mengqadha puasa ramadan
mengqadha puasa ramadan

Lapar Karena Berpuasa, Apa Faedahnya? Ini Jawaban Imam al-Ghazali!

Secara sederhana, puasa adalah menahan dari makan dan minum mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Aktivitas demikian menjadikan puasa lekat dengan rasa lapar. Tentu saja hal ini bukan tanpa alasan, alias minus faedah.

Bekaitan dengan hal itu, Imam al-Ghazali dalam kitabnya, Ihya Ulumiddin, mengupas secara mendalam tentang faedah laparnya orang yang sedang berpuasa.

Pertama, membersihkan hati dan menyibak tirai yang menutupi mata hati.

Rasa rakus, sombong dan kikir adalah deretan penyakit hati yang sulit dihindari oleh manusia. Puasa, terutama rasa lapar, dapat membersihkan hati kita dari sifat-sifat tercela tersebut.

Mungkin selama ini kita serba tercukupi dan hampir setiap kali lapar, dengan mudah kita mencari atau membeli makanan. Namun, saat puasa, sekalipun Anda mempunyai sebongkah berlian dan harta yang banyak sekalipun, tetap saja tidak bisa membeli dan mencari makan di dalam waktu yang telah ditentukan sebagai bagian dari kewajiban berpuasa. Rasa lapar ini, selain dapat membersihkan hati, juga dapat menyibak tirai yang menutupi mata hati.

Berkaitan dengan ini pula, Abu Yazid mengungkapkan kata-kata yang penuh dengan hikmah. Bahwa, menurutnya, rasa lapar adalah laksana mendung ketika seseorang dalam keadaan lapar, niscaya hikmah akan menghujani persada hati.

Kedua, menyebabkan hawa nafsu menjadi hina dina sehingga tidak mampu menyombongkan diri dan mengkufuri nikmat.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi, disebutkan bahwasannya pada suatu ketika, Malaikat Jibril menawarkan dunia dan segala pernak-pernik kemewahan dunia kepada Nabi Muhammad SAW. Namun, apa kata Nabi?

Tidak. Aku lebih baik merasakan lapar sehari dan kenyang sehari. Apabila lapar, maka aku akan bersabar dan merendahkan diri kepada Allah. Dan apabila aku merasakan kenyang, maka aku akan bersyukur kepada Tuhanku.”

Baca Juga:  Inilah 3 Keistimewaan Bagi Orang yang Bertahajud dalam Perspektif Al-Qur’an (1)

Jadi tidak salah apabila ramadhan disebut sebagai bulan jihad akbar, yakni melawan hawa nafsu. Sebab, ketika lapar dan dahaga, hawa nafsu akan merasakan kelemahannya. Kesombongan menjadi musnah lantaran hawa nafsu dikekang.

Selain itu, rasa lapar juga mampu menundukkan kekuatan hawa nafsu yang selalu mengajak kepada perbuatan maksiat. Sebagaimana yang telah dideklarasikan para ulama, bahwasannya sumber dari segala kemaksiatan adalah hawa nafsu yang merajalela dalam diri seorang dan hawa nafsu tersebut tidak dapat dikendalikan, melainkan hawa nafsu lah yang mengendalikan seseorang tersebut.

Mengekang hawa nafsu ini sejatinya merupakan terjemahan dari tujuan utama puasa, yakni bertakwa (QS. al-Baqarah: 183). Orang yang bertakwa tentunya bisa dan akan senantiasa mengekang hawa nafsunya.

Ketiga, menyehatkan.

Banyak kajian modern yang menyimpulkan bahwasannya, lapar dan dahaga yang dilakukan secara kontinyu dalam waktu tertentu bisa memberikan dampak pada kesehatan. Para peneliti mengungkapkan, sistem pencernaan yang sudah bekerja sekian lama yang nyaris tidak berhennti, maka ketika seseorang merasakan lapar dan dahaga secara teratur, sama halnya akan mengistirahatkan sistem pencernaan dalam tubuh. Pada saat inilah, manusia mengalami pembaharuan kembali (renewal), sehingga menjadi lebih baik dari sistem pencernaan sebelumnya (Zaprulkhan, 2015: 89-95).

Demikianlah sebagian hikmah rasa lapar karena berpuasa sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam al-Ghazali. Semoga hikmah atau faedah ini dapat kita jalankan dalam puasa kali ini dan tentu saja akan semakin menambah keimanan kita.

Bagikan Artikel ini:

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Avatar of Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag
Penulis Buku Konsep Khilafah dalam Alquran Perspektif Ahmadiyah dan Hizb Tahrir

Check Also

perusakan masjid ahmadiyah

Perusakan Masjid Ahmadiyah Tak Sesuai dengan Syariat Islam!

Miris memang menyimak berita terkini terkait sejumlah massa yang merusak masjid milik jamaah Ahmadiyah di …

persatuan

Tafsir Kebangsaan [2]: Inilah Cara Islam Membangun Persatuan dalam Keberagaman

Realitas historis dan sosiologis menunjukkan bahwa umat Islam terdiri dari berbagai macam golongan (firqah), madzhab, …