Mui

Lembaga Tukang Sertifikasi yang Takut Sertifikasi

Sebenarnya tidak perlu menanggapi berlebihan wacana sertifikasi. Umat dan bangsa ini sudah terbiasa mengenal sertifikasi dari makanan hingga barang termasuk jilbab dan kulkas pun ada sertifikasi halal. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjadi lembaga sertifikasi barang-barang yang seakan otoritatif dalam persoalan sertifikasi.

Ketika ada gagasan sertifikasi penceramah atau penceramah bersertifikat dengan tujuan memberikan jaminan-bukan jaminan halal dan haramnya- kemampuan dan kompetensi jika dilihat secara substansi yang positif sangat baik. Ada dorongan untuk meningkat kompetensi para da’i dan menjaga jalur penceramah sesuai koridor wawasan kebangsaan. Lalu, apa salahnya?

Ketika MUI sendiri silang pendapat di internal anggotanya tentang sertifikasi penceramah tentu ini patut menjadi koreksi internal. MUI berani memberikan jaminan makanan halal sebagai asupan masyarakat muslim di Indonesia. Asupan makanan halal ini sangat penting bagi masyarakat. Namun, asupan pengetahuan agama dari para penceramah juga perlu diperhatikan oleh MUI.

Pengetahuan keagamaan yang didakwahkan oleh penceramah menjadi konsumsi seluruh umat Islam dari berbagai kalangan. Apakah tidak pernah ada pergesekan masyarakat karena konten ceramah yang dilakukan para da’i. Kadang akibat ceramah tertentu yang selalu menyalahkan yang lain bisa menimbulkan prahara sosial di tengah umat.

Jika sertifikasi diarahkan pada tujuan kompetensi dan pedoman penceramah di tengah masyarakat tentu itu sangat baik. MUI pun sebenarnya menjadi bagian lembaga terpenting untuk mengambil peran itu. Bukan sekedar sertifikasi barang kulkas yang halal dan haram, tetapi memastikan penceramah sesuai dengan koridor dakwah washtiyah dan rahmatan lil alamin.

Dakwah bukan bermodal pengetahuan yang dangkal. Bukan sekedar berpegang pada satu ayat lalu cukup menjadi alasan tanggungjawab keagamaan untuk menyampaikan kepada umat. Dakwah memiliki tanggungjawab keilmuan dan sosial yang tidak bisa dihindari. Bahkan dakwah harus menuntut kearifan sosial seorang da’I untuk menyampaikan dengan pendekatan yang luwes dan teduh.

Baca Juga:  Bagaimana Menjaga Kalimat Tauhid sampai Mati

Berkacalah bagaimana para pendakwah Islam mampu meluluhkan hati umat nusantara. Bukan pendakwah yang menakuti umat, tetapi pendakwah yang mencuri hati umat dengan konten yang menyejukkan dan teladan yang baik. Kearifan para pendakwah seperti Walisongo patut menjadi pedoman para da’i saat ini.

Dalam konteks memberikan panduan, pedoman dan penguatan kompetensi sertifikasi tentu menjadi sangat penting. Bahkan pengajar dan pendidik pun harus melewati proses sertifikasi tenaga pengajar. Bagaimana untuk pengajar umat yang secara luas.

Sekali lagi lembaga tukang sertifikasi seperti MUI seharusnya tidak usah mengkhawatirkan tentang wacana sertifikasi. Atau jangan-jangan MUI merasa wilayahnya sedang dijajah oleh Kementerian Agama, Wallahu a’lam.

Bagikan Artikel

About Farhah Salihah

Avatar