keajaiban Kabah

Pakar sains Al Qur’an Prof. DR. Zaglul an-Najjar menguraikan (setelah dikembangkan sedikit) bahwa setidaknya ada tiga keajaiban yang dahsyat mengiringi awal peletakan Ka’bah di bumi yaitu: Pertama, Konstruksi Ka’bah sendiri; kedua, permukaan semuanya daratan bumi berkembang dari bawah dasar pondasi Ka’bah; dan ketiga, Ka’bah di Kota Makkah berada pada posisi geografis dipertengahan daratan bumi:

  • Ka’bah Rumah Pertama Di Permukaan Bumi

Firman Allah: “Sesungguhnya rumah yang pertama dibangun untuk manusia, ialah Baitullah (Ka’bah) yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia”. Ayat ini muhkam dan petunjuknya sangat terang bahwa Ka’bah adalah rumah yang paling pertama dibangun untuk kepentingan manusia, ungkapan Al Qur’an “awwala baitin” (ruma yang pertama); yaitu tidak membatasi rumah “ibadah” pertama – meskipun Ka’bah merupakan rumah pertama tempat menyembah Allah dipermukaan bumi – maka disimpulkan bahwa Ka’bah memang benar-benar rumah pertama diletakkan di atas permukaan bumi secara mutlak, sesuai dengan makna nash ayat. 

Hal ini juga dipertegas lagi dalam Al Qur’an dengan menyebut Ka’bah sebagai “al-Baitul ‘Atiq” (rumah tua),  seperti pada surah al-Hajj (Lihat: QS. Al-Hajj: 29), begitu juga firman Allah: “dibangun untuk manusia”, menghilangkan kesan bahwa ia dibangun oleh manusia, yaitu mengkostruksinya dari awal. Dengan demikian, semakin mendukung persepsi bahwa malaikat-lah yang pertama kali telah membangun Ka’bah mulia itu, kemudian rumah tua itu telah mengalami beberapa kali keruntuhan termakan usia dan faktor alam, lalu dibangun kembali oleh generasi demi generasi setidaknya sudah 6 kali mengalami rekonstruksi. 

Keterangan ini diperkuat adanya sebutan-sebutan seperti: Karamah, barakah, dan syaraf untuk kota Makkah secara khusus, dan bukan untuk materi bangunan Ka’bah (kecuali Hajar Aswad). Kesimpulan ini berdasarkan hadits-hadits nabi, di antaranya rasulullah SAW bersabda ketika berpidato dihadapan manusia pada hari pembebasan kota Makkah:

“Bahwasanya kota Makkah  telah diharamkan Allah SWT semenjak diciptakan langit dan bumi, tidak boleh seorang pun yang beriman kepada Allah dan hari akhirat untuk menumpahkan darah di atasnya, dan tidak merusak pepohonannya, maka jika ada seorang yang pernah diizinkan melakukan peperangan di dalamnya, maka katakanlah: Sesengguhnya Allah telah mengizinkan kepada rasul-Nya dan tidak mengizinkan kepada kamu, dan izin itu hanya pernah berlaku sesaat dari suatu hari, setelah itu keharaman kota Makkah dikembalikan lagi seperti sebelumnya”. (Lihat: Kitab Shahih Bukhari).

Banyak sekali hadits-hadits nabi yang bercerita tentang kehormatan kota Makkah, seperti sabda rasulullah SAW yang lain: “Umat ini akan senantiasa baik-baik saja selama mereka masih menghormati tanah haram ini dengan sungguh-sungguh, lalu apabila mereka telah menyia-nyiakannya maka mereka telah binasa” (Lihat: Ahmad da Ibn Majah). Hadits-hadits nabi tersebut merupakan penjelasan dari firman Allah melalui lisan rasul-Nya yang mulia SAW, seperti dari firman Allah:

Terjemah Arti: “Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Makkah) yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Naml: 91).

  • Permukaan Daratan Bumi Seluruhnya Mulai Terbentang Dari Bawah Dasar Ka’bah

Hasil riset terbaru dari Geoscience modern mengungkapkan bahwasanya planet bumi yang kita huni ini, tersingkap setelah melawati suatu fase dalam sejarahnya yang sangat panjang tenggelam di dalam air secara keseluruhan, maka hilang daratan seluruhnya, tidak tampak daratan secuil pun. Kemudian Allah SWT menarik dasar samudera yang sangat dalam ini dengan sebuah revolusi vulkanik luar biasa yang telah menyingkap permukaan di atas dasar laut pertama sehingga membentuk pegunungan di tengah-tengahnya mirip apa yang dikenal sekarang dengan pegunungan di tengah laut, rantai batuan vulkanik dan batuan sedimen yang bercampur, yang sambung menyambung sepanjang samudera yang ada sekarang. 

Selanjutnya dikembangkan oleh aktivitas gunung berapi di dasar laut terus-menerus, pada skala interval kegiatan dan kelesuan dalam rangka menunjukkan beberapa puncak di atas permukaan air di lautan menjadi sejumlah pulau vulkanik, seperti: Kepulauan Hawaii, Jepang, Filipina, gugusan kepulauan nusantara dan lainnya. 

Pegunungan yang terbentuk di atas dasar laut pertama, yang telah menenggelamkan bumi, perlahan telah tumbuh dengan aktivitas vulkanik terus menerus, maka munculah permukaan daratan pertama di atas permukaan air, yaitu bumi daratan Makkah, lalu Allah SWT memerintahkan malaikat untuk membangun Ka’bah pada sepenggal pertama bumi tersebut. Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda: “Ka’bah pada awalnya adalah berada di dasar laut lalu tersingkap dari padanya bumi” (Lihat: al-Harawi, Zamakhsyari). 

Sebagaimana sabda rasulullah SAW yang lain: “Bumi bermula tersingkap dari Makkah maka Allah SWT membentangkan daratan dari bawahnya, maka disebut “Ummul Quraa” (Ibu Pemukiman)”. (Lihat: Musnad Imam Ahmad). Dan masih banyak lagi hadits-hadits nabi yang senada tidak bisa disebutkan semuanya di sini. 

Rentetan letusan gunung berapi di atas dasar laut pertama telah mulai menyingkap permukaan daratan secara perlahan, sehingga terbentuk pulau-pulau vulkanik, lalu pulau-pulau itu saling berdempet satu sama lain, dan membentuk suatu blok daratan yang dikenal sebagai ibu benua atau ibu benua-benua (Pangaea), kemudian – atas kehendak Allah – benua-benua itu terbelah-belah menjadi lempengan bumi, yang dikenal sekarang sebagai tujuh benua. 

Pada awalnya lempengan-lempengan bumi itu saling berdekatan satu sama lain, kemudian terjadi berbagai faktor alam termasuk erosi, abrasi dan lain-lain, yang menyebabkan benua-benua tersebut terpisah semakin jauh seperti sekarang ini. Dan ketujuh benua bumi yang ada sekarang masih saja bergeser terus menerus, tetapi gerakannya sangat pelan sehingga tidak dapat dirasakan manusia, meskipun dapat dideteksi melalui alat pengukuran atau pendeteksiaan yang canggih.

  • Ka’bah di Kota Makkah Berada Pada Posisi Pertengahan Daratan Bumi

Dalam sebuah studi untuk menentukan arah kiblat dari kota-kota besar di dunia, Almarhum Profesor DR. Hussain Kamaluddin mencatat zona kota Makkah berada pada pusat lingkaran yang terbentang disekelilingnya ketujuh benua yang ada sekarang, lalu berkesimpulan bahwa kota Makkah merupakan titik pelebaran seluruh daratan bumi secara berkala dan teratur, artinya kota Makkah al-Mukarramah adalah central bumi. 

Lebih lanjut studi ini menjelaskan, bahwasanya pada setiap kondisi daratan (mulai dari satu blok daratan; terus terpecah-pecah menjadi lempengan 7 benua; ketika benua-benua itu masih berdekatan; sampai kepada berjauhan sampai sekarang; dan masih akan bergerak terus), namun kota Makkah akan tetap berada pada titik centralnya (di tengah-tengah). Hal ini menegaskan bahwa daratan bumi ini telah tersingkap dari bawah Ka’bah di kota Makkah, sebagaimana telah di jelaskan di atas dan keterangan dari hadits-hadits nabi yang telah disebutkan. Dan keterangan ini akan lebih jelas lagi dengan firman Allah:

Terjemah Arti: “Dan ini (al-Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi, membenarkan Kitab-Kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Makkah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya” (QS. Al An’am: 92).

Wallahu A’lam!