Memahami Hadis Bidah dengan Kaidah Ushul Fikih
Memahami Hadis Bidah dengan Kaidah Ushul Fikih

Memahami Hadis Bid’ah dengan Kaidah Ushul Fikih

Sebelum masuk pada pembahasan bid’ah, sebagai penegasan terhadap judul tulisan ini perlu dijelaskan di awal satu grand teori dalam memahami hadis, yaitu al ‘Ibroh bi ‘Umum al Lafdzi la bi Khusus al Sabab (Fokus utama pada keumumam makna teks dan bukan pada setting sejarah kemunculan atau sebab turunnya Hadis)

Teori ushul fikih ini menjadi landas pacu untuk memahami hadis secara purna. Bila tidak demikian, akan ada ceceran makna yang berakibat pada distorsi makna keseluruhan hadis. Akibatnya, terjadi penafsiran hadis yang parsial. Lebih buruk lagi, ujungnya adalah inkarussunnah. Secara tidak sengaja justru mengingkari sunnah karena keliru memahami.

Sebagai contoh saja, hadis bid’ah yang seringkali menjadi alat legitimasi untuk menjagal amalan orang lain dengan tuduhan sesat karena melanggar perintah Nabi. Padahal ini akibat menyempitnya cakupan pemahaman terhadap hadis bid’ah tersebut.

Bunyi hadisnya, Nabi bersabda, “Sebaik-baik ucapan adalah adalah kitab Allah. Sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad. Sejelek-jeleknya perkara adalah perkara yang baru (bid’ah). Dan, setiap bid’ah itu sesat”. (HR. Muslim)

Bila dipahami sekilas dan sederhana, tentulah muncul suatu kesimpulan, “Semua perkara baru (bid’ah) adalah sesat dan tidak mungkin ada bid’ah yang baik (bid’ah Hasanah). Sebab Nabi sendiri telah mengatakannya”. Kesimpulan seperti inilah yang justru mengangkangi hadis Nabi karena kurangnya perangkat untuk memahami hadis.

Bagaimana alur yang benar memahami makna hadis di atas?. Sabda Nabi “Semua bid’ah itu sesat” adalah redaksi umum dalam jangkauan yang terbatas. Inilah yang dimaksud grand teori memahami al Qur’an dan hadis “Al ‘Ibrah bi ‘Umum al Lafdzi la bi Khusus al Sabab”, keumumam teks menjadi fokus utama, bukan setting sejarah yang melatarinya.

Baca Juga:  Social Distancing dan Fatwa Ulama Diabaikan, Bukti Lemahnya Pemahaman Keagamaan

 Apakah dengan demikian asbabul wurud atau asbabun Nuzul menjadi tidak penting? Justru ia menjadi batu pijak pertama untuk memahami konteks al Qur’an dan hadis tersebut dan selanjutnya merambah ruh makna keduanya. Dengan demikian, pemahamannyabmenjadi syamil dan kamil.

Teori seperti ini diperkuat dengan hadis Nabi. Dari Abdurrahman bin Abi Laila, ia berkata, ” Pada masa Nabi, bila seseorang datang terlambat beberapa rakaat mengikuti shalat berjamaah, maka orang-orang yang terlebih dulu datang akan memberi isyarat kepadanya tentang rakaat yang telah dijalani, sehingga orang itu akan mengerjakan rakaat yang tertinggal lebih dulu, kemudian masuk ke dalam shalat berjamaah bersama mereka.

Pada suatu hari Mu’adz bin Jabal datang terlambat, lalu orang-orang mengisyaratkan kepadanya tentang jumlah rakaat shalat yang telah dilaksanakan, akan tetapi Mu’adz langsung masuk dalam shalat berjamaah dan tidak menghiraukan isyarat mereka, namun setelah Rasulullah selesai shalat, maka Mu’adz segera mengganti rakaat yang tertinggal itu. Para shabat kemudian melaporkan perbuatan Mu’adz yang lain dari kebiasaan mereka kepada Nabi, beliau menjawab, “Mu’adz telah memulai cara yang baik buat shalat kalian”. Dalam riwayat Mu’adz bin Jabal, beliau bersabda, “Mu’adz telah memulai cara yang baik buat shalat kalian, begitulah cara shalat yang harus kalian kerjakan”. (HR. Thabrani, Ahmad, Abu Daud, dishahihkan oleh Al Hafidz Ibnu Daqiq Al ‘Id dan Ibnu Hazm).

Dalam hal ini, Mu’adz bin Jabal mempraktekkan teori ushul fikih di atas. Mengambil makna umum dari sebuah hadis. Bukan hanya sebab munculnya hadis. Bisa kita bayangkan andaikan perbuatan Mu’adz tersebut terjadi pada saat ini. Sekelompok orang yang lemah memahami hadis akan segera melakukan tudingan bid’ah kepada Mu’adz. Oleh karena itu, sebagai umat Islam yang telah terpisah dengan rentang waktu yang cukup jauh dengan Nabi hendaklah mengikuti para ulama salaf maupun khalaf dalam memahami al Qur’an dan hadis. Ego menafsiri kedua sumber pokok hukum Islam tersebut dengan bekal ilmu kita yang tak seberapa akan sangat memungkinkan untuk terjebak pada distorsi makna, pemahaman yang parsial dan sebagainya. Bukan justru kembali kepada al Qur’an dan hadis, namun memperkosa makna hadis itu sendiri.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

puasa dzulhijjah

Istri Puasa Sunnah 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah Tanpa Ijin Suami, Inilah Pendapat Ulama Madzhab

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang dimuliakan tentang kemuliaan bulan Dzulhijjah disebutkan dalam al …

Pernikahan beda agama

Pernikahan Beda Agama dalam Perspektif Islam dan Negara

Pernikahan beda agama kembali menjadi polemik dan perbincangan hangat publik Indonesia. Topik ini semakin hangat …