Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi

Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Ustadz saya ingin bertanya, sebentar lagikan tahun akan berganti, sebetulnya bagaimana hukumnya merayakan tahun baru, soalnya ada yang bilang merayakan tahun baru haram, jadi bagaimana sebenarnya? Mohon jawabanya agar saya tidak ragu dan menjadi lebih tahu.

Joko Kurniawan - Palembang

Waalaikum Salam Warahmatullahi Wabarokatuh

Terimakasih atas pertanyaannya pak Joko, memang tahun baru adalah salah satu momen yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat untuk dirayakan dan Pergantian tahun baru 2018 menuju 2019 Masehi tinggal menghitung jam, keriuahan dan antusiasme masyarakat untuk merayakan pergantian tahun baru telah terasa dari kota-kota besar hingga pelosok tanah air. Banyak cara orang merayakan malam pergantain tahun, ada yang berwisata, berkumpul di alun-alun kota hingga berkumpul bersama keluarga dirumah sambil bakar ikan atau jagung manis.

Baca juga : Bolehkah Mengkritik Pemimpin Melalui Media Sosial?

Tahun baru adalah harapan baru yang lebih baik bagi semua orang, setidaknya kita sering mendengar orang – orang bertanya, apa resolusimu di tahun baru? Beragam jawaban yang kita temukan, ada yang ingin mendapatkan jodoh, ingin pekerjaan lebih baik hingga ingin memperbaiki pola hidup yang lebih baik dari sebelumnya, tentu semua itu adalah harapan – harapan dan optimisme yang sejatinya harus selalu ada pada setiap manusia. Namun demikian, banyak orang yang beranggapan bahwa merayakan tahun baru tidak sesuai dengan ajaran Islam, sehingga banyak orang yang melarang atau bahkan beberapa kepala daerah langsung melarang adanya perayaan pergantian tahun baru. Jika kita menilik hanya pada satu sisi yaitu sisi negatif tentu saja perayaan malam tahun baru adalah perbuatan sia-sia, oleh karenanya tidak dapat kita memandang satu aspek persoalan pada satu sisi saja. Lalu sebenarnya bagaimanakah hukum merayakan pergantian tahun baru Masehi menurut Islam?

Islam adalah agama yang sangat lentur dan sesuai dengan berbagai zaman, lentur dalam artian selama tidak menyalahi syariat itu sendiri, oleh karenanya Islam menjadi agama yang Rahmatan Lil’alamin. Perayaan tahun baru sejatinya memang tidak mempunyai sejarah dalam Islam. Namun sejarahnya bermula dari kota Romawi dibawah kekaisaran Julian, kaisar Julian membuat Kalender dan awal bulan di namai Januari karena terdapat patung berwajah dua menghadap ke depan dan belakang, dilanjutkan dengan Februari dan seterusnya.

Dalam merayakan tahun baru tentu saja kita tidak menyembah atau mendewakan patung Januari, namun pada awal tahun kita niatkan dan berharap sesuatu yang baik kedepanya, oleh karena itulah merayakan malam pergantian tahun baru dengan berkumpul bersama keluarga, makan bersama sambil saling memberikan nasehat dan suport untuk tahun depanya menjadi lebih baik adalah boleh dilaksanakan dan hukumnya tidak haram, karena dengan niatan untuk saling introspeksi dan saling mensuport antara saudara dan teman.

Malam pergantian tahun baru menjadi tidak boleh dan haram jika diisi dengan berbagai acara maksiat dan minum-minuman keras yang memabukkan, menghambur-hamburkan uang serta berpesta pora yang lebih dekat ke pada kedzaliman, sesuai dengan firman Allah SWT :

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al ‘Ashr)

Demikianlah, uraian yang dapat saya sampaikan, semoga kita semua menjadi orang-orang yang dapat memanfaatkan wantunya dan menjadi orang-orang yang sabar sehingga tidak menjadi orang yang merugi.

Wallahua’lamu  Bhissowab

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Comment

LEAVE A COMMENT