ka'bah
Haji

Makna Filosofis Ritual Haji (1)

Salah satu pengamalan ajaran Islam yang menarik untuk dikaji adalah ibadah haji. Ibadah yang setiap tahun dilakukan umat Islam secara kolosal termasuk umrah setiap waktu. Haji adalah ibadah yang dianggap oleh sementara orang sebagai ibadah berkelas tinggi karena memerlukan waktu, tenaga dan biaya yang lebih tinggi dibandingkan ibadah lainnya. Berbagai persiapan manasik dilakukan oleh calon jamaah haji dengan maksud agar ibadahnya dapat dilaksanakan dengan lancar dan tertib sesuai kaifiyah disiplin ilmu fiqh.

Saat di tanah suci berbagai pengalaman spiritual diperoleh dari pengamalan ajaran haji itu. Banyak yang mencucurkan air mata saat wukuf di Arafah, saat melempar jumrah bahkan saat thawaf dan sa’i. Suasana khusyu’ dan larut dalam zikir dan do’a menyelimutinya setiap saat di arena haji di tanah suci. Namun keprihatinan justru terjadi setelah jamaah haji pulang ke kampung halaman disebabkan menurunnya motivasi membangun kesalehan sebagaimana yangdilakukan di tanah suci.

Kepribadian hasil bentukan Mekkah memudar kembali seperti sedia kala saat sebelum berhaji walau sudah diwisuda dengan gelar haji dan hajjah di depan namanya. Semangat kebersamaan, suka bersedekah, menolong sesama kawan, memakmurkan masjid dan bacaan al-Qur’an serta do’a yang khusyu di setiap waktu mulai menurun perlahan dan tidak sedikit yang mulai sirna. Pemandangan prosesi hingga pasca pelaksanaan ibadah ibadah haji diatas diduga karena haji dikaji hanya dengan sebuah pendekatan normatif saja (fiqh ansih). Sementara pendekatan studi lainnya belum digunakan seperti pendekatan filosofis, fenomenologis, sosiologis bahkan historis untuk memotivasi agar ibadah haji semakin penuh dengan makna kehidupan yang lebih hakiki.

Makna Filosofis Peribadatan  Haji

Studi haji dengan pendekatan filosofis, apabila dikaji, maka ibadah haji mengandung nilai-nilai hikmah yang sangat tinggi dalam kehidupan manusia. Nilai-nilai hikmah tersebut sangat penting dikembangkan untuk membangun kehidupan yang lebih dinamis. Haji adalah muktamar sosial tahunan, dimana Allah mengundang umat Islam dari berbagai penjuru dunia berhimpun dalam kebaikan.

Berbagai macam ras, warna kulit, bangsa-bangsa dari seluruh penghuni bumi ini berkumpul memenuhi undangan Allah sebagai peserta. Berbagai agenda muktamar itu telah disusun dan mesti diikuti setiap peserta secara tertib, tidak boleh membuat agenda sendiri sesuai selera peserta. Memang berat, untk menjadi peserta Muktamar haji ini membutuhkan kemampuan biaya perjalanan yang banyak, fisik yang kuat dan kekuatan jiwa dalam menghadapi berbagai hal dengan penuh kesabaran dan istiqamah. Karenanya Quraisy Shihab menyebutnya sebagai jihad ke dalam jiwa untuk mememlihara kepribadian dan menjalin persatuan umat.

Baca Juga:  Menjaga Lisan

Pendapat ini mengandung makna bahwa haji mempunyai dua domain sekaligus yakni untuk menjaga kualitas keislaan setiap pribadi dan kualitas keislaman umat, kesalehan individu sekaligus kesalehan sosial. Haji tidak dikatakan sebagai sebuah perjalanan, karena setiap perjalanan mempunyai akhir. Haji tidak dapat disebut sebagai sebuah ziarah karena setiap ziarah mempunyai tujuan. Tetapi haji adalah sebuah tujuan mutlak dan sebuah gerakan eksternal menuju tujuan tersebut. Berarti haji adalah menuju Allah sebagai tujuan, sejak sebelum, saat dan sesudah menunikannya.

Haji adalah menuju Allah sebagai titik pusat aktivitas hidup muslim saat di tanah suci hingga kembali ke tanah air masing-masing. Karenanya haji mabrur juga bermakna mabrur di tanah suci dan meneruskan / melestarikan nilai-nilai kemabrurannya di tanah air, tiada berhenti hingga menghadap Allah saat ajal menjemputnya. Rangkaian prosesi ibadah haji adalah ritual yang penuh makna dari setiap setiap kegiatan ibadah, antara lain, yakni:

Ihram

Ihram dari miqat Berihram, yakni melepaskan semua pakaian yang digunakan lalu menggunakan ihram dengan dua lembar kain terutama yang berwarna putih tanpa jahitan bagi laki dan pakaian biasa untuk wanita sejak dari miqat (waktu dan tempat yang ditentukan). Ada apa dengan melepas dan berganti pakaian? menyatakan karena pakaianlah yang menutupi diri dan watak manusia. Pakaian melambangkan pola, preferensi, status, dan perbedaan tertentu. Pakaian menciptakan “batas” palsu yang menyebabkan perpecahan umat manusia. Dari perpecahan itu akan timbul konsep “aku”, bukan “kami/kita”.

Dengan demikian melepas pakaian mengandung makna bersihnya seorang muslim dari segala sesuatu yang mengotori dirinya terutama penyakit hati seperti riya, ujub dan syirk. Itulah sebabnya bagi yang sudah berihram maka haram baginya melakukan perbuatan tertentu yang dapat menyebabkan tertutupnya diri dari segala kemuliaan. Ia harus mengendalikan lisanny dari segala ucapan yang tidak baik, pertengkaran, syahwat, membunuh, meotong tanaman, twrsuk emakai parfum.

Baca Juga:  Panduan Keluarga Sakinah : Kewajiban Suami Terhadap Istri

Sayyid Quthb memaknainya dengan melepaskan diri dari ikatan selain ikatan Islam. Karena sesungguhnya ikatan Islam itulah satu-satunya ikatan yang sejati, nasab Islam itulah nasab sejati, dan Islam itulah satu-satunya sibghah yang sejati. Ihram juga bermakna prosesi melepaskan diri dari segala ikatan nafsu untuk mencapai derajat yang suci dan tinggi. Cengkeraman hawa nafsu yang telah menutup seluruh aspek dirinya hingga lupa kalau ia adalah manusia biasa yang lemah. Kain ihram juga perlambang kain akhir kehidupan, penghantar ke liang lahat tanpa yang lain. Setiap yang berihram disadarkan bahwa akhir kehidupan tidak ada yang menyertai dirinya kecuali kain kafan tanpa lainnya. Inilah kesadaran bahwa seluruh fasilitas hidup yang ada pada dirinya hanyalah hak pakai, bukan hak milik. Semuanya milik adalah mutlak hak Allah.

Talbiyah

Dimulai dari miqat, seseorang yang telah berihram berikrar dengan kesungguhan menyatakan “Labbaika Hajjan” (Aku penuhi panggilan-Mu untuk haji). Sesudah itu seluruh jamaah bergerak menuju Baitullah di Makah dengan memperbanyak ucapan talbiyah “Labbaika Allahumma labbaik, Labbaika laa syarika laka labbaik, inna al-hamda wanni’mata laka wa al-mulka laa syariika lak”, terus dibaca hingga perjalanan sampai di Baitullah. Talbiyah adalah ucapan yang bernilai perjanjian bahwa ia datang untuk memenuhi panggilan Allah dengan penuh taat, syukur dan tiada sedikitpun membawa syirk. Dengan demikian haji adalah ibadah suci yang membawa kesucian bagi setiap yang melaksanakannya terutama suci dari segala syirk dalam ibadah, do’a, bekerja, dan aktivitas lainnya. Talbiyah juga berarti penegasan terhadap perjanjian yang pertama dengan Allah yaitu perjanjian dalam Syahadatain.

Thawaf

Thawaf adalah mengelilingi ka’bah tujuh kali putaran. Ka’bah melambangkan ketetapan (konstansi) dan keabadian Allah. Allah adalah pusat eksisitensi, titik fokus dari dunia yang fana ini. Mengelilingi ka’bah adalah transformasi seorang manusia menjadi totalitas umat manusia. Semua “aku” bersatu menjadi “kita” yang merupakan “ummah” dengan tujuan Allah. Yang terlihat adalah totalitas dan universalitas umat manusia. Jika seseorang melakukan thawaf masih tertuju pada identitas dan kelebihan diri, maka sesungguhnyaia tidak dapat menjadi bagian dari lingkaran thawaf yang totalitas dan universalitas umat ini. Ia hanyalah seorang pengunjung yang berdiri di tepian sebuah sungai dan tidak mencebur ke dalam sungai tersebut.

Baca Juga:  Cara Islam Mengistimewakan Golongan Fakir Miskin

Artinya secara lahiriyah fisik ia thawaf, namun jiwanya belum thawaf karena masih tertutup oleh pakaian yang penuh dengan atribut “akunya”. Thawaf dimulai dari Hajar Aswad (batu hitam) dan berakhir di Hajar Aswad pula. Memulai thawaf dari Hajar aswad adalah cara menemukan “orbit” untuk menemukan jalan keselamatan. Gerakan berputar dari kiri ke kanan dengan arah berlawanan dengan jarum jam adalah “Sunnatullah”yang berlaku bagi jagat raya dan manusia. Fakta ilmiah adalah jawaban yang paling akurat karena planet-planet termasuk matahari dan bumi, berjalan pada rotasinya dengan berputar dari kanan ke kiri, terbalik dengan arah jarum jam, bahkan elektron-elektron juga demikian.

Simbolisasi dari tawaf berdasarkan pemaknaan di atas, adalah bahwa setiap manusia harus memiliki kesadaran yang kuat mengenai pemahaman yang benar dan lurus dari mana kehidupan ini berasal dan ke mana akan menuju. Hakikat hidup adalah dari, oleh dan untuk Allah. Allah adalah pusat kehidupan manusia. Dimanapun dan kapanpun ia berada, ia senantiasa menghadirkan Allah (ma’iyyat Allah) dan menghadirkan kebaikan-kabaikan (ma’iyyat al-hasanah) untuk dirinya dan orang lain. Saat di hadapan Hajar Aswad setiap peserta thawaf mencium atau mengusap atau melambaikan tangan seraya mengucapkan asma Allah “Bismillahi Allahu Akbar”. Kalimat ini sangat agung karena mengandung sumpah setia atau ikatan perjanjian dengan Allah untuk tidak menyekutukan Allah. Dengan sumpah dan perjanjian ini, maka terbebaslah ia dari setiap sumpah setia yang pernah ia buat dengan pihak lain di masa sebelumnya.

Sebagaimana saat memulai berihram dari miqat, maka seorang yang berhaji menegaskan kembali sumpah setia dan perjanjiannya dengan Allah terbebas dengan dengan ikatan-ikatan yang mendominasi dirinya kecuali dominasi ikatan Allah, Zat Yang Maha Menguasai segala makhluk secara mutlak. Semua ikatan yang tidak sejalan dengan Allah harus ia lepaskan, demi monoloyalitasnya dengan Allah dan Rasulullah SAW.

 

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Syah Alfarabi

Avatar of Ahmad Syah Alfarabi

Check Also

permasalahan haji di Indonesia

Permasalahan Haji di Indonesia, Inilah Solusinya!

Ibadah haji yang dilakukan Nabi ternyata berbeda dengan yang dipahami oleh umat Islam saat ini, …

lingkungan hidup dalam al quran

Prinsip Pelestarian Lingkungan Hidup dalam Al-Qur’an

Kelestarian lingkungan dalam hidup umat manusia memiliki peran yang besar bagi kelangsungan hidupnya, karena itulah …