Mengenal Singa Allah: Hamzah bin Abdul Muthalib

0
632

Hamzah bin Abdul Muthalib merupakan sahabat, paman serta saudara sepersusuan Nabi Muhammad. Usia Hamzah lebih tua dua tahun dari Rasulullah. Ia memiliki perawakan yang gagah serta wajah yang rupawan.

Sejak kecil Rasulullah diasuh oleh kakeknya yakni Abdul Munthalib. Setelah sang kakek meninggal, hak asuh diberikan kepada pamannya Abu Thalib yang juga kakak dari Hamzah.

Sejak kecil Hamzah menyukai permainan memanah, menombak dan bermain pedang-pedangan. Karena kegemarannya inilah yang membuat hamzah menyukai kegiatan berburu binatang ketika Ia sudah mulai beranjak dewasa.

Keislaman Hamzah

Di kota Makkah, Hamzah bin Abdul Muthalib dikenal sebagai pria yang gagah, tampan serta memiliki sifat serta akhlak yang mulia. Beliau suka membantu dan menolong sesama terlebih kepada kaum fakir miskin.

Kali pertama Rasulullah berdakwah di kota Makkah, Hamzah sama sekali tidak memperdulikan ajaran Rasul. Cobaan serta cacian dari para penduduk Makkah kepada Rasulullah pun sama sekali tidak Ia perdulikan.

Namun suatu hari ketika Hamzah pulang berburu, ia bertemu dengan seorang budak milik Abdullah bin Jad’an. Budak itupun menemui seraya bercerita kepada Hamzah tentang kejadian yang dia lihat di bukit Shafa sebelum ia bertemu dengan Hamzah.

Budak itupun berkata, “Wahai Hamzah, andai engkau mendengar seperti yang aku dengar ucapan Abu Jahal terhadap ponakanmu (Muhammad). Andai engkau melihat penyerangan yang ia lakukan terhadap ponakanmu, sungguh engkau akan melakukan sesuatu.”

Kali ini ucapan budak itu benar-benar membuat Hamzah terdiam. Cerita dari budak itu benar-benar membuat ia marah terhadap Abu Jahal. Tanpa berfikir panjang, Hamzah pun bergegas menuju bukit Shafa dengan penuh dengan kemarahan.

Di bukit Shafa, dia langsung menghampiri Abu Jahal. Tanpa banyak bicara, Hamzah  langsung memukul Abu Jahal hingga kepalanya bercucuran darah. Seketika itu pula Hamzah mengumumkan ke-Islamannya dihadapan semua orang yang ada di sana. Hamzah berkata, “Apakah kamu mencaci makinya sedangkan aku memeluk agamanya (Islam). Aku mengucapkan seperti yang ia ucapkan (Rasulullah). Halangi aku jika kalian mampu.”

Setelah kejadian tersebut, banyak kaum kafir Quraisy yang selama ini banyak mengganggu dahwah Rasulullah merasa lebih berhati-hati, karena keislaman Hamzah yang  selama ini mereka takuti dan segani.

Para budak serta kaum lemah lainnya mulai berbondong-bondong mengikuti ajaran Rasulullah. Padahal dahulunya mereka ingin menjadi muslim, namun rasa takut atas siksaan para kafir Quraisy membuat mereka tidak berani memeluk agama Islam. Hamzah membawa energi keberanian bagi mereka yang sembunyi-sembunyi mengidam kebenaran Islam.

Melihat kejadian itu, tentunya membuat para orang musyrik tidak tinggal diam. Mereka mulai menyiksa sebagian sahabat Rasulullah yang lemah. Pada akhirnya Rasulullah memutuskan untuk berhijrah ke Madinah demi mendapatkan ketenangan dan dapat menyebarkan islam secara leluasa di Madinah.

Singa Allah di Medan Perang

Kafir Quraisy mulai terusik dengan tersebarnya Islam ke berbagai penjuru, mereka mulai mengumpulkan pasukan untuk menyerang Madinah. Mereka menyiapkan setidaknya 1000 pasukan untuk berperang di kota Badar.

Perang Badar terjadi tepat pada bulan Ramadan. Dalam pertempuran ini keberanian dan kehebatan Hamzah benar-benar terlihat oleh para kafir Quraisy. Ada rasa takut yang mereka rasakan, ketika mereka melihat Hamzah berperang layaknya Singa yang sedang kelaparan.

Kebencian seorang kafir bernama Aswad bin Abdul Asad membuat dia nekat maju di hadapan Hamzah seraya berkata, “Saya bersumpah, sungguh saya akan minum dari telaga yang dikuasai Islam itu.” Setelah tiba dia di dekat telaga, seketika Hamzah menghunuskan pedangnya ke kepada Aswad.

Melihat Aswad mati, Utbah bin Rabiah, Syaibah bin Rabiah dan Walid bin Utbah memasuki medan pertempuran. Ketika itu Ali bin Abi Thalib untuk melawan Walid bin Utbah. Hamzah melawan Syaibah bin Rabiah dan Ubaidah bin Harits melawan Utbah bin Rabiah.

Tanpa waktu lama, Hamzah dengan mudah membunuh lawannya. Begitu juga Ali dan Ubaidah yang juga berhasil membunuh lawannya.

Hamzah bertempur seperti singa yang kelaparan. Dengan gagah dan lincah Pedangnya dihunuskan kepada tentara kafir. Banyak dari tokoh kafir serta tentaranya yang mati pada Perang Badar. Berita kekalahan itu terdengar oleh penduduk Makkah yang membuat mereka marah besar dan akan membalas dendam.

Akibat kekalahan itu membuat orang kafir ini memiliki dendam terhadap Hamzah yang telah banyak membunuh bagian dari mereka. Abu Sufyan mulai mengerahkan pasukan lebih banyak dari perang Badar serta menyewa seorang budak bernama Wahsyi. Ia seorang budak yang pandai melempar tombak, ia ditugaskan untuk menyelinap dalam pertempuran untuk membunuh Hamzah. Sebagai gantinya mereka menjanjikannya sebuah kemerdekaan bagi dirinya.

Menjadi Syahid

Perang Uhud bagian episode balas dendam kafir Qurasy. Perang ini dipimpin oleh Abu sufyan dari kalangan kaum kafr Quraisy dan Nabi Muhammad dari kalangan muslimin. Di tengah pertempuran kali ini dikabarkan oleh para kafir bahwa Rasulullah terbunuh. Kesedihan serta frustasi mulai mereka rasakan.

Akhirnya banyak sahabat yang memilih mundur karena bersedih dan kehilangan semangatnya. Tetapi Hamzah terus maju seraya berkata, “Saya adalah singa Allah dalam medan pertempuran, saya singa Allah.” Sontak hal ini membuat para sahabat kembali menemukan semangatnya di tengah kesedihan mereka.

Tanpa Hamzah sadari, dari kejauhan Wahsyi mulai mengawasi pergerakan Hamzah. Ia mempelajari setiap gerakannya dan mencari posisi yang tepat untuk membunuhnya. Setelah dirasa posisinya cukup maka Wahsyi pun melempar tombaknya ke tubuh Hamzah. Lemparannya mengenai tubuh Hamzah dan ia pun terjatuh. Hamzah sang pemberani gugur sebagai syahid.

Berita terbunuhnya Hamzah tersiar di kalangan musuh. Istri Abu Sufyan yang kehilangan paman serta saudaranya dalam perang Badarpun bergegas mencari tubuh Hamzah, setelah ia menemukan tubuh hamzah, lantas ia memotong hidung serta kuping Hamzah, kemudian iapun membelah perut Hamzah dan mengambil jantungnya. Diapun mulai mengunyah jantung Sang Singa Allah. Rasa senang karena dendamnya terbalaskan.

Ketika perang Uhud berakhir, Rasulullah berkeliling ke daerah pertempuran terkejutnya beliau melihat tubuh Hamzah yang terbunuh secara tragis. Air mata beliau mengalir karena wafatnya paman yang Beliau sangat cintai. Pada hari itu Madinah dipenuhi dengan kesedihan. Mereka kehilangan Sang Singa Allah yang pemberani.