalkan shalat jum’at tanpa ada alasan, maka hendaknya bershadaqah dengan satu dinar, bila tidak memilikinya, maka dengan setengah dinar (HR: Abu Daud :902).

Dalam redaksi hadits yang lain Nabi menyebut orang yang meninggalkan shalat jum’at tanpa alasan sebagai orang munafik (HR: Thabrani: 425).

Dari saking wajibnya shalat jum’at andai saja orang yang dalam pandangan hukum memenuhi kriteria syarat wajibnya shalat jum’at lalu ia tidak melaksanakannya dan lebih memutuskan untuk shalat dhuhur saja, menurut Imam al-Tsauri, Imam Malik dan Imam Zufar, shalat dhuhurnya tidak sah. Keputusan hukum ini juga menjadi fatwa hukum yang shahih dalam Madzhab Syafii menurut Imam Nawawi. (AL- Majmu’, 4/497).

Baca Juga:  Istiqamah Shalat Tahajud, Ini Keutamaannya

Dari berbagai keterangan hadist dan ijitihad ulama tidak ada satupun keterangan shahih, yang menyatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat jum’at itu adalah kafir. Seandainya ada, tentu, keterangan itu atau fatwa itu tidak selaras dengan al-Qur’an dan al-Hadits. Bukankah keduanya (al-Qur’an dan al-Hadits) adalah sumber primer dalam istimbath al-Ahkam (perumusan hukum Islam).

Karena itulah, jelas bahwa kabar yang saudari Nadia dengar tidak memiliki dasar sama sekali. Jangan gampang menuduh orang kafir tanpa alasan yang jelas karena ketika kita menuduh kafir dikhawatirkan tuduhan itu akan balik kepada kita sendiri.

Wallahu a’lam

Pengampu Konsultasi Syariah,

Ust. Abdul Walid, M.H.I, Alumni Ma’had Aly Li al-Qism al-Fiqh Wa Ushulih, Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo

Bagikan Artikel

About Islam Kaffah

Islam Kaffah