makam dibongkar
makam dibongkar

Makam Harus Dibongkar Gara-Gara Ini

Manusia adalah makhkuk Tuhan yang paling sempurna di antara makhluk lain yang bertebar di muka bumi ini. Kesempurnaan manusia dapat dilihat dari tata letak masing-masing perangkat anggota tubuh yang Tuhan sematkan secara proporsional dan tepat guna.

Sekedar contoh, segala aksesoris yang berada di wajah manusia begitu indah dan tersemat di tempat yang pas dengan ukuran yang proporsional dan tata letak yang sempurna. Ukuran hidung yang sangat pas, meskipun berbeda, namun tidak sampai menghabiskan sepertiga ukuran wajah, dan tata letak lubang yang mengarah ke bawah. Apa jadinya jika lubang hidung menghadap ke atas, tentu akan terisi air saat terkena hujan. Jika manusia mau berpikir, maka setiap perangkat dalam tubuhnya berada dalam posisi yang proporsional dan tepat guna. Oleh sebab itu, Allah menegaskan dalam firman-Nya:

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (QS. At-Tin [95]: 4)

Di samping itu, manusia juga merupakan makhluk yang paling mulia. Allah jugalah yang secara langsung memberikan statemen tentang kemuliaan anak cucu Adam (QS. Al-Isra’ [17]: 70). Dengan demikian, manusia menjadi terhormat karena statusnya sebagai manusia. Selama masih melekat sifat manusia, maka atas dasar ke-manusia-annya ia terhormat dan harus dihormati. Manusia terhormat bukan saja ketika masih hidup, tetapi saat mati pun ia tetap harus diperlakukan secara terhormat. Dalam hal ini Islam mengatur tata cara merawat jenazah (tajhiz al-mayyit) yang wajib dilakukan oleh manusia yang masih hidup, mulai dari memandikan, mengkafani, menshalati, dan menguburkan.

Tidak hanya itu, bahkan hingga jasad manusia berbaring di perut bumi, pusara tempat mereka dikubur tetap harus diperlakukan secara terhormat. Keterhormatan makam telah disepakati oleh semua kalangan pakar fikih (fuqaha’), hingga mereka menetapkan beberapa aturan terkait perlakuan terhadap kuburan/pusara, antara lain: pertama, dimakruhkan duduk, berjalan, tidur di atas kubur, lebih-lebih membuang hajat, bahkan menurut Hanafiyah duduk untuk buang air kecil atau air besar hukumnya mendekati haram. Akan tetapi, menurut pendapat yang terpilih (qaul al-mukhtar) tidak dimakruhkan duduk di atas kubur untuk membaca Al-Qur’an.

Baca Juga:  Video Youtuber Menyiksa Hewan Untuk Meningkatkan Subscriber; Inilah Hukum Menyiksa Hewan dalam Islam

Kedua, haram membongkar kuburan selama masih diduga kuat terdapat tulang-belulang jenazah di dalamnya. Namun, dalam kondisi tertentu diperbolehkan membongkar kuburan karena kondisi mendesak (darurat) atau untuk tujuan-tujuan tertentu yang dibenarkan.

Kuburan boleh dibongkar kembali karena alasan berikut ini: (a) jenazah yang dikubur belum dimandikan atau belum dikafani, atau posisi jenazah dalam kubur tidak menghadap kiblat. Sementara kondisi jenazah diperkirakan belum berubah berdasarkan pernyataan tim ahli, atau tidak dikhawatirkan rusak jika dibongkar.

Namun, dalam menyikapi poin ini ulama mazhab berbeda pendapat. Menurut Syafiiyah, kalau hanya untuk kepentingan dikafani tidak perlu dibongkar, karena tujuan menutup jenazah sudah terlaksana dengan tertutupi oleh debu. Sedangkan menurut Hanafiyah, jenazah yang tidak menghadap kiblat tidak perlu dibongkar.

Dalam hal jenzah yang belum dishalati, menurut Malikiyah dan Hanabilah juga perlu dibongkar, akan tetapi menurut yang lain tidak perlu, cukup dilaksanakan shalat jenazah di atas kuburnya. (Muhammad Ibn Ahmad Ibn Abi Sahl as-Sarakhsi, Al-Mabsuth, Jilid II, hal. 473., Abu Yahya Zakariya al-Anshari, Fath al-Wahhab bi Syarh Mihaj al-Thullab, Jilid I, hal. 176., Syihabuddin Abu al-‘Abbas Ahmad al-Qalyubi, Hasyiyata Qalyubi wa ‘Umairah, Jilid V, hal. 13.).

(b) kafan yang digunakan dan tanah yang ditempati berstatus gasab, sementara pemiliknya tetap tidak rela, (c) akan digunakan untuk pelebaran masjid jamik, (d) terdapat harta yang ikut terpendam bersama jenazah, baik miliknya sendiri atau milik orang lain, karena membiarkan harta ikut terpendam termasuk perbuatan yang menghambur-hamburkan harta secara sia-sia (idla’ah al-mal/tadlyi’u al-mal).

Rasulullah melarang perbuatan menghambur-hamburkan harta dengan sia-sia. Hal ini juga didasarkan pada kejadian shabat Syu’bah bin Mughirah yang cincinnya terjatuh saat proses pemakaman Rasulullah, kemudian para sahabat yang lain menyuruhnya untuk mengambil kembali. Namun, Malikiyah tidak membolehkan membongkar kubur gara-gara harta orang lain yang terikut dengan jumlah yang sedikit. (Wahabh Zuhaili, Al-Fiqh al-Islmaiy wa Adillatuh, Jilid II, hal. 667., Muhammad Ibn Ahmad Ibn Abi Sahl as-Sarakhsi, Al-Mabsuth, Jilid II, hal. 473.).

Baca Juga:  Langgar Aturan Haji, 16 Orang Ditangkap Dalam Sepekan Terakhir

(e) jenazah perempuan yang sedang hamil dan dimungkinkan bayi yang dikandungnya masih hidup berdasarkan kajian tim ahli, untuk mengeluarkan bayi dengan cara caesar. Namun, menurut Hanabilah tidak perlu membelah perut jenazah perempuan untuk tujuan mengeluarkan bayi, hal itu menciderai kehormatan manusia, karena pada umumnya bayi yang dikandung tidak akan hidup. Oleh karena itu, tidak boleh melakukan perbuatan yang merusak kehormatan (membelah perut jenazah) demi mengharap sesuatu yang tidak pasti (mauhum), yakni bayi yang dikandung. (Ibnu Qudamah, Al-Mughni, Jilid V, hal. 49). [] 

Wallahu a’lam Bisshawab!

Bagikan Artikel ini:

About Zainol Huda

Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.

Check Also

fatwa

Memahami Fatwa (9): Syarat-syarat Mujtahid

Dalam beberapa artikel sebelumnya telah diulas tentang kriteria seorang mufti. Para ilmuwan Islam berpandangan bahwa …

fatwa

Memahami Fatwa (8): Kepribadian Mufti Menurut Ahmad Bin Hambal

Seorang mufti menjadi corong dan mediator penyampai aturan-aturan syariat terutama yang terkait dengan hukum Islam. …