nahi mungkar
nahi mungkar

Memahami Secara Benar Pemahaman dan Tingkatan Nahi Mungkar

Di media, akhir-akhir ini banyak postingan yang isinya kurang lebih menyebut ulama yang berdakwah dengan cara lemah lembut, sopan dan ramah adalah penakut, wajar kalau lebih disenangi, sebab mereka membiarkan kemungkaran. Mereka hanya melakukan amar ma’ruf dan meninggalkan nahi mungkar. Sedangkan ulama yang berdakwah dengan cara keras, bahkan bila perlu dengan caci maki dan tindak kekerasan adalah praktik nahi mungkar yang benar.

Unggahan statemen-statemen model ini banyak dijumpai di status-status pribadi dan grup di media sosial seperti Facebook. Anehnya, meski senyatanya cara berpikir seperti ini sangat jauh melenceng dari perintah amar ma’ruf nahi mungkar ala Nabi, sahabat dan para ulama, masih ada yang mengamininya. Ironis memang.

Kesalahan cara berdakwah seperti ini, pertama, karena kesalahan memahami hadis Nabi tentang tahapan-tahapan nahi mungkar.

Nabi bersabda, “Siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaknya ia menghilangkannya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu (dengan lisannya), maka dengan hatinya. Dan dengan hati ini adalah paling lemahnya iman”. (HR. Muslim).

Salah fatal bila memahami hadis ini dengan asumsi (tanpa dasar pengetahuan agama) bahwa melakukan nahi munkkar pertama harus dengan tangan, kemudian lisan, lalu hati.

Bagaimana pemahaman yang benar tentang hadis di atas?

Syaikh Abdul Hamid al Syarwani dalam kitabnya Hasyiyah al Syarwani menjelaskan, amar ma’ruf nahi mungkar wajib dimulai dari cara yang paling ringan, kemudian yang agak berat dan seterusnya. Artinya, jika kemungkaran bisa hilang dengan tutur kata yang halus tidak boleh dengan kata-kata yang kasar. Dan begitu seterusnya.

Hujjatul Islam, Imam al Ghazali dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumuddin mengurai secara hirarkis tiga pola amar ma’ruf nahi mungkar. Pertama, al Ta’rif, yakni mengenalkan atau memberi tahu. Kedua, al Wa’dzu bi al Kalam al Latif, yaitu menasehati dengan tutur kata yang lemah lembut. Dan ketiga, al Sabbu wa al Ta’nif, artinya memaki dengan kata-kata yang keras. Namun tidak boleh dengan kata-kata yang kotor, keji, tidak sopan dan tidak senonoh.

Baca Juga:  Keagungan Nishfu Sya’ban dan Anjuran Memperbanyak Dzikir dan Doa

Nahi Mungkar bukan dengan Cara Mungkar

Sebab itu, Sayyid Abdullah Ba’alawi al Haddad dalam kitabnya al Nashaihu al Diniyyah wa al Washaya al Imaniyyah, mengingatkan para pendakwah bahwa hal paling penting yang harus dilakukan ketika melakukan amar ma’ruf nahi mungkar adalah tidak boleh sombong, tidak boleh dengan kekerasan, hinaan dan cacian terhadap orang yang melakukan kemaksiatan, sebab akan menghilangkan pahala dan menyebabkan siksa.

Lebih lanjut, menurut Sayyid Abdullah al Haddad, dakwah dengan kekerasan, hinaan, cacian dan cemoohan membuat orang lain tidak simpati dan penolakan. Kebenaran yang mestinya diterima dengan senang hati justru ditolak akibat sikap dakwah yang demikian. Amar ma’ruf nahi mungkar harus dengan cara dari hati ke hati dan dengan bahasa yang sopan, ramah, belas kasih dan rendah hati.

Syaikh al Baijuri dalam karyanya Tuhfatu al Murid menambahkan, praktik nahi mungkar harus tidak menimbulkan kemungkaran yang lebih besar. Contohnya, bermaksud nahi mungkar terhadap para pemabuk, namun karena dilakukan dengan kekerasan, penghinaan, caci maki dan kata-kata kotor kemudian mengakibatkan terjadinya perkelahian yang berakibat pembunuhan.

Bukankah Allah berfirman, “Maka berbicaralah kamu berdua (Musa dan Harun) kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lembut. Mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS. Thaha: 44).

Apakah kita akan berkata, Nabi Musa dan Nabi Harun sebagai penakut dan hanya beramar ma’ruf tidak nahi mungkar?.

Dengan demikian, patutkah kita semua umat Islam mentradisikan dakwah dengan kekekrasan, caci maki, cemoohan dan penghinaan?

“Sungguh Tuhanmu maha luas ampunan-Nya. Dia lebih mengetahui kamu ketika Dia menciptakanmu dari tanah dan kamu menjadi janin dalam perut ibumu. Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia yang paling mengetahui orang yang bertakwa” (QS. Al Najm: 32).

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

puasa dzulhijjah

Istri Puasa Sunnah 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah Tanpa Ijin Suami, Inilah Pendapat Ulama Madzhab

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang dimuliakan tentang kemuliaan bulan Dzulhijjah disebutkan dalam al …

Pernikahan beda agama

Pernikahan Beda Agama dalam Perspektif Islam dan Negara

Pernikahan beda agama kembali menjadi polemik dan perbincangan hangat publik Indonesia. Topik ini semakin hangat …