pendidikan agama
pendidikan agama

Kurangnya Pendidikan Agama dan Krisis Moralitas Bangsa

Dewasa ini, pendidikan Indonesia sedang hangat diperbincangkan. Bukan karena prestasi pemerintah yang berhasil dalam membangun pendidikan bagi warga negaranya, justru saat ini pendidikan di tanah air sedang dihadapkan dalam masalah besar. Dunia pendidikan di Indonesia dihadapkan dengan berbagai macam fenomena yang memperihatinkan.

Salah satu yang cukup  merisaukan adalah krisis sikap hormat siswa terhadap guru. Seringkali saya melihat dan menyaksikan secara langsung beberapa remaja atau siswa yang tidak memiliki rasa hormat terhadap gurunya. Seorang siswa berani berbicara keras kepada gurunya, menyela pembicaraan guru dan lain sebagainya.

Sungguh hal itu sangat tidak beradab. Keadaan ini menyentakkan keperihatinan dan pertanyaan, ke mana akhlak dan budi pekerti luhur? mengapa pendidikan kita seolah gagal membentuk siswa yang berakhlak ?

Tepat dan tidak melebihkan jika dikatakan bawa moral para siswa mengalami kemerosotan. Siswa cenderung melupakan sopan santun terhadap guru yang pada dasarnya adalah orang tua di sekolah yang harus dihormati. Tidak masalah, jika menganggap guru sebagai teman, namun sopan santun juga harus tetap dijaga.

Menurut hemat saya, kemerosotan budi pekerti luhur, akhlak, moral, dan etika siswa dikarenakan gagalnya pendidikan agama di sekolah. Pendidikan seharusnya dapat menjadikan siswa lebih bermoral dan berprestasi, akan tetapi fakta berkata lain. Maraknya kasus yang berbau degradasi moral siswa ini telah menjadi pukulan besar bagi pendidikan di tanah air.

Menjadi pertanyaan besar, apa itu moral? Di dalam buku Pendidikan Kewarganegaraan dijelaskan “Moral adalah usaha yang dilakukan secara terencana untuk mengubah sikap, perilaku, tindakan, kelakuan yang dilakukan siswa agar mampu berinteraksi dengan masyarakat sesuai dengan nilai moral dan kebudayaan setempat”.

Membangun mentalitas, moral dan etika, atau lebih tegas lagi karakter (moral and character building) siswa memang tidak mudah. Namun harus segara disadari, keberhasilan mendidik dan membentuk akhlak, moral, budi pekerti atau karakter siswa merupakan langkah paling fundamental untuk membentuk karakter bangsa.

Baca Juga:  4 Langkah Mudah Mendampingi Buah Hati Berlatih Puasa

Berdasarkan pengamatan, pelaksanaan pelajaran agama di sekolah selama ini sudah berjalan. Sekolah-sekolah di Indonesia sudah memberlakukan pelajaran agama dalam kurikulum. Pelajaran pendidikan agama merupakan salah satu pelajaran wajib yang harus ada dan diterima oleh para siswa. Hal tersebut diatur dalam Peraturan Menteri Agama RI No. 16 tahun 2010 tentang pengelolaan pendidikan agama pada sekolah.

Akan tetapi, faktanya aplikasi Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah umum kurang maksimal karena pelaksanaanya hanya 2 jam pelajaran per minggu. Dengan tidak maksimalnya pelaksanaan Pendidikan Agama Islam (PAI) ini berakibat pada terjadinya ketidakseimbangan porsi pendidikan. Siswa cenderung menguasai dan memahami ilmu pengetahuan umum, tetapi lemah dalam segi ilmu agama, sehingga berdampak pada krisisnya sikap hormat terhadap guru.

Karena kurangnya moral agama, banyak terjadi kasus ketidakjujuran yang mengakibatkan korupsi di masyarakat. Korupsi seperti ini tidak ada habisnya, calon koruptor baru terus tumbuh apabila sistem pendidikan di negeri ini masih menerapkan cara lama. Dalam sistem birokrasi, para birokrat muda mencontoh para pendahulunya seolah korupsi menjadi hal lumrah. Tidak ada semangat penolakan dari mereka dikarenakan kurangnya pengetahuan agama yang didapat semasa sekolah dulu. Pertanyaannya kemana perginya nilai-nilai kebaikan yang diperoleh selama mengenyam pendidikan ?

Melihat kenyataan sekarang, agama di zaman ini hanyalah menjadi bahan pendidikan yang kurang penting dalam perkembangan bangsa. Mereka tidak menyadari bahwa agama mampu membentuk karakter bangsa untuk lebih maju. Mengapa demikian ? Karena dengan adanya agama, masyarakat kita mempunyai nilai-nilai moral yang bisa menghasilkan dampak positif, memberikan rasa kenyamanan dan keamanan, membentengi diri dari hal-hal yang tidak beradab seperti korupsi dan lain sebagainya.

Karena salah satu tonggak utama bangsa yang maju ialah generasi mudanya yang bertakwa, bermoral, berkepribadian luhur dan cerdas, maka pendidikan berkualitas dan berakidah mutlak diperlukan. Agama dan moral merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Agama adalah satu-satunya sumber yang terpelihara dan dapat membedakan moral baik dan buruk.

Baca Juga:  Ditekan Dunia Internasional, China Tetap Ngotot Lanjutkan Kamp “Pelatihan” Muslim Uighur

Karena itulah, perlu diseimbangkan porsi dari pendidikan agama dan pendidikan umum di sekolah-sekolah. Sehingga fungsi dari pendidikan sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam  Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 yang berbunyi “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Dalam rangka menggapai tujuan itu, peran dunia pendidikan mendapatkan tugas yang sangat berat. Tugas yang dimaksud adalah bagaimana dunia pendidikan secara sabar, sistematis dan terencana agar dapat senantiasa meningkatkan pemahaman siswa terhadap nilai-nilai agama dan moral. Karena agama merupakan sebuah pedoman hidup yang berisi aturan-aturan yang harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dan di dalam pendidikan agama dapat membentuk dan mengubah sikap seseorang menjadi lebih baik lagi.

Penulis : Rosi Mulyaningsih

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

ACT menyalurkan zakat

ACT Bukan Bagian dari Organisasi Pengelola Zakat

Jakarta – Aksi Cepat Tanggap (ACT) ternyata bukan bagian dari organisasi pengelola zakat. Penegasan disampaikkan …

Asrorun Niam

Kasus ACT, MUI: Perlu Kehati-hatian Ganda Kelola Zakat

Jakarta –  Mengelola dana zakat diperlukan kehati-hatian ganda oleh lembaga amil zakat (LAZ). Ini penting …