Tradisi Marhabanan

Makna Tradisi Berdiri (Qiyam/Marhabanan) Saat Perayaan Maulid

Sebagian golongan menganggap perayaan memperingati kelahiran Nabi Agung Muhammad Saw sebagai perbuatan yang mengada-ada dalam agama. Salah satu yang menjadi fokus perhatian mereka antara lain tradisi berdiri (qiyam) dalam acara perayaan tersebut, yang dikenal dengan istilah marhabanan.

Mereka menduga bahwa kaum muslimin yang berdiri saat acara perayaan meyakini bahwa jasad Rasulullah hadir di tengah-tengah mereka. Dugaan semacam ini jika memang benar adanya tidak pernah terlintas di hati kaum muslimin yang ikut berdiri saat merayakan maulid Nabi Agung itu.

Menurut Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki al-Hasani tradisi berdiri (qiyam) saat perayaan maulid Nabi, marhabnan, bukanlah sesuatu yang wajib atau sunnah. Hal itu merupakan gerakan yang dilakukan sebagai salah satu bentuk ekspresi kegembiraan dan kebahagiaan mereka.

Ketika mendengar berita tentang kelahiran Nabi Agung Muhammad Saw, seluruh alam bergetar dan terguncang karena bahagia atas nikmat yang tiada tara ini, lalu berdiri adalah ekspresi untuk menampakkan kebahagiaan menyambut kelahiran Manusia Sempurna (al-insan al-kamil) tersebut. Dengan demikian, berdiri bukanlah ekspresi keagamaan, baik ibadah formal ataupun syariat, namun hanyalah persoalan tradisi yang dilakukan kaum muslimin.

Para ulama’ menilai tradisi berdiri ketika perayaan maulid Nabi sebagai suatu kebaikan, setidaknya menurut Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki al-Hasani, karena beberapa alasan:

Pertama, tradisi ini dilakukan oleh para ulama di berbagai belahan dunia dan mereka menilai tradisi ini merupakan suatu kebaikan dengan tujuan mengagungkan kelahiran Nabi Agung Muhammad Saw. Berdasarkan fakta ini dapat dikembalikan dan dirujuk kepada sebuah hadis masyhur, bahwa segala hal yang dipandang baik oleh kaum muslimin, maka baik pula menurut pandangan Allah. (Al-Mustadrak ala al-Shahihain li al-Hakim, No. 4439).

Baca Juga:  Mengenal “Amirul Mukminin”nya Para Ahli Hadist

Kedua, berdiri dalam rangka menghormat sosok dan tokoh yang memiliki keutamaan dalam hal agama merupakan syariat yang dianjurkan dengan beberapa dalil hadis shahih. Antara lain hadis riwayat Imam Bukhari bahwa Nabi memerintahkan para shahabat untuk berdiri memberikan penghormatan kepada Sa’ad bin Muadz, ketika beliau mendatangi majelis Nabi dan para sahabat. Saat itu Nabi Saw. menyambut Sa’ad bin Muadz seraya bersabda: qumu ila sayyidikum (Berdirilah kamu semua, untuk menghormati sayid kamu ini). (Shahih Bukhari, No. 3804).

Ketiga, berdiri sebagai bentuk sambutan kasih sayang dan penghormatan terhadap orang yang datang merupakan ajaran dan tuntunan Nabi, sebagaimana yang beliau lakukan terhadap putrinya, Siti Fatimah. Sebaliknya, demikian pula yang dilakukan Siti Fatimah terhadap Kanjeng Nabi. Sementara sosok Nabi Agung Muhammad Saw. lebih pantas untuk diagungkan dan dihormati.

Keempat, jika tuntunan di poin ketiga masih dipersoalkan, semisal bentuk penghormatan dengan cara berdiri itu dilakukan ketika Nabi Muhammad Saw masih hidup dan menghadiri suatu majelis, sementara dalam perayaan maulid tidak dihadiri oleh beliau. Jawaban sederhana untuk persoalan ini, bahwa kaum muslimin yang hadir dalam perayaan tersebut selalu berusaha menghadirkan sosok beliau yang mulia dalam pikiran dan perasaan mereka.

Aktifitas menghadirkan sosok beliau ini merupakan perbuatan terpuji dan dianjurkan, bahkan seharusnya seluruh kaum muslimin selalu berusaha menghadirkan sosok beliau setiap saat agar ittiba’ (mengikuti jejak beliau) menjadi sempurna dan rasa cinta kepada Nabi Agung Muhammad Saw tetap terpupuk dan terus bertambah.

Oleh karena itu, kaum muslimin berdiri saat perayaan maulid sebagai bentuk ekpresi penghormatan atas kehadiran sosok agung Nabi Muhammad Saw yang berusaha mereka gambarkan dalam jiwa dan hati mereka. Di sisi lain, menghadirkan sosok agung Nabi Muhammad Saw merupakan bentuk pengagungan terhadap kelahiran beliau untuk menambah dan memupuk rasa cinta di hati kaum muslimin dengan harapan kelak akan mendapatkan pancaran syafaatnya. []

Baca Juga:  Filsafat Ketuhanan Imam Al-Ghazali

Wallahu a’lam Bisshawab!

Bagikan Artikel

About Zainol Huda

Zainol Huda
Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.