Meluruskan Agama sebagai Musuh Pancasila

0
2220
agama dan pancasila

Agama tidak bertentangan dengan Pancasila dan bukan musuh Pancasila. Justru Pancasila adalah serapan dari nilai-nilai agama. Pancasila telah diterima oleh umat beragama di Indonesia.


Publik kembali dikagetkan dengan pernyataan kontroversial dari Ketua BPIP, Prof Yudian Wahyudi. “Jadi kalau kita jujur, musuh terbesar Pancasila itu ya agama, bukan kesukuan,” Demikian ungkapan Yudian, sekaligus Rektor Universitas Islam Negeri Yogyakarta saat diwawancarai oleh detik.

Penggalan kalimat ini kontan membuat heboh dan mengejutkan masyarakat. Betapa tidak, Pancasila jelas dirumuskan oleh para pendiri bangsa yang mayoritas adalah muslim, bahkan ulama. Pancasila telah diterima sebagai asas negara yang tidak bertentangan dengan agama manapun. Bahkan dikatakan bahwa nilai sila Pancasila adalah serapan dari ajaran Islam tentang ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, keadilan, dan kemasyarakatan.

Jadi, sangat jelas bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan agama. Pun demikian agama tidak akan menentang Pancasila. Perbincangan ini sebenarnya sudah final dan tidak perlu lagi untuk diperdebatkan.  KH Achmad Siddiq, Rais Aam PBNU 1984-1991, misalnya, melihat Pancasila itu sudah sesuai syariat Islam. Bagi Kiai Achmad, Pancasila dan Islam adalah hal yang dapat sejalan dan saling menunjang. Keduanya tidak bertentangan dan jangan dipertentangkan. Islam dan Pancasila menjadi basis utama lahirnya peradaban Indonesia.

Sampai persoalan ini sebenarnya sepakat. Yudian pun telah memaparkan dalam wawancaranya bahwa umat beragama telah menerima Pancasila. Bahkan dua ormas besar Islam pada tahun 1980-an telah sepakat menerima Pancasila yang tidak bertentangan dengan Islam.

Munculnya kalimat kontroversi “musuh terbesar Pancasila ya agama” adalah rentetan penjelasannya terkait pemanfaatan nilai-nilai agama oleh segelintir minoritas yang digunakan untuk menentang Pancasila. Belakangan, menurutnya, ada kelompok yang mereduksi agama sesuai kepentingannya sendiri yang tidak selaras dengan nilai-nilai Pancasila.

Apabila dilihat rentetan wawancara itu dengan tanpa memotong kalimat provokatifnya mungkin bisa dipahami. Walaupun pilihan kalimat “musuh terbesar” adalah sebuah hiperbola yang sangat menyakitkan. Seolah agama secara general menjadi penentang dan musuh Pancasila.

Tidak bisa dinafikan memang ada segelintir orang yang memakai tafsir agama untuk menolak Pancasila. Beberapa golongan kecil dari bangsa misalnya menganggap Pancasila adalah thogut. Pancasila adalah berhala masa kini. Mereka mempertentangkan Pancasila dengan Islam. Istilah keagamaan kadang digunakan oleh segelintir kelompok untuk menentang Pancasila.

Namun, hampir bisa dikatakan bahwa mayoritas ulama dan umat Islam di Indonesia menerima Pancasila yang sesuai dengan ajaran dan ruh Islam. Ungkapan ini pun sebenarnya sudah dinyatakan oleh Yudian dengan mengatakan mayoritas terutama NU dan Muhammadiyah menerima Pancasila.

Namun, kalimat “agama musuh besar Pancasila” walaupun itu dinyatakan untuk merujuk pada segelintir kelompok itu, seolah-olah ketika kalimat dan wawancara itu dipotong akan sangat menyakitkan dan melukai umat beragama.

Sekedar mengingatkan kembali lagi dan untuk menegaskan bahwa agama bukan musuh Pancasila bahkan sebenarnya Pancasila itu sesuai dengan ajaran Islam. Berikut adalah hasil keputusan Musyawarah Nasional Nahdlatul tahun 1983 tentang Pancasila dan Islam.

Bismillahirrahmanirrahim

  1. Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesi bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama.
  2. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang menjiwai sila-sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.
  3. Bagi Nahdlatul Ulama, Islam adalah akidah dan syari’ah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antarmanusia.
  4. Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syari’at agamanya.
  5. Sebagai konsekuensi dari sikap di atas, Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekuen oleh semua pihak.

Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdhatul Ulama
Sukorejo, Situbondo 16 Rabi’ul Awwal 1404 H
(21 Desember 1983)