Media Sosial dan Lahirnya Generasi Gemar Umpatan dan Kata-kata Kasar

0
1602
media sosial

Media sosial telah menjadi ruang sosial baru. Tidak sekedar untuk mencari dan mendapatkan informasi, tetapi juga arena interaksi dan komunikasi. Di ruang baru ini semua bisa berinteraksi tanpa batas usia, wilayah, dan budaya. Dan mirisnya kadang tanpa batas etika dan norma.

Karena karakter media sosial tanpa tatap muka dan kadang tak bernama (anonymous) seorang bebas melontarkan kata-kata tanpa kesopanan dan kesantunan. Apa yang dalam pandangannya benar dan ingin dibela harus diperjuangkan dengan kalimat posting dan komentar.

Bermedia sosial dengan tanpa literasi yang memadai dan akhlak yang baik justru melahirkan generasi yang gemar umpatan dan kata-kata kasar. Semua orang bebas diumpat, dicaci-maki, dan layak diberikan kata-kata kasar. Entah, apa yang merasuki mereka?

Dalam teori psiko-komunikasi, Suler, J. R. (2002) melihat fenomena kata-kata kasar dalam media sosial itu disebabkan kondisi “online disinhibition” atau fenomena perilaku online di mana seseorang merasa terlepas dari berbagai standar moralnya dan dapat berperilaku semaunya tanpa mendapat banyak sanksi dari orang lain.

Banyak kasus yang telah menyeret generasi pengumpat dan pencaci-maki. Saat itu sesal hanya ekspresi terakhir. Namun, bagi yang masih lolos dari jeratan hukum, sesungguhnya mereka lupa bahwa ada akhlak yang dilanggar dalam berkomunikasi dan berinteraksi.

Sebenarnya apapun alasannya demi dakwah, membela agama, membela kepentingan dan sebagainya kata-kata kasar bukan sikap mulia. Ingat, tidak ada kebenaran dan kebaikan yang diucapkan dengan kata-kata kasar kecuali hanya menjadi sampah dan kesia-siaan.

Perkataan adalah cerminan dari isi hati dan sikap seseorang. Kebaikan hati dan kelembutan sikap dicerminkan dari kata-kata yang dikeluarkan. Hiasan kata-kata kasar di lidah dan tulisan adalah cermin sikap pemarah, emosional dan reaktif.

Baca Juga:  Nasehat Nabi Agar tak Mudah Emosi

Etika Komunikasi dalam Islam

Dalam al Qur’an, Allah menitipkan pesan kepada Nabi Muhammad untuk mengajarkan umatnya agar selalu memilih kata-kata baik. “Ucapkanlah kata-kata baik kepada manusia” (QS. Al-Baqarah:83). Ungkapan kata-kata baik ini telah diwakili saat ini dalam bentuk lisan maupun tulisan.

Kenapa perkataan kasar, umpatan, dan cacian dilarang? Allah mengajarkan kepada hambanya melalui firmannya: “Katakanlah kepada hamba-hamba Ku, Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu rnenimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia” (QS. al-Isra’: 53).

Benar, perkataan yang baik akan menjauhkan diri dari bisikan syetan. Orang yang selalu mengumbar amarah dan perkataan jelek hanya akan mendorong perselisihan dan permusuhan. Dan di situlah sebenarnya kemenangan syetan yang ingin memecah belah sesama manusia.

Dalam kehidupan sehari-hari, perkataan yang lembut dan sopan akan membawa pada ikatan persaudaraan dan persatuan. Sementara perkataan yang emosional, kasar dan pedas hanya menyulut perselisihan dan perpecahan. Perkataan yang baik akan mengokohkan persaudaraan, sementara perkataan kasar akan merobohkan persaudaraan.

Ada renungan hadis yang penuh dengan hikmah dan pelajaran berharga bagi kita semua dalam berinteraksi sosial baik langsung maupun melalui media sosial : “Sebarkanlah salam (kedamaian), berbicaralah dengan baik, jalinlah persaudaraan dan shalatlah pada malam hari ketika mansuai sedang tidur, niscaya engkau akan masuk surga dengan damai.” (HR. Ahmad).

Tinggalkan Balasan