merayakan kemerdekaan
kemerdekaan

Memaknai dan Merayakan Hari Kemerdekaan Sesuai Tuntunan Islam

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), pada 17 Agustus 2022 mendatang telah berumur 77 tahun setelah Faunding Father Soekarno-Hatta memproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Usia yang cukup tua.

Selama itu pula, rakyat Indonesia telah menikmati nikmat Tuhan berupa kemerdekaan. Masih terngiang di ingatan kita semua, betapa sulitnya memperoleh kemerdekaan. Perlu perjuangan panjang, banyak pengorbanan nyawa dan harta, kurang lebih 350 tahun rakyat Indonesia menanggung derita.

Kemerdekaan Indonesia diraih berkat perjuangan seluruh rakyat. Bermodal persatuan dan kesatuan mimpi mewujudkan negara Indonesia yang tentram, nyaman dan tanpa penjajahan dan penindasan bisa diwujudkan. Dan, paling penting diingat, kemerdekaan adalah nikmat Tuhan yang perlu disyukuri.

Islam dan Bagaimana Merayakan Kemerdekaan?

Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Jangan sampai kalian menjadi budak orang lain, padahal kalian diciptakan Allah dalam keadaan merdeka”.

Petuah ini bisa menjadi inspirasi bagi kita untuk mengisi kemerdekaan. Sebagai spirit menggugah semangat supaya tidak terjajah di alam kemerdekaan. Tidak menjadi budak di negara kita yang telah merdeka. Karena sejujurnya harus diakui, bangsa ini masih dibayangi oleh berbagai ancaman. Yang paling nyata terlihat seperti ideologi radikal dan aksi-aksi terorisme yang kerapkali terjadi.

Karena itu, rakyat Indonesia tidak boleh terlena dengan ancaman-ancaman nyata yang berusaha merongrong kemerdekaan Indonesia. Maka, hari kemerdekaan patut dirayakan untuk merefleksikan semangat patriotisme kita.

Salah satunya adalah dengan mensyukuri nikmat kemerdekaan. Sebab, Tuhan berkata “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat”. (QS. Ibrahim:7)

Tentang bentuk dan cara bersyukur, diantaranya dicantumkan dalam Ihya’ ‘Ulumuddin dan Quthbi al Qulub.

Pertama bersyukur dengan hati (syukr bi al Qalbi). Caranya, merenungi kebesaran Tuhan dan komitmen baik.

Baca Juga:  Menghukumi Perayaan Tahun Baru Masehi

Kedua, bersyukur dengan lisan (syukr bi al lisan). Mengagungkan dan menyanjung Tuhan, berdzikir, bertahlil, bershalawat, dll.

Ketiga, bersyukur dengan badan (Syukr bi al Badan). Bersyukur dengan melakukan amal kebaikan sesuai dengan tujuan dari nikmat yang diberikan.

Keempat, bersyukur dengan harta (syukr bi al Mal). Dengan cara menafkahkan harta yang dimiliki di jalan Allah.

Kelima, bersyukur dengan jiwa (syukr bi al Nafs). Caranya, menahan diri dari godaan hawa nafsu.

Kelima cara bersyukur di atas penting dihadirkan ketika perayaan hari kemerdekaan. Kemerdekaan adalah nikmat yang harus disyukuri supaya Allah menambahkan nikmat itu untuk negara ini.

Merayakan hari kemerdekaan dengan pesta pora tidak salah selama tidak melampaui batas kewajaran. Pesta merupakan refleksi kesenangan karena kita telah merdeka. Namun, yang lebih penting adalah merayakan kemerdekaan dengan bersyukur.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

larangan islam dalam politik

Fikih Politik (8): 3 Larangan Islam dalam Politik

Politik bukan sesuatu yang terlarang dalam agama Islam. Islam bukan hanya agama an sich yang …

keragaman

Dalil Toleransi Beragama dalam Al Qur’an : Kemajemukan adalah Kehendak Ilahi

Hari ini masyarakat terkadang begitu alergi dengan perbedaan. Politisasi identitas semakin menguat dan mudah menggolongkan …