sahabat pemilik kurma
sahabat pemilik kurma

Mengenal Abu Dahdah : Sahabat Pemilik Kebun dengan Ratusan Batang Pohon Kurma

Pernah dengar nama sahabat Abu Dahdah?

Namanya adalah Tsabit bin Dahdah atau Dahdahah bin Nu’aim bin Ghanam bin Iyas Halif al-Anshar. Beliau adalah salah satu sahabat nabi yang terkenal kedermawanannya. Abu Dahdah merupakan pejuang Islam dan pengikut Rasulullah SAW. Beliau punya kebun dengan ratusan batang pohon kurma.

Satu ketika, ada dua orang bersengketa menemui Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam. Mereka berdua hidup bertetangga. Masalah pagar atau pembatas tanah yang dipersoalkan.

Yang satu hendak membangun pagar. Yang lain memiliki satu pohon kurma. Untuk mendirikan pagar, pohon kurma itu mesti dihilangkan. Pohon kurma itu sudah ditawar supaya dijual saja. Ia yang akan membeli. Namun ditolak.

 Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam berusaha menengahi dengan menjanjikan, ” Sudahlah, jual saja pohon kurma itu untuknya. Sebagai gantinya , engkau akan memiliki satu pohon kurma di surga”

Pemilik pohon kurma tetap enggan.

Mendengar hal itu, sahabat Abu Darda justru yang terpanggil.

Kepada pemilik pohon kurma, Abu Dahdah menawarkan, “Jual saja pohon kurma mu itu kepadaku, aku ganti dengan kebun kurma milikku”

Orang itu mau dan menerima tawaran Abu Dahdah. Disaksikan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, pohon kurma yang menghalangi pembangunan pagar itu dibeli oleh Abu Dahdah lantas diberikan kepada orang yang hendak membangun pagar.

Sementara kebun milik Abu Dahdah yang berisi ratusan pohon kurma diberikan kepada si pemilik pohon kurma.

Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam lantas memuji berulang-ulang ;

كَمْ مِنْ عِذْقٍ رَدَاحٍ لِأَبِي الدَّحْدَاحِ فِي الْجَنَّةِ

Artinya : “Alangkah banyak tandan penuh kurma milik Abu Dahdah di surga” (HR Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah No.2964)

Baca Juga:  Fikih Nusantara (25): Kitab Bidayah al Mubtadi wa 'Umdatu al Aulad

Motivasi di Perang Uhud

Diriwayatkan oleh al-Waqidi dari Abdullah bin Amir, ia berkata bahwa Tsabit bin ad-Dahdah berkata di Perang Uhud saat kaum muslimin tengah porak-poranda barisannya, “Hai orang-orang Anshar, dengarkan aku. Dengarkan aku. Kalau Muhammad telah terbunuh, maka Allah Maha Hidup tidak akan pernah mati. Berperanglah untuk agama kalian!!”

Tergugahlah beberapa orang dari Anshar. Mereka berangkat bersama Abu Dahdah. Saat itu, tibalah divisi pasukan lengkap, yang di dalamnya terdapat Khalid bin al-Walid, Amr bin al-Ash, dan Ikrimah. Khalid bin al-Walid menembakkan tombaknya dan berhasil membunuh Abu Dahdah. Dan ia pun berhasil membunuh orang-orang yang bersamanya.

Wafatnya

Abu Dahdah gugur di Perang Uhud pada tahun 3 H. Ia syahid dihantam tombak Khalid bin al-Walid. Ada pula yang mengatakan ia wafat di rumahnya. Sepulangnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Perjanjian Hudaibiyah tahun 6 H.

Saat ia wafat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Ashim bin Adi dan berkata, “Apakah ia masih kerabat kalian”? Ia menjawab, “Bukan.” Lalu harta warisnya diberikan kepada anak dari saudari perempuannya. Yaitu Abu Lubabah bin al-Mundzir.

Diriwayatkan dari jalur Uqail, dari Ibnu Syihab secara mursal. Tsabit bin ad-Dahdah kun-yahnya adalah Abu Dahdah. Ia wafat saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup.

Disebutkan dalam biografinya bahwa ia terluka di Perang Uhud. Ada yang berpendapat ia wafat di Perang Uhud karena luka tersebut. Ada pula yang mengatakan ia wafat beberapa saat setelah Perang Uhud. Inilah pendapat yang kuat.

Bagikan Artikel ini:

About Diah Nuruddiniah

Avatar of Diah Nuruddiniah
Alumni STIBA Ar-Raayah Sukabumi, Mahasiswi PTIQ Program Master Pendidikan Islam

Check Also

tidak takut corona

Ketika Wabah Tak Kunjung Punah, Inilah pelajaran dan Hikmah yang Harus Diambil

Beginilah seorang muslim menyikapi wabah yang tak kunjung punah, yang kerap membuat penduduk bumi panik …

corona mahkluk allah

Corona adalah Makhluk Allah, Bagaimana Muslim Menyikapinya

Pada dasarnya virus corona adalah salah salah satu makhluk Allah yang diciptakan pasti dengan hikmah …