ayat dalam shalat
ayat dalam shalat

Membaca Al-Qur’an dalam Shalat dengan Bahasa Asing, Bolehkah?

Tidak dapat dipungkiri bahwa tidak semua muslim dapat membaca al-Quran. Terutama yang memiliki keterbatasan dan saudara-saudara yang muallaf, yang baru mengenal al-Quran, atau bahkan bahasa Arab. Bahasa Arab bukanlah bahasa yang mudah untuk dimengerti dan diucapkan melalui lisan. Ketika shalat membaca ayat-ayat al-Quran dan bacaan shalat lainnya yang menggunakan bahasa Arab merupakan suatu syarat sahnya shalat.

Namun terdapat perbedaan pendapat mengenai boleh tidaknya membaca al-Quran dan bacaan shalat baik yang wajib maupun yang sunnah menggunakan terjemah. Maka penulis ingin memaparkan mengenai perbedaan pendapat mengenai perbedaan pendapat mengenai boleh tidaknya membaca al-Quran dan bacaan shalat menggunakan terjemahan.

Mazhab yang Membolehkan

Pendapat pertama adalah pendapat ulama mazhab hanafi. Diriwayatkan dari Abu Hanifah bahwa ia berpendapat, boleh dan sah membaca al-Quran dalam shalat dengan bahasa Persia. Maka dari pendapat itu, sebagian sahabatnya memperbolehkan membaca dalam shalat menggunakan bahasa Turki, India, dan bahasa-bahasa lainnya. Nampaknya mereka memandang dalam hal ini, al-Quran adalah nama bagi makna-makna yang ditunjukkan oleh lafaz-lafaz Arab. Sedangkan makna-makna itu tidaklah berbeda-beda karena perbedaan lafaz dan bahasa.

Dua orang murid Abu Hanifah, Abu Yusuf, dan Muhammad bin Husain, membatasi hal tersebut dengan “dalam keadaan darurat”. Mereka membolehkan bagi yang tidak mampu mengucapkan bahasa Arab, membaca al-Quran dalam shalat dengan bahasa Asing, tetapi tidak, bagi yang sanggup membacanya dengan bahasa Arab.

Dalam Mi’rajud dirayah dikemukakan, kami diperbolehkan membaca terjemah al-Quran dalam shalat bagi yang tidak mampu jika hal itu tidak termasuk makna, sebab terjemahan tersebut adalah al-Quran, jika dilihat dari cakupan terhadap makna. Oleh karena itu membacanya lebih baik dari pada meninggalkan sama sekali karena (taklif) itu sesuai dengan kemampuan. Dan diriwayatkan, bahwa Abu Hanifah telah mencabut kembali “kebolehan secara mutlak” yang dinukil dari beliau tersebut.

Baca Juga:  Hukum dan Dahsyatnya Keutamaan Puasa Tasu'a dan Asyura

Mazhab Yang Mengharamkan

Pendapat kedua adalah pendapat jumhur. Ulama mazhab Maliki, Syafi’i, dan hanbali. Tidak diperbolehkan bacaan terjemah al-Quran dalam shalat, baik ia mampu membaca bahasa Arab ataupun tidak, sebab terjemah al-Quran bukanlah al-Quran itu sendiri. Al-Quran adalah susunan perkataan mukjizat, yaitu kalamullah yang berbahasa Arab, dan dengan menerjemahkannya akan hilanglah kemukjizatannya. Berkata Qadhi Abu Bakar Ibn ‘Arabi, salah seorang fuqaha’ bermazhab maliki, ketika ia menafsirkan firman Allah:

وَلَوْ جَعَلْنَٰهُ قُرْءَانًا أَعْجَمِيًّا لَّقَالُوا۟ لَوْلَا فُصِّلَتْ ءَايَٰتُهُۥٓ ۖ ءَا۬عْجَمِىٌّ وَعَرَبِىٌّ ۗ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ هُدًى وَشِفَآءٌ ۖ وَٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِىٓ ءَاذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ يُنَادَوْنَ مِن مَّكَانٍۭ بَعِيدٍ

Dan jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh”. (Fussilat: 44).

Sebagai berikut: “para ulama kita mengatakan, ayat ini membatalkan pendapat Abu Hanifah yang menyatakan bahwa menerjemahkan al-Qur’an dengan menggantikan bahasa Arabnya dengan bahasa Persia itu boleh. Sebab, Allah telah berfirman dalam surah al-Fussilat: 44. Dalam ayat ini Allah menafikan jalan bagi bahasa asing untuk dapat masuk ke dalam al-Quran. Tetapi mengapa Abu Hanifah membawa kepada apa yang dinafikan Allah tersebut?”. Lebih lanjut Ibn Arabi mengatakan, “Bayan dan kemukjizatan hanya bisa direalisasikan dengan bahasa Arab. Karena itu seandainya al-Quran diganti dengan bahasa selain Arab tentunya penggantinya itu tidak dinamakan al-Quran dan bayan, dan juga tidak menimbulkan kemukjizatan.

Baca Juga:  Keputihan pada Perempuan, Najis atau Suci? Ini Hukumnya menurut Fikih

Al-Hafidz Ibn Hajar, dalam fathul bari berkata: “jika seseorang sanggup membacanya dalam bahasa Arab, maka ia tidak boleh beralih darinya, dan shalatnya tidak sah apabila membaca dengan terjemahan. Walaupun ia tidak sanggup membacanya dengan bahasa Arab.” Kemudian ia menyebutkan, Allah dan Rasul-Nya telah membuat bagi mereka yang tidak sanggup membaca dengan bahasa Arab, penggantinya yakni zikir.

Adapun pendapat Ibn Taimiyyah, ia berkata: “Adapun mendatangkan lafaz untuk menjelaskan makna seperti penjelasan lafaz-lafaz al-Quran maka hal ini tidak mungkin sama sekali. Oleh karena itu para pemimpin agama berpendapat, tidak boleh membaca al-Quran dengan selain bahasa Arab. Baik bagi mereka yang mampu membaca dengan bahasa Arab maupun bagi yang tidak mampu. Sebab yang demikian akan mengeluarkan al-Quran dari statusnya sebagai al-Quran yang diturunkan Allah. Agama mewajibkan kepada para pemeluknya agar mempelajari bahasa Arab, karena bahasa ini adalah bahasa Al-Quran dan kunci untuk memahaminya.

Adapun pendapat ulama mazhab Hanafi mengenai kebolehan shalat dengan terjemahan al-Quran, maka mereka yang membolehkan memandang kebolehan ini hanya sebagai rukhsah (dispensasi) bagi orang yang tidak mampu. Namun mereka tetap sependapat bahwa terjemahan al-Quran tidaklah sama dengan al-Quran. Terjemahan itu dibolehkan semata-mata agar shalat menjadi sah. Dan status terjemahan ini sama dengan status zikir kepada Allah dengan pendapat ulama di luar mazhab Hanafi. Mengenai penerjemahan zikir (bacaan) dalam shalat, baik yang wajib maupun yang tidak wajib, masih diperselisihkan pendapatnya. Adapun menurut Imam Malik, bacaan shalat yang wajib tidak boleh diterjemahkan. Sedangkan Abu Yusuf memperbolehkan membaca bacaan shalat menggunakan terjemahan.

Dari penjelasan yang penulis sajikan dapat diambil kesimpulan bahwa mazhab Hanafi yang membolehkan membaca al-Quran dan bacaan shalat menggunakan bahasa asing atau terjemahan, namun perlu digarisbawahi bahwa kebolehan disini hanya untuk dispensasi. Dan mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali adalah yang melarang dan mengharamkan membaca al-Quran dan bacaan shalat menggunakan bahasa asing. Semoga pemaparan singkat ini dapat memberikan manfaat dan pengetahuan untuk kita semua.

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Syah Alfarabi

Avatar of Ahmad Syah Alfarabi

Check Also

maulid di nusantara

Sejarah Perayaan Maulid Nabi dan Ragam Tradisi Di Indonesia

Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam beberapa waktu setelah Nabi Muhammad …

bergerak dalam shalat

Apa Hukumya Bergerak Terlalu Banyak dalam Shalat? Ini Penjelasannya!

Banyak di antara kamu muslimin yang masih melakukan banyak gerak yang disengaja maupun tidak disengaja …