Yusu Al-Makassary

Mengenal Sufi Nusantara; Syekh Yusuf al-Makassari

Sepanjang gelombang dakwah Islam di tanah Nusantara, peran ulama-ulama Nusantara sangatlah besar dalam menyebarkan ajaran Islam. Itu berarti bahwa umat muslim di Indonesia bukan saja kaum pinggiran melainkan juga memiliki peran penting dalam panggung sejarah penyebaran Islam di tanahnya sendiri. Tentu tidak dapat dipungkiri bahwa Islam di Nusantara juga berhubungan dengan peran para ulama dari berbagai dunia.

Salah satu penghubung penting hubungan umat Islam Nusantara dengan umat Islam di dunia khususnya di Haramayn (Makkah dan Madinah) adalah ibadah Haji. Selain untuk melaksanakan ibadah Haji, umat Islam Nusantara yang berangkat ke Tanah Suci juga menetap lama di Haramayn untuk menimba ilmu dengan berbagai guru dari penjuru dunia lain.

Seperti misalnya jaringan ulama Nusantara dengan para uama di Jazirah Arab yang terjalin kuat karena proses semacam ini. Jaringan ulama dengan proses yang demikian itu yang akhirnya memunculkan ulama-ulama Nusantara yang amat tersohor seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin ar-Raniri, Abdurauf as-Singkili, Abdushamad al-Palimbani, Arsyad al-Banjari dan juga Yusuf al-Makassari, dan tentu masih banyak lagi.

Setelah kemarin kita berkenalan dengan Syekh Arsyad al-Banjari pada artikel saya Mengenal Sufi Nusantara dari Tanah Banjar; Syekh  Arsyad al-Banjari kali ini kita akan berkenalan dengan Syekh Yusuf al-Makassari.

Biografi Singkat

Lahir di Gowa pada tahun 1627, Muhammad Yusuf bin Abdullah Abu al-Mahasin al-Taj al-Khalwati al-Makassari tumbuh di lingkungan dengan pendidikan agama yang kental. Sebagian pembaca mungkin mengalami fase menyenangkan saat masih bocah yang hidup di desa, yang setiap magrib berangkat mengaji al-Qur’an kepada kiai kampung setempat, begitu juga dengan Syekh  Yusuf. Kepada kiai setempat, Daeng ri Tasammang-lah Syekh  Yusuf belajar membaca al-Qur’an. Selain itu, Syekh  Yusuf juga belajar bahasa Arab, belajar fiqih, tauhid, dan tasawuf dari gurunya Sayid Ba’Alawi bin Abdullah al-‘Allamah at-Thahir di Bontala hingga pada usia 15 tahun Syekh  Yusuf berguru dengan ulama tersohor di Cikoang, yakni Jalaluddin al-Aydid.

Baca Juga:  Syifa al Adawiyah: Intelektual Perempuan di Masa Rasulullah

Seperti Syekh  Arsyad juga ulama tersohor lainnya, setelah menikah dengan Sitti Daeng putri dari Sultan Gowa, semangat Syekh  Yusuf untuk terus menimba ilmu sedikitpun tidak meredup. Makassar saat itu yang menjadi kota pelabuhan terpenting di Nusantara memudahkan perjalanan Syekh  Yusuf untuk meneruskan pengembaraannya.

Silsilah Keilmuan

Tahun 1645 Syekh  Yusuf memulai pengembaraannya ke berbagai wilayah di dunia diawali ke wilayah Bantam (Banten). Kesultanan Banten yang saat itu dipimpin oleh Sultan Abu al-Mafakhir ‘Abdul Qadir (1626-1651) yang terkenal sebagai penguasa yang memiliki minat besar pada ilmu-ilmu agama mencapai kemajuan di bidang ekonomi dan politik.

Selain maju pesat dalam bidang ekonomi dan politik, kedekatan hubungan Sultan Banten dengan penguasa Mekkah, Raja Syarif Jahed menjadi salah satu faktor Kesultanan Banten saat itu juga menjadi salah satu pusat keilmuan Islam di tanah Nusantara.

Setelah menimba ilmu di tanah Banten dan berkawan baik dengan cucu Sultan Banten, Pangeran Dipati (Sultan Ageng Tirtayasa) dan gurunya Syaikh Muhammad Jilani bin Hasan bin Muhammad Hamid al- Raniri yang tidak lain adalah paman daru Nuruddin al-Raniri, Syaikh Yusuf melanjutkan pengembaraannya ke Yaman.

Selain menerima ijazah tarekat Assadah al-Ba’alawiyah dari Sayid Ali al-Zabidi, Syekh  Yusuf juga berguru kepada Muhammad bin Abdul Baqi al-Naqsabandi sekaligus menerima ijazah tarekat Naqsyabandiyah sampai pada pengembaraan itu membawa Syekh  Yusuf sampai di tanah pusat keilmuan yakni Makkah dan Madinah.

Seperti banyak kiprah ulama Nusantara yang menimba ilmu ke tanah Mekkah, mereka tidak saja belajar untuk dirinya sendiri melainkan juga berbagi ilmu dengan mengajarkannya kembali di masjid-masjid atau madrasah-madrasah, begitu juga dengan Syekh  Yusuf. Beberapa muridnya adalah para jama’ah haji dan orang-orang Jawi (sebutan untuk orang indonesia) di Haramayn. Beberapa diantaranya adalah Abdul Basyir ad-Dharir dari Rappang yang dikemudian hari menjadi penyebar tarekat Naqsyabandiyah dan Khalwatiyah di wilayah Sumatera Selatan.

Baca Juga:  Muhammad Abduh dan Kontribusinya dalam Pembaruan Islam

Selama belajar di Haramayn, Syekh Yusuf berguru dengan para ulama-ulama yang dikemudian hari menjadi ulama tersohor di tanah Nusantara seperti Abdurrauf as-Singkili yang kemudian menjadi mufti di Kesultanan Aceh. Selain itu, Syekh  Yusuf juga berguru kepada Ibrahim al-Kurani, Ahmad Qusyasyi, dan Hasan al- Ajami dalam berbagai bidang keilmuan seperti tasawuf, hadist, tafsir, fiqih, dan lainnya.

Dalam persoalan tasawuf, Syekh  Yusuf memberikan penekanan pada persoalan syariat dalam kehidupan sebagaimana gurunya, Ibrahim al-Kurani. Dalam menekankan pentingnya syariat dan hakikat yang saling tidak terpisahkan dalam menempuh perjalanan hidup, Syekh  Yusuf mewanti-wanti agar setiap manusia membentengi diri agar tidak terjerumus ke dalam kesesatan.

Dalam kitab Sirru al Asrar yang ditulis oleh Syaikh Yusuf menjelaskan bahwa kekufuran dapat terjadi ketika seseorang berpaham al-ibahah, yakni anggapan yang menafikkan selamanya bahwa tidak ada larangan dan keharaman pada suatu apapun karena semua yang terjadi adalah atas takdir Allah. Paham al-ibahah ini juga bertentangan dengan paham ahlus sunnah wal jama’ah.

Dalam kitabnya Zubdat al-Asrar, Syekh  Yusuf juga menjelaskan tentang bagaimana pemahaman para ahlus sunnah wal jama’ah dalam menerima takdir dan qada Allah. Meski dengan ikhlas menerima takdir dan qada Allah, para ahlus sunnah wal jama’ah tidak menjadikannya alasan dan pembenaran untuk berbuat maksiat. “Sebab, dikatakan dalam Zubdat al-Asrar bahwa menerima qada adalah wajib, bukan rida dengan yang ditakdirkan seperti maksiat, sebab rida dengan maksiat itu adalah kufur”.

Untuk menempuh jalan tasawuf, menurut Syekh  Yusuf, seseorang harus memiliki kesetiaan penuh baik secara lahir maupun batin terhadap segala hukum dan doktrin Islam. Baginya, orang yang bersandar dan mengamalkan syariat jauh lebih baik daripada orang yang mengamalkan tasawuf namun mengabaikan ajaran hukum Islam. Bahkan, Syekh  Yusuf melabeli seseorang sebagai zindiq dan mulhid (sesat) jika merasa bisa dekat dengan Allah tanpa harus melakukan ritual ibadah seperti shalat dan puasa. Sebab, baginya untuk mendekat dengan Allah seseorang setidaknya melakukan shalat, puasa, membaca al-Qur’an dan mengamalkan hadist.

Baca Juga:  Shalahuddin al-Ayyubi: Sultan Sekaligus Ilmuan

Kiprah di Nusantara

Setelah dari Damaskus dan Suriah sebagai tempat terakhir pengembaraannya selama di Jazirah Arab, Syekh  Yusuf kembali ke Nusantara, pada tahun 1664 atau kisaran 1672 yang menurut Buya Hamka, Syekh  Yusuf telah sampai di Gowa, Sulawesi Selatan. Namun, Syekh  Yusuf menerima kenyataan pahit karena banyak masyarakat Gowa tidak lagi melaksanakan ajaran Islam dengan baik setelah Kasultanan Gowa dan Tallo jatuh ke tangan VOC.

Singkat cerita, Syekh  Yusuf akhirnya bertolak ke Banten dan menemui sahabatnya dulu, Pangeran Dipati (Sultan Ageng Tirtayasa) yang saat itu telah menjadi Sultan Banten (1651-1683). Setelah sampai di Banten, Syekh  Yusuf pun menikah dengan putri Sultan dan menduduki posisi mufti di Kesultanan Banten.

Di masa penjajahan, Syekh  Yusuf melalu banyak perjuangan, melakukan gerilya melawan VOC dan melalui beberapa kali pengasingan juga hingga melahirkan banyak karya-karya seperti al- Barakat al Saylaniyah, Nafhat al Saylaniyah, Kafiyat al Mughni fi al-Itsbat bi al-Hadits al-Qudsi dan masih banyak lagi setidaknya ada 29 karyanya. Syekh  Yusuf kemudian wafat pada 22 Dzulqaidah 1111 H/ 22 Mei 1699 dan beberapa literature sepakat bahwa Syaikh Yusuf dimakamkan di Faure, Afrika Selatan.

Bagikan Artikel

About S. Fitriatul Maratul Ulya

S. Fitriatul Maratul Ulya
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia sekaligus Pengurus PMII Cabang Kota Semarang Periode XXXVIII