Sesajen
Sesajen

Membaca Kembali Ritual Sesajen sebagai Doa dan Sedekah

Keberhasilan dakwah dalam suatu daerah bukan hanya tergantung dari kuantitas jamaah yang mengikuti, tetapi kualitas ajaran yang mampu dipahami oleh masyarakat setempat. Aspek kualitas pemahaman ini sangat tergantung pada bagaimana seseorang pendakwah menyampaikan ajaran Islam sesuai dengan bahasa masyakat lokal yang mudah dipahami.

Indonesia merupakan negara yang banyak memiliki tradisi beranekaragam yang sangat luar biasa. Banyak tradisi dan adat istiadat kebiasaan masyarakat yang sudah berabad-abad lamanya menjadi bagian dari denyut nadi aktifitas masyarakat.

Islam, datang di tengah masyarakat yang sudah memegang teguh tradisi tersebut. Kedatangan Islam melalui para pendakwah awal menghadapi tantangan tradisi dan adat yang sudah mengakar. Karenanya, Islam ditanamkan bukan untuk melawan tradisi tetapi mengisinya dengan ruh dan nafas Islam.

Islam di Indonesia tidak dihadapkan secara dikotomik dengan budaya dan tradisi, apalagi menggantikannya. Islam justru menjadi pemadu dari beragam tradisi dan budaya dengan bingkai nilai islami agar tetap kokoh sebagai pondasi kehidupan masyarakat nusantara.

Salah satu tradisi yang bisa dipadukan ialah sesajen. Berbagai pandangan terhadap akulturasi ini pun banyak menuai pro dan kontra. Sebagian ada yang setuju, namun banyak juga yang menolak.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan sesajen dengan makanan (bunga-bungaan dan sebagainya) yang disajikan kepada orang halus dan sebagainya.  Mungkin tidak cukup hanya melihat bentuknya, tetapi perlu dipahami tujuan sesajen tersebut. Masyarakat Jawa menjadikan sesajen sebagai media dan sarana komunikasi simbolis dengan makhluk halus. Lalu, bagaimana Islam menghadapi tantangan ini?

Sebenarnya tidak mudah bagi Islam untuk melakukan internalisasi nilai dalam sesajen. Dalam doktrin Islam, makhlus halus atau ghaib adalah bagian yang harus dipercaya seperti malaikat, setan dan jin. Persoalannya bagaimana makhluk halus itu tidak didudukkan sebagai penghambaan.

Baca Juga:  Tafsir Banjir : Cara Allah Menguji Keikhlasan dan Kesabaran

Ritual sesaji kemudian diarahkan bukan meminta pertolongan makhluk halus, tetapi permohonan kepada Allah agar makhluk halus yang berada di sekitar tempat kita tinggal itu tidak mengganggu manusia. Sesajen kemudian dimaknai sebagai doa.

Salah satu ritual sesaji yang biasa dilakukan semisal menyembelih hewan yang nantinya akan disedekahkan kepada jin atau makhluk halus lainnya. Lalu, bagaimana dengan masalah sesajen model ini?

Dalam kitab Fathul Muin tertuliskan bahwa, “Orang yang menyembelih sembelihan karena bertujuan mendekatkan diri pada Allah (sebagai wasilah) agar dijauhkan dari kejahatan jin itu tidak haram. Sebaliknya, bila menyembelih sembelihan karena hanya takut pada jin itu haram.”

Artinya, proses penyembelihan hewan untuk sesaji sebenarnya bukan persoalan baru dan hanya di Indonesia. Persoalan ini sudah menjadi bagian dari pembahasan fiqhiyah sebagaimana dalam kitab tersebut.

Sesajen dalam bentuk penyembelihan tidak dihukumi syirik apabila orang yang menyembelih yakin bahwa Allah lah yang dapat mencegah bahaya dan gangguan yang dilakukan jin. Ritual seperti ini dapat kita maknai sebagai bentuk sedekah terhadap sesama makhluk ciptaan Allah.

Namun apabila seseorang meniatkan sesajian itu untuk mengabdi pada jin, maka tindakannya terbilang kufur, dan juga hewan sembelihan tersebut dianggap sebagai bangkai. Sesajen yang hanya diniatkan untuk sesembahan/makanan oleh para jin, dan bukanlah bentuk mendekatkan diri pada Allah termasuk perkara syirik dan dosa besar.

Rasulullah pernah didatangi rombongan utusan jin dari daerah Nashibin dan mereka adalah sebaik-baik jin. Mereka meminta bekal kepada Rasulullah. Maka Rasulullah bersabda, “Untuk kalian (golongan jin) segala tulang hewan yang disebut nama Allah (pada saat penyembelihan), yang kalian dapatkan masih banyak dagingnya, dan setiap kotoran binatang adalah makanan untuk binatang kalian (golongan jin). Oleh karenanya janganlah (golongan manusia) beristinjak (cebok) dengan keduanya, sebab keduanya adalah makanan saudara-saudara kalian” (HR Muslim).

Baca Juga:  Mengenal Anas bin Malik : Sang Pelayan dan Murid Langsung Rasulullah

Jin dan mahluk halus juga bagian dari makhluk ciptaan Allah yang juga mempunyai aktifitas sosial sebagaimana manusia. Dari hadis tersebut, kita mengetahui bahwa jin itu memang menyukai tulang-belulang dan daging-dagingan. Oleh karena itu, menyembelih hanya untuk Allah dengan mensedekahkan tulang sembelihan hewan itu tidak termasuk hal yang mubazir jika disertai niat untuk mendekatkan diri kepada Allah agar terhindar dari gangguan makhluk halus tersebut.

Sesaji dalam konteks ini memang harus dimaknai sebagai bentuk doa dan sedekah. Jika sesaji sangat rentan dipahami dalam aktifitas lain yang berbau syirik dan kufur tentu sangat dilarang dalam Islam. Karena itulah, penguatan akidah Islam, tidak lantas harus merusak tradisi dan budaya, tetapi bagaimana menguatkannya dengan nilai yang islami.

Dalam menyiarkan agama Islam, pada prinsipnya selalu menyikapi tradisi lokal masyarakatnya yang bisa dipadukan menjadi bagian dari tradisi Islami. Prinsip seperti ini didasarkan atas suatu kaidah ushulliyah, yang berbunyi; “Menjaga nilai-nilai lama yang baik, sembari mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik.” 

Bagikan Artikel

About Imam Santoso

Avatar