kemenyan
kemenyan

Membakar Kemenyan Saat Ritual Keagamaan, Bagaimana Hukumnya?

Ada kebiasaan yang lazim dilakukan orang tua dulu ketika malam Jum’at dan malam Selasa selepas Maghrib selalu membakar kemenyan, kemudian membaca surah Yasin yang pahalanya dihadiahkan kepada orang tua dan kerabat yang telah meninggal. Bahkan, disetiap acara ritual keagamaan membakar kemenyan selalu dilakukan.

Sekarang, tradisi itu pelan-pelan mulai memudar. Anak-anak muslim milenial zaman now entah kenapa tidak lagi memperdulikan kebiasaan membakar kemenyan, baik pada acara ritual keagamaan maupun di malam Jum’at dan malam Selasa.

Padahal, tokoh-tokoh agama masih mempertahankan hal tersebut. Pada ritual-ritual keagamaan, sebutlah misalnya ketika acara Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani, acara maulid nabi, tahlilan, shalawatan dan lain-lain, kepulan asap dupa dengan aroma wangi yang sedap dicium hidung telah menyala sebelum acara dimulai.

Mungkin, pada anak muda muslim dan kaum muslim secara umum saat sekarang, di dalam hatinya ada keraguan soal legalitasnya, bid’ah, khurafat dan haram karena Nabi tidak pernah melakukannya. Tapi mungkin juga karena malas dan kemungkinan yang lain.

Bagaimana sebenarnya hukum bakar kemenyan atau dupa dalam setiap acara ritual keagamaan?

Ternyata, setelah ditelusuri, membakar dupa atau kemenyan saat maulid nabi, manaqiban, shalawatan dan ritual keagamaan yang lain, bukanlah sesuatu yang tanpa dasar.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Nasa’i diceritakan secara lugas dan jelas soal membakar kemenyan ini. “Apabila Ibnu Umar membakar dupa (istijmar), ia memakai uluwah murni, tanpa campuran, dan kadang memakai kapur yang dicampur uluwah. Kemudian beliau berkata, “seperti inilah Rasulullah beristijmar”.

Imam Nawawi dalam Syarah Nawawi ‘ala Muslim menjelaskan, maksud “istijmar” pada hadis tersebut adalah memakai wangi-wangian dari bukhur (dupa) dengan cara dibakar, atau dengan proses penguapan dan sebagainya. Dalam bahasa Arab, kata istijmar dipetik dari kata al Majmar yang memiliki arti bukhur atau dupa. Adapun uluwah menurut al Ashmu’i dan Abu Ubaidah dan seluruh pakar bahasa Arab menyatakan bahwa artinya adalah kayu dupa yang dibuat dupa.

Baca Juga:  Kaidah Fikih Cabang Kedua: Dhan (Dugaan Kuat) yang Ternyata Salah

Oleh karena itu, menurut Imam Nawawi, kesunnahan memakai wangi-wangian, termasuk istijmar bagi laki-laki ketika hendak shalat Jum’at, shalat Ied, saat akan menghadiri perkumpulan kaum muslimin, majlis dzikir dan majlis ilmu, memiliki legalitas dalil yang sangat kuat. Tidak diragukan lagi.

Dalam kitab Bulghatu al Thullab dijelaskan, bahwa membakar dupa atau kemenyan saat acara ritual keagamaan, seperti ketika berdzikir, membaca al Qur’an, majlis ilmu dan sebagainya sangat dianjurkan dan dalilnya sangat kuat. Terutama hadis Nabi yang menyatakan bahwa baginda Nabi sangat mencita aroma wangi dan bau harum. Dan, beliau sering memakainya.

Telah jelas, bahwa membakar dupa pada saat acara ritual keagamaan sangat dianjurkan. Dalilnya adalah hadis Nabi yang telah dijelaskan oleh Imam Nawawi di atas. Hal ini maklum, karena semua orang yang normal pasti menyukai semerbak wangi pembakaran dupa.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

kisah nabi

Ketika Nabi Melunakkan Hati Sahabat yang Cemburu karena Merasa Paling Islami

Alkisah, penaklukan Makkah atau lebih tren disebut “Fathu Mekah” berjalan tanpa aral lintang, nyaris tanpa …

petasan dari kertas al quran

Viral Petasan Berbahan Kertas Al-Qur’an, Catat Ini Hukumnya!

Tak berapa lama berselang, jagad maya dihebohkan oleh kasus petasan berbahan kertas Al-Qur’an. Respon publik …