moderasi beragama dalam al-quran
Alquran

Mempraktekkan Akhlak Al-Quran

Akhlak yang mulia adalah sebaik-baiknya sesuatu. Semulia-mulianya manusia adalah sebaik-baik akhlaknya. Sebagaimana misi kenabian utama Nabi Muhammad untuk penyempurna akhlak manusia. Nabi sendiri memerankan akhlak mulia dengan sangat sempurna seperti diapresiasi oleh al Qur’an (QS. al Qalam: 4). Oleh karena itu, beliau kemudiaan dijuluki sebagai penjelmaan dari al Qur’an.

Sayyidatina Aisyah pernah ditanya tentang akhlak Nabi. Ia menjawab, “Akhlak Rasulullah adalah al Qur’an”. (HR. Ahmad).

Al-Quran sejatinya bukan hanya sumber hukum, ilmu pengetahuan dan kekayaan kandungan lainnya. Tetapi hal paling penting al-Quran merupakan pedoman perilaku dalam berakhlak yang baik. Jika Rasulullah mempunyai misi menyempurnakan akhlak, al-Quran adalah sumber utama pembentukan akhlak.

Menuntut manusia untuk berakhlak seperti tuntutan al Qur’an supaya terjewantah di muka bumi ini keadilan Ilahi dan menyebar moral mulia yang digariskan Nabi. Sebab, hal ini yang kemudian membedakan manusia dengan binatang. Akhlak mulia yang digariskan al Qur’an akan menempatkan manusia pada derajat yang tinggi.

Untuk mempraktekkan akhlak dalam tuntutan al Qur’an, seorang tokoh besar berjuluk rajanya ulama, Syaikh ‘Izzuddin bin Abdissalam menjelaskan dalam kitabnya Syajaratul Ma’arif.

Secara garis besar akhlak dalam al Qur’an terbagi dalam dua kategori. Pertama, sejatinya manusia berakhlak mulia dengan memposisikan diri sebagai seorang hamba (khalifah). Berbudi pekerti selayaknya seorang hamba kepada tuannya. Seperti menghinakan diri, kepasrahan dan ketaatan. Kedua, berakhlak mulia dengan sebagian sifat-sifat yang dimiliki oleh Tuhan, seperti berbuat adil dan ihsan (kebaikan).

Menyebut sebagian dari sifat-sifat Tuhan karena ada sifat-sifat yang hanya khusus bagi-Nya dan tidak boleh dimiliki oleh manusia, diantaranya sifat keabadian dan tidak butuh kepada selain-Nya. Adapun sebagian sifat Tuhan yang boleh melekat dalam pribadi seseorang ada dua macam. Ada yang berupa akhlak mulia dan akhlak tercela.

Baca Juga:  Juru Dakwah yang (Tak) Berakhlak Karimah

Dalam wujud akhlak mulia antara lain dermawan, malu, bijaksana dan memenuhi janji-janji. Sedangkan seperti takabur, merasa paling besar dan sombong tidak boleh dilakukan. Karena kalau itu melekat dalam diri manusia akan mewujud menjadi akhlak yang tercela.

Pada saat manusia memiliki sifat-sifat Tuhan yang menuntunnya pada akhlak mulia, seperti kedermawanan, memiliki rasa malu, selalu bijaksana dan selalu menunaikan kewajibannya, ia menjadi manusia mulia dan diridhai Tuhan. Sementara setan sangat jengkel terhadapnya karena orang tersebut tidak berada dalam kekangan dan tipu dayanya.

Inilah akhlak mulia yang ditunjukkan oleh al Qur’an kepada manusia. Akhlak yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman dan orang-orang yang dekat kepada Allah. Tidak terbersit dalam jiwanya perasaan sombong, takabur, merasa paling agung dan paling benar. Akhlak mulia seperti tuntutan al Qur’an mendidik manusia untuk menghormati segala ciptaan Tuhan di muka bumi. Pada dirinya tumbuh kasih sayang kepada sesama makhluk. Ejawantah akhlak mulia seperti ini dipesankan oleh Baginda Nabi, “Siapa yang menyayangi mahluk di bumi, yang ada di langit akan menyayanginya”. (HR. Ahmad, Abu Daud dan Turmudzi).

Kerunyaman yang menimpa bangsa Indonesia saat ini, seperti suburnya persemaian paham radikalisme bersumber dari tercerabutnya moralitas sebagian masyarakat. Akhlak mulia yang diajarkan oleh al Qur’an dinafikan dan teladan akhlak mulia Nabi tidak dipraktekkan dalam keseharian. Untuk itu diperlukan kesadaran berakhlakul karimah ala al Qur’an. Walaupun tidak bisa secara keseluruhan, minimal sebagian.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

hadiah dari non muslim

Fikih Toleransi (5): Menerima Hadiah dari Non Muslim

Rasulullah adalah manusia paling sempurna dalam segala aspek kehidupannya; paling sempurna ibadahnya, pribadi yang paling …

hidangan non muslim

Fikih Toleransi (4) : Memakan Hidangan Non Muslim

Agama Islam membolehkan memakan makanan apa saja yang penting halal, demikian juga minuman. Maka, meskipun …