fatwa
fatwa

Memahami Fatwa (5): Unsur-unsur Fatwa dan Kriteria Seorang Mufti

Keberadaan entitas apapun di alam raya ini tidak lepas dari unsur-unsur yang menjadi bagian terpenting dari eksistensinya. Elemen yang menjadi bagian tak terpisahkan tersebut dalam bahasa agama dikenal dengan rukun. Setiap perbuatan apapun dalam syariat Islam harus memenuhi rukun agar menjadi absah, tak terkecuali fatwa. Terbentuknya sebuah fatwa harus memenuhi unsur-unsur yang menjadi rukun fatwa.

Unsur-unsur Fatwa

Rukun fatwa terdiri dari lima unsur, yakni (1) pemberi fatwa atau mufti, (2) penanya atau orang yang minta fatwa, (3) kasus yang membutuhkan penyelesaian fatwa,  (4) status hukum, (5) redaksi fatwa. Masing-masing unsur akan dijelaskan secara terpisah dan berurutan. (Abdullah bin Muhammad bin Sa’d Ali Khanin, Al-Fatwa fi al-Syari’ah al-Islamiyah, Juz I, Riyadl: Maktabah Abekan, Cet. I, 2008, hal. 93).

Definisi Mufti

Mufti yang berasal dari bahasa Arab sudah diadopsi menjadi bahasa Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, mufti diartikan sebagai pemberi fatwa untuk memutuskan masalah yang berhubungan dengan hukum Islam. Jika dikaji dari aspek bahasa asal, mufti merupakan bentuk isim fa’il (pelaku perbuatan) dari ifta’ yang bermakna aktifitas memberikan fatwa. Mufti berarti orang yang mempunyai aktifitas memberikan fatwa.

Beragam definisi yang dikemukakan oleh para ulama tentang mufti. Imam As-Syathibi mengatakan mufti adalah orang yang berposisi menggantikan Nabi Muhammad di tengah-tengah umatnya. Imam Ibnu Hamdan mendefinisikan mufti sebagai orang yang mewartakan hukum syariat dengan dilandasi pengetahuan terhadap dalilnya. Ada ulama yang mengatakan mufti adalah orang yang berkemungkinan mengetahui hukum syariat disertai dalilnya dan hafal sebagian besar fikih.

Namun, dari berbagai definisi tersebut belum mampu mengarah kepada mufti secara spesifik, karena belum menyinggung soal respon terhadap pertanyaan tentang kasus yang sedang terjadi, untuk membedakan mufti dari seorang faqih (pakar hukum Islam), hakim, dan mujtahid (baca kembali artikel tentang perbedaan fatwa, keputusan hakim, dan fikih). Dengan demikian, definisi yang mewakili sosok seorang mufti adalah orang yang mewartakan hukum syariat kepada orang yang bertanya tentang kasus tertentu yang sedang terjadi tanpa disertai penekanan untuk dilaksanakan (tidak bersifat memaksa). (Abdurrahman al-Najdi, Dlawabith al-Fatwa fi al-Syari’ah al-Islamiyah, Mekah: Maktabah Nizar Musthafa, Cet. II, 2007, hal. 114., Abdullah bin Muhammad bin Sa’d Ali Khanin, Al-Fatwa fi al-Syari’ah al-Islamiyah, Juz I, Riyadl: Maktabah Abekan, Cet. I, 2008, hal. 97-98).

Baca Juga:  Memahami Fatwa (3): Syariat dan Urgensitas Fatwa

Kriteria Seorang Mufti

Kriteria mufti mencakup dua hal, kualitas dan kredibilitas. Kriteria pertama menyangkut soal kemampuan berfatwa, sementara kriteria kedua menyangkut kepribadian, sikap, dan trust. Kriteria pertama dapat disebut sebagai syarat menjadi mufti. Menjadi mufti harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: (a) Islam, (b) balig, (c) berakal sehat, (d) mengetahui hukum-hukum syariat.

Syarat keempat sangat urgen bagi mufti, karena berfatwa adalah menyampaikan hukum-hukum Allah kepada orang yang bertanya. Hal ini tidak pantas dilakukan kecuali oleh orang yang memiliki pengetahuan memadai terhadap hukum-hukum syariat. Keharusan mengetahui hukum-hukum syariat meniscayakan mufti harus memiliki pengetahuan mendalam tentang dalil-dalil syar’i berupa Al-Qur’an, As-Sunnah, pendapat ulama salaf, metode qiyas, serta metode pengambilan hukum (istinbatul ahkam) dari dalil-dalil tersebut.

Berkaitan dengan hal itu, mufti harus mengetahui secara mendalam tentang ilmu ushul fikih, kaidah fikih, tujuan-tujuan pokok syariat (maqashidus syari’ah). Dengan demikian, fatwa tidak bisa diberikan oleh orang yang hafal Al-Qur’an atau hadis, tetapi tidak memiliki pengetahuan tentang fikih, orang yang hanya hafal fikih, tetapi tidak memahami ushul fikih. Begitu juga orang yang paham ushul fikih, tetapi tidak mengerti fikih. Namun demikian, tidak disyaratkan harus hafal seluruh hukum-hukum yang ada dalam ilmu fikih, tetapi cukup mengerti dan memahami sebagian besar saja. (Abdullah bin Muhammad bin Sa’d Ali Khanin, Al-Fatwa fi al-Syari’ah al-Islamiyah, Juz I, Riyadl: Maktabah Abekan, Cet. I, 2008, hal. 99-104).

Untuk kriteria kredibilitas dan kepribadian, seorang mufti harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: pertama, al’adalah yaitu istikamah melakukan kewajiban dan perbuatan sunah, menjauhi perbuatan haram dan makruh, jujur, tidak suka berdusta, menjaga muruah (harga diri, nama baik), menjauhi praduga dan kecurigaan. Intinya, tidak terkategori sebagai orang fasik.  (Najmuddin Ahmad bin Hamdan al-Harraniy, Shifah al-Mufti wa al-Mustafti, Riyad: Dar al-Shumai’iy, Cet. I, 2015, hal. 148).

Baca Juga:  Shalat Jamaah Bagi Perempuan

Kedua, berkelakukan baik, memiliki track record yang baik, sehingga apa yang menjadi statemen dengan mudah dapat diterima dan dipercaya oleh masyarakat. Ketiga, yakin dengan kemampuan yang dimiliki dan masyarakat mengakui terhadap skill tersebut. Imam Malik pernah menyatakan bahwa tak sepantasnya seorang alim berfatwa, kecuai masyarakat telah mengenal kemampuan yang dimilikinya, dan ia sendiri meyakini kemampuan itu. Beliau juga pernah berkata: “Aku tidak pernah berfatwa, kecuali setelah tujuh puluh orang menyaksikan dan mengakui tentang keahlianku dalam hal itu”. (Abdurrahman al-Najdi, Dlawabith al-Fatwa fi al-Syari’ah al-Islamiyah, Mekah: Maktabah Nizar Musthafa, Cet. II, 2007, hal. 114., Abu ‘Amr Utsman bin Abdurrahman, tt: Alam al-Kutub, Cet. I, 1986, hal. 86). []

Bagikan Artikel ini:

About Zainol Huda

Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.

Check Also

fatwa

Memahami Fatwa (10): Syarat-Syarat Mujtahid

Artikel ini melanjutkan pembahasan sebelumnya tentang syarat-syarat mujtahid. Uraian sebelumnya telah mengulas syarat mujtahid yang …

fatwa

Memahami Fatwa (9): Syarat-syarat Mujtahid

Dalam beberapa artikel sebelumnya telah diulas tentang kriteria seorang mufti. Para ilmuwan Islam berpandangan bahwa …