Ada sebuah quote masyarakat Maroko yang konon dipopulerkan pertama kali oleh Ibnu Khaldun (w. 1406 M) : ما دمت في المغرب فلا تستغرب وإذا رأيت الحمار يطير فإن الله على كل شيء قدير atau “Selama Anda di Maghrib (Maroko) maka jangan merasa Gharib (aneh), jika melihat keledai terbang niscaya Allah Maha Kuasa”. Negeri Kerajaan Maroko sejak dahulu terkenal memiliki banyak keunikan (aneh) dan itulah sebabnya – mungkin – negeri ini banyak didatangi oleh para petualang-petualang besar dunia dari dulu hingga sekarang.

Salah satu keunikan itu, adalah tidak jauh dari deretan nama-nama Rumah Sakit beken di Ibokota Rabat, seperti RS. Ibn Sina Universitaire, Syeikh Zaid Internatinal Hospital, Rumah Sakit Jiwa Ar-Razi, dan berbagai Klinik-Klinik Pengobatan pemerintah dan swasta, yang memiliki peralatan mutakhir di bidang medis, dan terbuka 24/24 jam setia hari melayani segala keluhan kesehatan masyarakat ibukota dan dari daerah-daerah lain di Maroko.

Namun, disamping itu semua tampak pula secara fenomenal berberapa Dhareh (Makam Wali) yang ramai pula dikunjungi oleh kelompok-kelompok masyarakat tertentu dengan tujuaan yang sama, yaitu untuk mencari penyembuhan (juga) dari berbagai keluhan kesehatan mereka, khususnya pada masa genting seperti penyebaran pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) saat ini.

Boleh jadi masyarakat mencari pengobatan alternatif pada makam-makam wali tersebut karena tidak menemukan pengobatan yang memuaskan atau dapat menyembuhkan penyakitnya pada Rumah Sakit beken dan modern yang ada. Bisa pula sebagian mereka tidak mampu menebus pengobatan di Rumah Sakit karena mahalnya biaya pengobatan yang harus dikeluarkan. Dan ada juga kelompok masyarakat khusus yang lebih memilih mendatangi makam wali dari pada rumah sakit karena ingin terapi khusus yang tidak disiapkan di rumah sakit di mana pun, seperti terapi dimudahkan jodohnya bagi perempuan yang sudah lama menununggu arjunanya.

Bahkan, ada juga sebagian masyarakat yang hanya sekedar datang ramai-ramai berziarah ke makam wali sebagai tradisi keluarga dan sekaligus untuk memohon pada keramat wali yang dimakamkan di daerahnya supaya kampungnya dijauhkan dari berbagai ancaman bahaya dan mala petaka. Mungkin, kalau seperti kondisi sekarang mereka akan memohon pada keramat ruh waliyullah agar bahaya penyebaran pandemi Covid-19 yang semakin meningkat di seluruh dunia segera di angkat dari negeri mereka dan negara-negara umat Islam lainnya. 

Rabat Destinasi Wisata Spiritual

Rabat adalah Ibukota administratif Kerajaan Maroko, semenjak dahulu kala, dikenal memiliki banyak peninggalan budaya kuno bernilai sejarah sebagai simbol ibukota kerajaan al-Alaoui (nisbat dari al-Hassan bin Ali bin Abu Thalib: cucu nabi SAW). Di antaranya adalah Benteng Oudaya, Challa, Tour Hassan. Begitu juga gapura-gapura (bab/pintu) kota yang unik, seperti Bab L’Ahad, Bab Rouah, serta dinding-dinging kokoh yang mengitari kota Rabat lainnya.

Namun, sedikit pengunjung kota Rabat yang menyadari bahwa di balik dinding-dinding raksasa tersebut terbaring puluhan jasad tokoh yang di sucikan oleh warga Maroko. Makam-makam wali tersebut telah dibangun/direnovasi oleh masyarakat kota Rabat dari zaman ke zaman dengan design khusus berbeda dengan makam orang-orang biasa.

Makam-makam wali itu mudah dikenali karena bangunannya yang esklusif, yaitu umumnya memiliki kubah dan hiasan-hiasan kaligrafi yang yang indah memenuhi kubah dan dinding-dinding makam. Masyarakat Maroko memperlakukan secara istimewa makam para wali tersebut, tidak lain karena penghormatan mereka pada pemilik makam yang dianggap suci.

Setiap makam wali yang ada di ibukota administratif kerajaan Maroko ini memiliki design dan corak berbeda-beda antara satu makam dengan makam yang lain. Tentu berbeda pula “keberkatannya”, yang dijadikan berkat dengannya oleh para peziarah yang mengunjunginya untuk memohonkan keinginan-keinginan pribadinya, atau ingin menyembuhkan penyakitnya yang mereka tidak mengharapkan kesembuhannya dari dokter-dokter ahli dibidangnya sekalipun.

Maka menjadilah makam-makam wali tersebut, dengan keberkatan yang dimilikinya, sebagai specialist-specialist pada penyakit/hajat tertentu bagi masyarakat. Dan setiap makam wali itu ada di ataranya yang mempunyai special mengobati jenis penyakit yang dihadapkan padanya. Yaitu sebagai pengobatan alternatif yang tidak mengeluarkan banyak biaya kecuali hanya menebus harga beberapa lilin dan kemenyan saja. Adapun makam-makam wali populer di Ibukota Rabat yang dapat disebutkan di sini di antaranya seperti makam-makam: (Sidi Al Yabourie, Sidi Al Arabi bin Assayeh, Sidi Al Qajirie, Sidi Bou Mojemir, Sidi Alhajj bin ‘Achir, Sidi Abdellah bin Hassun, Sidi Mousa, dll).

Masing-masing makam wali yang disebutkan di atas diziarahi pengunjungnya sebagai spesial-spesial: Meminta jodoh bagi perawan tua yang belum menikah; atau meminta keberuntungan bagi yang ingin kaya; atau memohon kesembuhan bagi yang sakit; atau meminta keselamatan dan mengusir pendemi; Dan atau setidaknya mereka berziarah sekedar untuk mendapatkan ketenteraman jiwa yang terkadang tidak didapatkan seseorang pada klinik-klinik specialist jiwa yang ber AC sekalipun.

Makam Sidi Yabourie di Ibu Kota Rabat

Khusus edisi ini penulis fokus pada makam Sidi al-Yabourie, pada kesempatan berkunjung ke Maroko beberapa bulan lalu, penulis berkesempatan melihat lebih dekat makam Waliyullah Sidi al-Yabourie yang dimakamkan tidak jauh dari Benteng bersejarah Oudaya. Persisnya tepi perairan Atlantik di ibukota Rabat. Waliyullah Terakhir ini bernama lengkap Abu Abdellah Mohamed aL-Yabourie, ia masa hidupnya seorang ulama besar bidang fiqhi, specialis perbandingan Mazhab.

Al-Yabourie bukanlah asli Maroko tapi ia dari Andalusia hijrah ke Rabat-Maroko, dan mendirikan Zaouiyah Algharbiyah di Salle. Salah satu muridnya yang terkenal adalah Sidi Alhajj bin ‘Achir yang dimakamkan di Salle. Meninggal di Rabat pada Abad ke-8 M. dan dimakamkan di sebuah tempat yang mencolok ke laut perairan Atlantik, serta telah menjadi tujuan ziarah masyarakat Rabat sepanjang masa.

Yang menarik dari makam Wali yang satu ini, seperti makam Lalla ‘Aisyah Bahria dan Sidi Molay Bouchouaib di Azemmour, yang telah penulis ceritakan sebelumnya, makam Sidi Al Yabourie yang berada di ibukota Rabat ini juga banyak diziarahi oleh pengunjung-pengunjung perempuan, terutama perawan tua yang ingin mendapatkan jodohnya yang sudah lama dinanti belum kunjung datang, atau perempuan yang datang untuk membuang sial, dan mengusir sihir yang melekat pada dirinya.

Para peziarah-peziarah perempuan akan mandi-mandi terlebih dahulu di laut dibawah makam Sidi al-Yabourie lalu membuang pakaian dalamannya yang dipakai mandi ke laut, dengan keyakinan mereka telah membuang sial serta segera mendapatkan Arjuna yang akan menikahinya.

Menurut salah seorang peziarah Malika (nama samaran), bahwa salah seorang teman perempuannya yang dahulu sering datang mandi-mandi di air makam Sidi al-Yabourie, khususnya setiap hari Rabu, dan tidak lama setelah itu – dengan berkat Sidi al-Yabourie – dia mendapatkan jodohnya seorang warga Maroko yang tingga di Perancis, dan kini keduanya telah hidup berbahagia bersama seorang buah hatinya di Perancis. Kata tantenya Malika (35), bahwa mandi-mandi dengan air “wali”, apalagi kalau cewek itu bisa masuk ke makam wali pada hari Rabu, ia akan terbebas dari sihir, kutukan perawan tua, dan akan terbuka jalan lebar dihadapan Arjuna pingitan menuju ke rumahnya untuk melamarnya karena cinta pada cewek itu.

Selain berkat mempertemukan jodoh, makam wali Sidi al-Yabourie ini juga dikenal sebagai special “pemutus keharmonisan”, yaitu bentuk sihir yang dapat membuat renggang hubungan antara pasangan suami-istri, maka pasangan tersebut akan kehilangan kasih sayang sehingga berakhir perceraian.

Masih banyak lagi yang lain makam-makam wali di ibukota Rabat ini yang menarik animo para peziarah berbondong-bondong mengunjunginya, terutama kaum perempuan yang umumnya tergolong tidak muda lagi. Makam-makam wali tersebut biasanya dijaga oleh seseorang yang bekerja membersihkan lokasi makam dengan imbalan hasil jualan lilin-lilin yang ditawarkannya pada para peziarah di depan pintu setiap makam.

Perilaku “tabrik” yang aneh dan tidak masuk akal pada makam wali oleh kelompok masyarakat tertentu tersebut masih saja berlangsung hingga era revolusi industri “For Point’ Zero” saat sekarang ini. Dan Anehnya lagi, orang-orang yang terbilang sudah modern sekali pun masih saja hobby mengunjungi makam wali dengan tujuan seperti di atas. Bahkan menurut seorang pakar sosial bahwa tradisi ini masih akan kita dapati sampai bertahun-tahun lagi ke depan, karena hal tersebut hasil yang sudah tertanam kedalam jiwa manusia-manusia itu semenjak dari bayi, yaitu budaya “mengkramatkan” makam wali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.