Bolehkah Mengkritik Pemimpin Melalui Media Sosial?

Bolehkah Mengkritik Pemimpin Melalui Media Sosial?

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Selamat pagi, melihat realitas yang ada, media sosial tidak lagi ramah, banyak sekali caci maki yang dialamatkan kepada pemimpin. Sebetulnya bolehkah mengkritisi pemimpin melalui media sosial? Mohon penjelasanya.

Rozaki – Malang

Waalaikum Salam Warahmatullahi Wabarokatuh

Terimakasih bapak Rozaki atas pertanyaanya, memang di tengah era keterbukaan seperti sekarang ini, media sosial banyak digunakan untuk sesuatu yang kurang bermanfaat, bahkan ujaran kebencian banyak bertebaran. Kritik terhadap pemimpin pun tidak lagi mempunyai adab sehingga perlu kita untuk mengingat kembali pesan-pesan rasulullah.

Baiklah saya akan coba jelaskan sesuai dengan beberapa dalil yang dapat dipertangungjawabkan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. (QS. An-nisa’ : 59).

Ayat tersebut secara jelas memerintahkan supaya kita selalu bertakwa kepada Allah, rasul dan menaati pemimpin baik itu Presiden, Gubenur, Bupati hingga tingkatan paling bawah yang diangkat menjadi pemimpin. Pentingnya menaati pemimpin agar keteraturan dalam kehidupan dapat berjalan dengan penuh kedamaian dan tidak mudah tercerai berai memetingkan pendapat sendiri atau kelompok.

Baca juga : Adab Menghadapi Pemimpin : Oposisi Yes, Caci Maki No!

Dalam hal tentang pentingnya pemimpin Rasulullah bersabda “Jika ada tiga orang melakukan perjalanan maka angkatlah salah satunya menjadi pemimpin”. Dengan demikian kehadiran seorang pemimpin dan menaatinya jelas merupakan perintah yang wajib kita ikuti dan laksanakan.

Perintah Allah SWT untuk menaati pemimpin tidak lantas membuat rakyat kehilangan ruang untuk mengkritisi pemimpin dan kinerjanya dalam mengelola negara, justru sudah seharusnyalah hubungan timbal-balik antara masyarakat dan pemimpin terangkum dalam nasehat-nasehat atau kritik yang membangun. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Thaha ayat 44:

فقولا له قولا لينا لعله يتذكر او يخشى

Maka bicaralah kamu berdua (Musa dan Harun) kepada Firaun dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. (QS. Thaha : 44)

Allah SWT terhadap Fir’aun yang lalimnya sudah tidak ketolongan, masih mengutus nabi Musa dan Harun untuk memberikan nasehat secara lemah lembut, lalu mengapa terhadap saudara sesama muslim kita berkata kasar, mencaci maki hingga menyebarkan ujaran kebencian?

Tidak dapat dipungkiri bahwa pada era keterbukaan sekarang ini tidak ada satu informasi pun yang luput dari pantauan masyarakat, hampir semua masyarakat dari kota hingga pelosok tanah air telah terkoneksi dengan internet tidak ada lagi batasan jarak dan waktu, semua berada dalam genggaman pada satu alat yang bernama Handphone.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJI) pada 2017 memaparkan hasil survei nya yang berjudul  “Penetrasi dan Prilaku Pengguna Internet Indonesia 2017” menunjukkan angka 143, 26 juta jiwa pengguna internet artinya 54,7 % dari total jumlah penduduk Indonesia sebagai pengguna internet. Namun sayangnya, angka pengguna internet yang demikian besar tidak dibarengi dengan literasi media yang baik sehingga masyarakat menganggap ruang media sosial layaknya ruang-ruang di pasar atau tempat nongkrong yang dapat membicarakan semua hal tanpa harus melakukan cek dan crosscek terlebih dahulu terhadap informasi yang diterima, akibatnya adalah meningkatnya ujaran kebencian, bullying hingga caci maki yang dialamatkan kepada pemimpin.

Kurangnya literasi media inilah yang menyebabkan kritikan bahkan ujaran kebencian langsung dialamatkan kepada pemimpin terlebih dalam suasana menjelang Pilpres yang kian dekat, antara satu pendukung dengan pendukung lainya saling hujat, satu pemimpin dengan calon pemimpin lainya di hujat, di bully bahkan dinarasikan sebagai musuh Islam. Bahkan hujatan tersebut sampai membawa agama sebagai justifiasi kebenaran untuk melemahkan kelompok lainya.

Tentu ini adalah suatu kondisi yang sangat memprihatinkan bagi kita semua. Kita tidak lagi menyadari bahwa untuk menyuarakan kritikan bahkan nasehat, kita mempunyai lembaga yang bernama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) di daerah ada yang bernama DPRD Kota dan Provinsi sebagai jalur untuk menyuarakan aspirasi masyarakat, untuk memperjuangkan hak-hak konstitusional masyarakat. Kita terlalu asik dengan diri kita sendiri dan gadget yang kita punya sehingga menghilangkan adab kita sesama saudara terlebih kepada pemimpin.

Adab inilah yang sangat penting, Rasulullah sendiri diutus oleh Allah SWT bukan untuk mengislamkan orang seluruh dunia, tapi untuk memperbaiki akhaq, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Saw :

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

“Sungguh aku di utus untuk menyempurnakan budi luhur.” (HR Muslim).

Dalam menasehati pemimpin, kita tidak boleh berbicara lantang, mengumbar segala macam fitnah melalui media sosial yang belum tentu kebenaranya, terlebih sampai mencaci maki diatas mimbar acara keagamaan.  Menasehati pemimpin rasulullah telah memberikan tuntunan yang baik dan etika yang sangat tinggi dalam urusan menasehati pemimpin, seperti sabda nabi berikut ini :

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِيْ سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاِنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ

“Barang siapa ingin menasihati seorang penguasa maka jangan ia tampakkan terang-terangan, akan tetapi hendaknya ia mengambil tangan penguasa tersebut dan menyendiri dengannya. Jika dengan itu, ia menerima (nasihat) darinya maka itulah (yang diinginkan, red.) dan jika tidak menerima maka ia (yang menasihati) telah melaksanakan kewajibannya.” (Sahih, HR. Ahmad, Ibnu Abu ‘Ashim)

Dengan kecenderungan masyrakat yang tidak dapat mengontrol diri di media sosial maka dengan sendirinya mengkritisi atau mensehati pemimpin melalui media sosial akan lebih banyak mudharatnya, maka sesuai dengan kaidah ushul fiqh :

وضدُّه تزاحمُ المفاسدِ فارْتَكِب الأدنى من المفاس

Adapun lawannya jika bertabrakan antara mudharat satu dengan yang lainya maka diambil mudharat yang paling kecil dan ringan.

Selain itu kita masih mempunyai DPR RI dan DPD RI sebagai wadah yang telah kita percayakan untuk menyampaikan aspirasi kepada pemimpin. Sudah sepantasnyalah kepercayaan yang telah kita berikan kepada DPR RI dan DPD RI menjadi tidak mubazir. Sangatlah keras peringatan Rasulullah bagi seseorang yang menghina pemimpin, baik itu melalui demonstrasi, mimbar agama terlebih melalui media sosial yang masyarakat dari Sabang sampai Merauke dapat membacanya. Dalam hal ini rasulullah bersabda :

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Penguasa adalah naungan Allah di bumi. Barangsiapa yang memuliakannya maka Allah akan memuliakan orang itu, dan barangsiapa yang menghinakannya, maka Allah akan menghinakan orang tersebut.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)

Demikianlah penjelasan yang dapat saya sampaikan, semoga dapat bermanfat bagi kita semua ditengah arus informasi yang semakin terbuka dan semoga tetap menjadi sebagai pengingat agar kita selalu dapat berhati-hati dalam setiap langkah kehidupan.

Wallahu’alamu Bhissowab

Comment

LEAVE A COMMENT